Induksi Alami yang Kontroversial

By Febi Purnamasari | Published 21st September 2018

Contoh induksi alami yang dipercaya oleh masyarakat kita, namun belum teruji secara ilmiah (Dok. Pixabay)

Due date alias hari perkiraan lahir sudah lewat, tapi kok belum ada tanda-tanda si bayi mau keluar ya? Biasanya, pada masa-masa ini tenaga medis menganjurkan bumil untuk perbanyak berjalan kaki, senam hamil, dan berhubungan seks sebagai Induksi Alami untuk Mempercepat Persalinan.

Tapi, seringkali kita menerima berbagai saran di luar sana untuk mempercepat persalinan. Memang sih, belum teruji secara ilmiah. Beberapa diantaranya malah diperdebatkan karena kontroversial. Apa sajakah itu?

Stimulasi payudara

Sebagian orang percaya stimulasi payudara sebagai induksi alami. Misalnya dengan memijat payudara atau memilin puting dengan lembut. Salah satu ‘teori’ yang mendasari kepercayaan ini adalah stimulasi payudara dapat membuat tubuh ibu memproduksi hormon oksitosin yang dapat merangsang kontraksi.

Namun, menurut What To Expect, situs kehamilan dan parenting, para dokter tidak menganjurkan cara ini. Soalnya, stimulasi payudara justru dapat menyebabkan kontraksi rahim yang kuat, panjang, dan menyakitkan. Hal itu pula yang dikhawatirkan dapat melemahkan detak jantung si janin.

Menyantap makanan pedas

Makanan pedas kerap kali dianjurkan untuk bumil yang sedang menunggu persalinan. Banyak pula ibu yang mengaku merasakan ‘kemanjurannya.’ Namun, menurut situs BabyCenter, hal tersebut lebih berdasarkan testimoni ketimbang bukti ilmiah.

Banyak orang beranggapan, rasa pedas dapat menstimulasi usus sehingga merangsang rahim ibu untuk memulai persalinan. Namun, Baby Center menekankan bahwa ‘teori’ tersebut tidak berdasarkan bukti ilmiah.

Tapi, kalau bumil ingin mencobanya, silakan saja. Bagi kamu yang tak terbiasa, hati-hati, ya. Soalnya, makanan pedas bisa membuat Ibu sakit perut atau mengalami heartburn (rasa panas dalam perut). Apalagi, ibu hamil rentan dengan heartburn.

Menikmati durian

Cara ini mungkin yang paling sering dianjurkan untuk menginduksi persalinan secara alami dan mungkin paling favorit (bagi bumil yang suka tentunya). Terlebih, menurut Spesialis Pengobatan Janin Patrick Chia seperti dilansir BabyCenter, durian memberikan manfaat antioksidan karena mengandung organo-sulphur dan tryptophan.

Durian juga memiliki khasiat antibakteri, antimikroba, dan antijamur yang menurut Chia, mungkin saja bermanfaat bagi kehamilan. Meski begitu, belum ada studi ilmiah yang menguji keamanan konsumsi durian selama kehamilan.

Ingat, durian juga tinggi kandungan karbohidrat dan gula. Selain itu, dua biji durian berukuran sedang mengandung 60 kalori. Karena itulah, durian termasuk penganan yang mengandung glikemik tinggi. Ibu hamil dengan penyakit diabetes gestasional harus menghindari buah ini, ya.

Makan nanas

Masih menurut situs BabyCenter, makan nanas bisa saja menjadi alternatif induksi alami karena mengandung enzim bromelain yang dapat melembutkan serviks dan memicu persalinan. Tapi syaratnya, nanas harus dimakan dalam jumlah yang banyak! Eksperimen tabung reaksi menggunakan ekstrak nanas terkonsentrasi mendukung hal tersebut secara teori.

Jadi, beda ceritanya kalau nanas disantap dalam jumlah yang jauh lebih sedikit saja karena tidak akan memicu persalinan. BabyCenter mengungkapkan, satu buah nanas mengandung sangat sedikit bromelain. Kamu pun harus menyantap sebanyak delapan nanas untuk mendapatkan khasiat induksi alami. Rasanya enggak mungkin makan sebanyak itu, kan? Bisa-bisa bumil malah mengalami gangguan pencernaan yang diikuti diare!

Teori lainnya sama seperti mengonsumsi makanan pedas, yakni makan nanas bisa merangsang pencernaan bumil sehingga merangsang kontraksi rahim. Tapi sekali lagi, belum ada studi ilmiah yang membuktikannya.

Kalau bumil tetap ingin mencobanya, pilihlah nanas yang segar, bukan dalam kaleng. Soalnya, enzim bromelain justru hancur bila diawetkan atau dijus untuk penyimpanan yang lama. Jadi, makanlah nanas utuh yang telah dikupas dan utamakan bagian tengahnya karena memiliki kandungan bromelain terbanyak.

(Febi/Dok. Pixabay)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.