Tips Anti-Baper untuk Ibu Baru

By Febi Purnamasari | Published 7th August 2018

Sebagai ibu yang masih pemula mengurus segala kebutuhan bayi, saya sering kali merasa terbawa perasaan (Dok. Shutterstock)

Dulu saya kira menjadi seorang ibu baru adalah pengalaman yang sepenuhnya indah. Ternyata, sebagai ibu pemula, mengurus segala kebutuhan bayi sering kali bikin baper. Mulai dari pertanyaan seputar persalinan dan pascapersalinan, komentar tentang diri saya dan Si Kecil, sampai perbedaan pendapat soal pengasuhan anak.

Berbagai faktor memengaruhinya seperti gejolak hormon pascakelahiran juga proses adaptasi saat status saya berubah menjadi seorang ibu. Karena dulu saya memiliki ego dan idealisme yang tinggi, rasanya tiada hari tanpa drama sampai dua tahun pertama. Lama banget ya, Bu. But now I’m chilled. Namun, saya tidak ingin para ibu baru mengalami hal serupa. Maka dari itu, saya mau berbagi tips anti-baper untuk ibu baru. Yuk, simak artikelnya!

Pahami kakek dan nenek punya rasa cinta yang begitu besar

Dulu saya sering merasa orang tua kandung dan mertua saya berlebihan dalam menghadapi Si Kecil. Sebut saja, ketika mereka mendapati cucunya sakit atau ada ruam di pipi maupun selangkangannya. Komentar yang biasanya saya terima, antara lain sebagai berikut.

Aduh, kasihan anaknya.

Ayo, cepat bawa ke dokter, takut kenapa-kenapa.

Awalnya saya bete banget dan merasanya risih. Ibunya santai, kok orang lain malah lebih rempong? Begitu pikir saya dulu. Dua tahun kemudian, barulah saya menyadari bahwa ungkapan-ungkapan tadi adalah bentuk kasih sayang mereka yang begitu besar terhadap sang cucu. Tentu kita pernah mendengar rahasia umum bahwa nenek dan kakek biasanya terlihat lebih sayang pada cucu dibanding anaknya sendiri, kan? Seharusnya kita senang dong, kalau kakek dan nenek Si Kecil sayang padanya. Jadi, ketika Ibu mulai gerah dengan komentar atau perilaku orang tua atau mertua, segera hadirkan pemahaman ini untuk mengurangi kadar baper, ya!

Andalkan pasangan sebagai juru bicara

Kamu sudah lelah dengan masukan orang-orang sekitar atau perbedaan polah asuh yang dihadapi? Coba sampaikan hal tersebut kepada suami dan minta ia menjadi juru bicara untuk menyampaikan sikap Ibu. Misal, ketika Ibu lelah ditanyai alasan memilih operasi caesar, minta si Ayah untuk menjelaskannya secara gamblang kepada tamu-tamu yang datang.

Contoh lain, ketika mertua mendorong Ibu untuk melakukan sesuatu yang kurang berkenan terkait perawatan Si Kecil, suami bisa menyampaikan sikap dan pertimbangan Ibu dengan cara-cara yang diplomatis tentunya. Tak lupa, kembali lagi pada poin sebelumnya, selalu ingat bahwa sikap mertua tersebut merupakan bentuk kasih sayangnya terhadap cucu.

Semoga berbagai tips di atas dapat membuat kamu menjadi ibu baru yang lebih positif, ya! Bagaimanapun, suasana hati Ibu dapat berpengaruh terhadap Si Kecil, lho.

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This: