Perbedaan Kontrasepsi Hormonal dan Nonhormonal

By Febi Purnamasari | Published 11th May 2018

Pahami dulu perbedaan kontrasepsi hormonal dan nonhormonal (Dok. Pixabay)

Masih bingung memilih jenis kontrasepsi yang cocok buat Ibu atau Ayah? Sebaiknya pilihan kontrasepsi mempertimbangkan tujuan perencanaan keluarga dan kondisi diri calon pemakai juga sudah dikonsultasikan pada ahlinya.

Supaya lebih tercerahkan, kalian harus paham dulu perbedaan kontrasepsi hormonal dan nonhormonal. Contoh kontrasepsi nonhormonal, yaitu KB spiral berlapis tembaga dan kondom. Sementara, kontrasepsi hormonal lebih banyak jenisnya seperti KB spiral mengandung hormon, pil, implan, dan suntikan.

Kontrasepsi nonhormonal

KB spiral berlapis tembaga

Intrauterine device (IUD) atau KB spiral yang sering digunakan di Indonesia bukan menggunakan hormon, melainkan berlapis tembaga. Cara kerjanya, unsur tembaga dilepaskan untuk membasahi lapisan rahim. Unsur tembaga tersebut menyebabkan reaksi peradangan yang beracun bagi sperma sehingga dapat mencegah pembuahan.

Kontrasepsi ini dapat menunda kehamilan berikutnya hingga lima tahun sehingga cocok untuk Ibu dengan satu anak atau lebih.

IUD berlapis tembaga juga memiliki risiko sulit hamil lebih rendah ketimbang kontrasepsi mengandung hormon. Pasalnya, ketiadaan pengaruh hormon mengembalikan siklus haid normal lebih cepat ketimbang kontrasepsi hormonal.

Selain itu, KB spiral dapat dipasang segera setelah melahirkan normal atau C-section, lho! Istilahnya, post partum IUD. Dengan begitu, Ibu nantinya tidak perlu berpose ngangkang seperti mau melahirkan lagi. Nah, buat bumil yang ingin menunda kehamilan berikutnya, mulailah konsultasikan hal tersebut pada dokter kandungan dari sekarang.

Hal lain yang perlu Ibu ketahui, IUD berlapis tembaga tidak memberikan perlindungan terhadap penyakit menular seksual.

Jangan lupa rutin kontrol

Menurut Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Dinda Derdameisya, idealnya, Ibu melakukan kontrol IUD enam bulan hingga setahun sekali. Tujuannya untuk memastikan letaknya tidak berubah atau tidak miring. Terlebih bila Ibu memiliki aktivitas yang sangat aktif sehingga dapat mempengaruhi letak IUD. Misal, olahraga kick boxing.

Selain itu, dr. Dinda mengingatkan untuk rutin memperbaharui IUD. Pasalnya, semakin lama perbaharui, IUD semakin sulit untuk dilepas bila diperlukan.

“Banyak ibu yang sudah enggak mau hamil lagi, tapi baru kontrol IUD 8-10 tahun kemudian. Itu (IUD-nya) dilihat sangat susah. Ibu akan lebih nyaman bila IUD diganti setiap tiga tahun sekali,” jelas dr. Dinda saat menjadi pembicara dalam peluncuran situs perencanaan keluarga.

Kondom

Menurus situs Alodokter, kondom pria memiliki efektivitas sekitar 98 persen untuk mencegah kehamilan. Syaratnya, kondom digunakan dengan benar ya, Yah.

Alat kontrasepsi ini juga menjadi pilihan banyak pasangan suami istri karena praktis, murah, dan mudah diperoleh. Selain dapat menghentikan sperma memasuki vagina dan mencapai sel telur, kondom juga menjadi penghalang efektif untuk mencegah penyakit menular seksual.

Namun, bahan lateks pada kondom terkadang menyebabkan vagina kurang ‘licin’ sehingga menimbulkan iritasi pada sebagian perempuan. Aktivitas seksualmu dan pasangan pun mungkin membutuhkan pelumas kondom ataupun pelumas alami seperti minyak kelapa atau minyak zaitun. Meski begitu, kalian perlu mewaspadai efek sampingnya seperti alergi, iritasi, atau kerusakan pada kondom karena penggunaan pelumas.

Kontrasepsi hormonal

Menurut situs BabyCenter, metode kontrasepsi ini menggunakan hormon sintetis untuk:

  • menekan ovulasi,
  • menipiskan lapisan rahim sehingga sel telur tidak dapat tertanam di sana, serta
  • menebalkan lendir serviks guna menghalangi sperma.

Kontrasepsi hormonal juga memiliki efektivitas tinggi dalam mencegah kehamilan. Namun, semua jenisnya tidak memberikan perlindungan terhada penyakit menular seksual.

Salah satu efek samping khas kontrasepsi hormonal adalah kandungan progestinnya (hormon sintetis progesteron) membuat siklus normal haid kembali dalam waktu lama, yaitu tiga sampai enam bulan kemudian. Kandungan progestin ditemukan pada kontrasepsi seperti implan, IUD dengan hormon, dan metode KB suntik

Meski begitu, bila sudah haid, kapanpun berhubungan intim dengan pasangan di periode ovulasi, ibu bisa hamil lagi, kok.

Dalam artikel ini, kita bahas catatan dari dr. Dinda terkait KB spiral mengandung hormon dulu, ya.

KB spiral mengandung hormon

Sama halnya dengan KB spiral berlapis tembaga, IUD mengandung hormon dapat mencegah kehamilan secara efektif untuk jangka panjang.

Namun, kandungan progestin pada kontrasepsi ini dapat membuat perempuan berhenti haid. Menurut Dinda, hal itu dikarenakan kadar hormon yang tinggi sehingga mencegah keluarnya darah menstruasi.

Karena itulah, KB spiral mengandung hormon tidak menjadi pilihan orang Indonesia meski umum digunakan di negara Barat.

“Biasanya perempuan Indonesia itu memilih KB yang masih (memungkinkan untuk) menstruasi. (Sebaliknya) orang-orang di luar negeri itu lebih nyaman enggak keluar darah (mentsruasi). Orang indonesia merasa, menstruasi ‘mencegah’ rahim kering. Itu tergantung pilihan dari masing-masing saja,” jelas Dinda.

Salah satu keunggulan kontrasepsi hormonal seperti implan, KB spiral mengandung hormon, dan pil laktasi adalah aman bagi ibu menyusui karena hanya mengandung hormon progesteron sehingga tidak mempengaruhi produksi ASI.

(Febi/Dok. Pixabay)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.