Trik Memerah untuk Meningkatkan Produksi ASI

By Febi Purnamasari | Published 29th October 2018

Kunci utama untuk meningkatkan produksi ASI adalah mengeluarkannya lebih sering dan tidak membiarkan payudara penuh dalam jangka waktu lama (Dok. Pixabay)

Kamu ibu bekerja yang lagi stres karena stok ASIP sudah hampir habis, sementara Si Kecil makin kuat menyusu? Segala upaya mungkin sudah kamu lakukan mulai dari mengonsumsi suplemen atau penganan yang dipercaya dapat memicu produksi ASI, berusaha untuk berpikir positif, sampai memperbanyak kontak dengan Si Kecil. Coba dulu deh, trik memerah untuk meningkatkan produksi ASI yang disarankan oleh Konselor Laktasi F. B. Monika lewat bukunya, Buku Pintar ASI dan Menyusui.

Menurut Monika, kunci utama untuk meningkatkan produksi ASI adalah mengeluarkannya lebih sering dan tidak membiarkan payudara penuh dalam jangka waktu lama. Ini karena produksi ASI dipengaruhi oleh hormon prolaktin yang kadarnya ditentukan oleh volume dan frekuensi ASI dikeluarkan dari payudara,

Perbaiki teknis memerah ASI

  • Usahakan untuk selalu memompa kedua payudara bersamaan. Pijat dan tekan payudara saat memompa ASI guna meningkatkan produksinya. Pompa ASI minimal 15 menit lalu memerahlah dengan tangan. Setelah tetesan ASI terakhir, teruslah memerah selama 2-5 menit. Monika mengungkapkan, berdasarkan penelitian, memerah menggunakan alat pompa ASI saja tidak dapat mengonsongkan payudara dengan baik.
  • Memerahlah ketika bayi sedang menyusu (tandem). Namun, berikan payudara yang penuh kepada bayi untuk mencegah ia rewel karena aliran lebih lambat usai dipompa.
  • Gunakan komponen corong pompa berbahan lebih lembut dan berukuran besar.

Tingkatkan frekuensi memerah

  • Perbanyaklah menyusui dan memompa ASI di malam hari karena saat itulah kadar hormon prolaktin lebih tinggi.
  • Cobalah menambah 1-2 sesi memerah di kantor. Monika menyarankan Ibu untuk menambah minimal satu sesi memerah selama lima menit. Sama halnya ketika libur, tambahkan minimal dua sesi memerah.
  • Lakukan power pumping, yakni teknik yang berusaha menyerupai bayi menyusu 8-12 kali dalam 24 jam seperti sebulan pertama kehidupannya. Yakni, saat bayi menyusu lebih kuat, lebih sering, dan lebih lama sehingga memicu pelepasan hormon prolaktin yang berpengaruh terhadap produksi ASI.

Tips power pumping

Ketika melakukan power pumping, Ibu tentu harus mendedikasikan total tiga jam sehari untuk memerah ASI saja. Tak hanya itu, suasana hati Ibu haruslah baik dan tubuh dalam keadaan fit. Kalau memungkinkan, Ibu yang bekerja dapat mengambil cuti dan mintlalah bantuan orang sekitar untuk mengasuh Si Kecil ketika sedang memerah maupun beristirahat.

Berikut beberapa tips power pumping dari Monika juga Ahli Laktasi Catherine Watson Genna, BS, IBCLC yang bisa kamu terapkan saat produksi ASIP menurun.

  • Usahakan untuk rileks dan tidak stres.
  • Konsumsi makanan bergizi dan minum cukup.
  • Alat pompa beserta wadah ASIP diletakkan di tempat yang sering dilewati dan nyaman bagi untuk duduk.
  • Ibu bisa pula memompa 5-10 menit setiap kali melewati alat pompa tersebut dan berhenti ketika merasa lelah serta tak nyaman.
  • Jarak antarmemerah sekitar 45 menit atau lebih. Jika jarak antarmemerah kurang dari 45 menit, efektivitasnya kurang optimal.
  • Ibu memerah minimal 10 kali sehari.
  • Ibu tidak perlu mencuci peralatan pompa ASI. Cukup perhatikan suhu ruangan. Seperti halnya ASIP di suhu ruang, alat pompa aman dibiarkan tidak dicuci empat jam selama melakukan power pumping.
  • Usahakan Ibu beristirahat sebentar pada siang hari dan tidur tidak terputus 4-6 jam pada malam hari. Jika bayi menyusu saat malam, susuilah sembari memerah.

Menurut Monika, hasil dari power pumping bervariasi. Ada Ibu yang merasakanASIP-nya meningkat setelah melakukan power pumping selama dua hari berturut-turut. Namun, ada pula Ibu yang baru merasakan hasilnya setelah seminggu berturut-turut menerapkannya.

Jika berbagai tips di atas belum juga berhasil karena produksi ASI terus menurun, segera konsultasikan masalah tersebut dengan konselor laktasi ya, Bu!

(Febi/Dok. Pixabay)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.