Post Power Syndrome pada Ibu Rumah Tangga

By Febi Purnamasari | Published 10th August 2018

PPS bisa terjadi pada semua kelompok usia (Dok. Shutterstock)

Keputusan menjadi ibu rumah tangga adalah perkara serius bagi sebagian perempuan. Mereka harus melalui pertimbangan dan pergolakan panjang hingga akhirnya mengambil keputusan tersebut.

Post power syndrome

Selama ini, post power syndrome (PPS) sering kali diidentikkan dengan kalangan tua yang baru saja pensiun. Ternyata, PPS bisa terjadi pada semua kelompok usia. Menurut Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Rumah Sakit Siloam Tjhin Wiguna dalam Liputan6.com, PPS merupakan sebuah kondisi yang menggambarkan ketidakmampuan individu melepaskan hal yang pernah ia dapatkan dari kekuasaannya terdahulu.

Power pada PPS bukan diartikan sebagai kekuasaan maupun pekerjaan, melainkan dikonotasikan sebagai sosok yang tadinya aktif dan banyak kegiatan, mendadak kehilangan semua itu sehingga timbul ketidaknyamanan. Ia pun tidak bisa menerima hidupnya dengan reaksi yang bermacam-macam seperti marah, kesal, iri, atau sebal. Lantas, bagaimana cara mengatasi atau mencegah PPS pada IRT?

Mengingat kembali prioritas

Ummi Kaltsum, ibu dari anak-anak yang berusia 7, 6, 4, dan 2 tahun, merasakan transisi yang berat dari bekerja kantoran ke keseharian sebagai ibu rumah tangga.

“Soalnya, banyak perubahan seperti ganti status dan tempat tinggal juga saat itu dalam kondisi hamil,” jelas perempuan yang akrab disapa Mia ini kepada Parentalk.

Mia sendiri selalu berusaha menerima keadaan dan menghadapinya dengan mengingat kembali prioritas yang harus dipilih.

“Kalau tanya ibu-ibu yang masih pada muda, mungkin (kesannya) berbeda. Ini karena semakin tua, saya semakin nerimo kalau ada prioritas yang harus kita pilih. Konsekuensinya telen aja,” lanjut Mia yang kini berusia 37 tahun.

Menciptakan rutinitas layaknya ngantor

Sementara Lita Hapsari, ibu dari seorang anak berusia 3 dan 5 tahun punya beberapa trik untuk mengakomodasi rasa kangen bekerja kantoran. Misal, dengan menjadikan rumah sebagai kantor ala-ala.

“Rutinitas dibuat seperti layaknya mau berangkat kerja ke kantor, eh, tapi di rumah,” ungkap Lita.

Menurutnya, ketidakberdayaan menjadi sebagian kekhawatiran ibu rumah tangga di awal. Ia sendiri mengaku pernah kangen dan ingin kembali bekerja kantoran lagi. Tapi, kemudian ia merenungkan kembali pilihan yang memberikan manfaat lebih besar.

“Lama-kelamaan, aku mikir. Bekerja memang bisa berkontribusi dan diapresiasi lewat penghasilan per bulan, tapi kayaknya gajiku bisa cuma menumpang lewat rekening karena adanya biaya menitipkan anak di childcare.

Menurunnya kewarasan

Keseharian mengurus anak di rumah dengan rutinitas yang sama terkadang membuat seorang ibu merasa jenuh dan kelelahan sehingga dapat mengganggu suasana hatinya. Menurunnya kewarasan pun dikhawatirkan dapat merenggangkan hubungan ibu dan anak. Tapi, menurut Lita dan Wita Dewi Widiastuti, kondisi itu dapat diantisipasi. Caranya mulai dari aktif terlibat dalam komunitas, mengikuti kelas parenting, sampai memberitahukan kebutuhan kita kepada suami.

“Dulu kalau ada uang lebih, saya ikut kelas parenting di mana-mana. Saya kejar biar dapat melepaskan perasaan, sabar, dan punya banyak teman senasib. Semua saya jajal karena menjadi orang tua juga harus berilmu. Semakin aktif di kelas-kelas parenting, saya semakin waras karena anak bukan lagi beban, melainkan anugrah,” jelas Wita.

Sementara, Lita selalu menyelingi kesehariannya sebagai ibu rumah tangga dengan kegiatan komunitas musik. Misal, sebagai vocal guide atau backing vocal penyanyi di beberapa acara televisi.

“Tapi ya gitu, tantangannya, saya membawa anak ke studio latihan musik dengan naik kendaraan umum. Sudah berasa kerja, tapi masih bisa mengasuh anak,” terang Lita.

Menurut Lita, komunikasi dengan suami juga sangat penting agar Ibu dapat menikmati waktunya sendiri alias me time. Bicarakan pembagian tugas mengasuh anak ketika suami libur agar Ibu dapat menjalankan kesibukan atau kesenangan pribadi.

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This: