Move On dari Pengalaman Keguguran

By Rolen Ria | Published 3rd March 2019

Menurut U.S National Library of Medicine, 15% sampai 20% kehamilan berakhir dengan keguguran (Dok. SHutterstock)

Menurut US National Library of Medicine, 15-20% kehamilan berakhir dengan keguguran. Pengalaman keguguran pun menjadi hal yang sulit untuk diceritakan meski dengan sesama wanita. Ini karena keguguran menyebabkan perasaan kehilangan yang sangat mendalam dan personal.

Berikut adalah hal yang dapat kamu lakukan untuk move on dari pengalaman keguguran.

Menangani perasaan bersalah

Keguguran bukanlah peristiwa yang terjadi akibat kesalahan dirimu. Kondisi biologis tubuhlah yang mengatur proses kehamilan. Jadi, buang jauh-jauh perasaan menyalahkan diri sendiri.

Bantu pasangan melaluinya

Suami menghadapi pengalaman keguguran dengan cara yang berbeda dengan sang istri. Hindari menyalahkan cara suami menghadapi proses ini. Ketika suami tidak menangis atau terlihat depresi, itu bukan berarti ia tidak peduli dan perhatian dengan istrinya.

Berprasangka baik pada suami

Pertanyaan umumnya adalah kapan mencoba untuk hamil lagi? Jika suami menyarankan untuk hamil kembali, sementara istri belum siap bukan berarti ia tidak peka. Suami hanya berusaha mengatasi kesedihannya dengan fokus pada masa depan.

Akhiri dengan ikhlas

Tentu sulit untuk dapat move on secara emosional. Hal yang pasti, tidak ada cara yang salah maupun benar untuk dapat melupakannya. Tapi, ingatlah bahwa kamu harus ikhlas dan hindari membandingkan kondisi diri sendiri dengan orang lain.

Pada masa ini, suami dan istri saling membutuhkan. Karena itulah, hindari dorongan untuk saling menghakimi atau menyalahkan

Referensi: artikel “How to Cope After Having a Miscarriage” pada The Bump

(Rolen/Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.