Apakah Still Birth itu?

By Rolen Ria | Published 11th June 2019

Apakah kamu familiar dengan istilah still birth? Parentalk sempat berbincang dengan Martha Diannovita atau akrab dipanggil Novi Soe yang mengalami still birth pada Januari 2019. Yuk, cari tahu lebih lanjut tentang kondisi ini.

Menurut dokter kandungan, sebenarnya apa yang dimaksud dengan still birth ?

Novi Soe: Sejujurnya dokter kandungan saya tidak begitu menjelaskan definisi still birth lebih jauh. Namun definisi dari still birth sendiri adalah saat bayi dilahirkan dalam keadaan meninggal atau tidak bernyawa setelah minggu ke-20 kehamilan. Dan apabila di bawah 20 minggu masuk dalam kategori keguguran.

Pada usia kandungan ke berapa still birth terjadi dan apa penyebabnya?

Novi Soe: Saya mengalami still birth pada usia kehamilan 36 minggu. Seharusnya saya sudah dijadwalkan untuk operasi caesar pada usia kehamilan 39 minggu atau 3 minggu kemudian. Menurut pemeriksaan dokter, kondisi kehamilan saya selama ini termasuk sangat sehat dan tidak ada masalah.

Saya tidak pernah sakit selama hamil dan selalu mengonsumsi makanan minuman sehat. Satu-satunya kondisi yang perlu diwaspadai selama proses kehamilan ini adalah posisi plasenta saya yang berada di bawah (plasenta previa). Namun hingga sebelum saya mengalami still birth, menurut dokter tidak ada yang perlu dikhawatirkan terkait plasenta previa tersebut.

Bagaimana kronologisnya saat terjadi still birth?

Novi Soe: Saya mengalami still birth pada 25 Januari 2019. Siang hari sekitar pukul 2, saya mulai merasa gerakan janin tidak seaktif biasanya. Tidak ada tendangan atau gerakan kencang. Tapi saya tidak berpikir macam-macam. Karena pengalaman di kehamilan pertama, saat usia kehamilan besar bayi memang tidak terlalu aktif bergerak. Jadi saya tetap berkegiatan. Bahkan pukul 5-7 sore saya sempat ke Pondok Indah Mall bersama anak pertama saya. 

Karena merasa pergerakan tetap samar, akhirnya saya langsung menuju RS Puri Cinere untuk pemeriksaan. Sesampainya di rumah sakit sekitar jam 8 malam, saya langsung di-CTG untuk pemeriksaan jantung saya dan bayi. Dan didapati denyut jantung bayi 100x/menit, dimana kondisi normalnya adalah sekitar 140x/menit.

Selanjutnya saya langsung dibawa ke dokter kandungan saya, Dr. Waluyo Turatmo Sp.OG. yang melihat hasil pemeriksaan CTG adalah gawat janin. Dokter kemudian melakukan USG dan mendapati denyut jantung bayi tidak berdetak, menandakan bahwa bayi telah tiada. Tetapi terlihat di dekat pangkal tali pusat masih terdapat denyut yang agak lemah. Dokter langsung menyarankan operasi caesar dengan kemungkinan tingkat keberhasilan bayi hidup kecil.

Akhirnya hampir 2 jam kemudian sekitar pukul 10 malam, karena berbagai faktor seperti pengurusan administrasi hingga menunggu dokter anestesi, saya baru menjalani operasi caesar. Saat itu didapati bayi dalam keadaan maserasi tingkat I. Dengan kemungkinan bayi telah tiada lebih kurang 4 jam sebelum operasi dilakukan.

Selesai operasi, pada saat pihak keluarga dan suami saya menanyakan kepada dokter, kami sangat kecewa ketika Dokter Waluyo mengatakan tidak tahu penyebab pasti kematian bayi saya. Dokter menjelaskan bahwa semua kondisi plasenta baik, tidak ada yang terlipat, terpilin atau tersumbat. Air ketuban baik dan jernih, kondisi bayi juga bersih. Bisa dibayangkan kesedihan kami mengetahui bayi kami meninggal tanpa penyebab yang jelas.

Apakah pada akhirnya ditemukan penyebab dari still birth?

Novi Soe: Saat kami periksa kontrol seminggu kemudian, dokter mengatakan beberapa kemungkinan penyebabnya. Diantaranya kemungkinan terjadinya pembekuan darah, infeksi yang tidak terdeteksi, serta faktor usia yang dapat mempengaruhi tekanan darah.

Apakah Novi atau keluarga pernah mengalami still birth sebelumnya?

Indikasi terkuat adalah faktor usia saya yang sudah 39 tahun. Sehingga dapat mengakibatkan tekanan darah naik tiba-tiba dan berakibat janin meninggal. Namun patut dicatat, bahwa selama pemeriksaan kehamilan tekanan darah saya dalam kondisi normal. Demikian juga selama hidup saya tidak pernah memiliki catatan darah tinggi, malah tekanan darah saya cenderung rendah.

Novi Soe: Tidak pernah. Di keluarga saya juga tidak pernah ada riwayat still birth.

Bagaimana akhirnya dokter mendiagnosis bayi Novi mengalami still birth? Metode atau alat apa yang dokter gunakan? 

Novi Soe: Menurut saya, Dokter Waluyo hanya mengira-ngira saja. Karena tidak dilakukan autopsi atau pemeriksaan darah lebih lanjut setelah kejadian tersebut. Metode atau alat terakhir yang digunakan hanya USG yang mendeteksi bahwa jantung bayi saya sudah tidak berdetak lagi.

Bagaimana kondisi bayi sesaat setelah pengeluaran dan apa saja penanganan setelahnya?

Novi Soe: Kondisi bayi dinyatakan dalam keadaan maserasi tingkat I dengan kemungkinan bahwa bayi telah tiada lebih kurang 4 jam sebelum operasi dilakukan. Tidak dilakukan penanganan lebih lanjut karena keluarga langsung memproses untuk pemakaman.

Apakah still birth bisa dicegah? Jika ya, bagaimana caranya?

Novi Soe: Saya kurang tahu apakah still birth bisa dicegah. Mungkin bisa tanya lebih lanjut ke dokter yang bisa menjelaskan. Kalau dari hasil penelusuran saya, penyebab still birth bisa karena adanya cacat lahir, masalah tali pusar, masalah plasenta, kondisi ibu diabetes atau tekanan darah tinggi, pembatasan pertumbuhan, kurang nutrisi, infeksi selama kehamilan, paparan terhadap agen lingkungan (pestisida atau karbon monoksida) serta riwayat pribadi atau keluarga terkait kondisi pembekuan darah.

Mungkin ada beberapa hal yang bisa lebih diwaspadai bila kondisinya sudah diketahui selama awal kehamilan. Misalnya bila si ibu ada masalah diabetes atau tekanan darah tinggi tentu dokter bisa memberikan obat-obatan untuk mencegah risiko. 

Kalau saya pribadi merasakan perlunya second opinion untuk memilih dokter lain pada saat kita menjalani proses kehamilan yang berisiko. Seperti pada saya misalnya karena usia saya yang sudah di atas 35 tahun dan adanya masalah plasenta. Saya cukup kecewa karena pada saat kehamilan saya, dokter saya sama sekali tidak menyinggung adanya kemungkinan still birth. Dan terkesan menggampangkan segala sesuatunya, seperti tidak perlunya saya melakukan USG 4D. Menurut saya second opinion dokter serta pemeriksaan janin yang lebih intensif sangat diperlukan dalam kondisi kehamilan seperti ini.

Share This: