Mother Hope Indonesia, Tempat Curhat Ibu

By Febi Purnamasari | Published 12th February 2019

Siapa saja bisa bergabung dalam grup tertutup ini (Dok. Shutterstock)

Sebagian ibu mungkin merasa, berumah tangga tak seindah masa-masa pacaran dulu. Banyak ‘drama’ yang kemudian muncul setelah seorang perempuan menikah dan memiliki anak.

Tak jarang, seorang ibu baru menjadi korban mom-shaming. Sementara, ketika hendak bercerita, ia takut dihakimi dan khawatir hal tersebut justru membuat dirinya semakin down.

Inilah yang dirasakan Pendiri Mother Hope Indonesia Nur Yanayirah dulu. Usai bersalin anak kedua, Yana mengalami depresi pascamelahirkan karena kurangnya dukungan dari orang-orang terdekat. Terlebih, gangguan tersebut telah ia alami sejak kepergian anak pertamanya dalam kandungan berusia 28 minggu.

“Kami sama-sama enggak tahu itu namanya depresi. Orang lain mungkin menganggap saya itu berlebihan, drama queen, tidak siap menjadi ibu, gila, tidak beriman, dan tidak bersyukur,” jelas Yana yang dikaruniai anak setelah empat tahun menikah.

Mother Hope Indonesia, wadah curhat para ibu

Ibu dari Hana (6 tahun) dan Hanif (2,5 tahun) ini tak ingin pengalaman tersebut menimpa perempuan lainnya. Karena itulah ia mendirikan Mother Hope Indonesia (MHI) pada Februari 2015. Yakni, sebuah grup Facebook yang peduli dengan kesehatan jiwa para ibu. Di grup ini, para anggotanya dapat curhat sejujur-jujurnya dan saling memberikan masukan.

“Saya pikir perlu suatu ruang yang aman dan nyaman agar ibu bisa berbagi, kemudian bisa pergi ke psikolog atau ke psikiater. Dengan begitu, si ibu bisa pulih dari depresinya,” terang Yana kepada Parentalk.

Dilarang keras menghakimi ibu

Menurut Yana, siapa saja bisa bergabung dalam grup tertutup ini. Terutama, perempuan hamil dan ibu menyusui, para suami, psikolog, psikiater, dan relawan yang peduli dengan isu kesehatan jiwa ibu. Namun, MHI punya aturan khusus.

“Kami tekankan kepada para anggotanya untuk tidak memberikan komentar yang menghakimi. Kami menjaga environment grup dengan menghindari komentar seperti, ‘tidak beriman’, ‘tidak bersyukur’, ‘tidak kenal dengan Tuhan’, dan sebagainya. Depresi itu kan seperti penyakit yang enggak bisa hanya dimotivasi terus langsung sembuh,” jelas Yana.

Ia pun mengharapkan empati dan toleransi yang besar dari sesama anggota MHI untuk saling mendengarkan curhatan teman-temannya yang lain.

Siapa saja bisa bergabung dalam grup tertutup ini (Dok. facebook.com/groups/pedulikesjiwaibuperinatalindo)
Siapa saja bisa bergabung dalam grup tertutup ini (Dok. facebook.com/groups/pedulikesjiwaibuperinatalindo)
Curhatan anggota grup Mother Hope Indonesia di Facebook
(Dok. facebook.com/groups/pedulikesjiwaibuperinatalindo)

Para ibu menghadapi ragam masalah

Setiap harinya Yana dan admin MHI lainnya menerima banyak curhatan dari kaum ibu. Mereka pun perlu menyeleksinya satu per satu thread starter yang dapat tampil di laman grup MHI. Masalah yang dibagikan pun beragam dan menyangkut perempuan hamil maupun ibu menyusui, seperti

  • tidak antusias dengan kehamilan;
  • tidak menyukai bayi yang dilahirkan;
  • kekerasan dalam rumah tangga (KDRT);
  • perceraian;
  • ibu tidak dinafkahi oleh suami;
  • perselingkuhan suami;
  • anak yang meninggal;
  • masalah campur tangan orang tua dan mertua;
  • masalah menyusui;
  • hamil di luar nikah;
  • dilema ibu bekerja dan ibu rumah tangga.

Yana pun bersyukur karena banyak anggota MHI yang jujur tentang kondisi jiwanya masing-masing.

“Kenapa saya sebal kalau bayi saya menangis?’ ‘Kenapa ya, saya kepikiran untuk bunuh diri?’ ‘Kenapa saya ada pikiran untuk menyakiti bayi saya sendiri?’ Itu kan kalau curhatnya dengan orang yang belum mengerti, dia bisa dihakimi,” jelas Yana.

Ia juga lega karena semakin banyak anggotanya yang peduli dan memahami kondisi jiwa ibu-ibu dengan gejala depresi.

Jika ingin berbagi cerita dengan Yana dan komunitasnya, kamu dapat bergabung dalam grup Mother Hope Indonesia di Facebook, ya.

(Febi/ Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.