Mitos vs Fakta: Ibu Dilarang Keluar Rumah 40 Hari Pascamelahirkan

By Putu Dyah | Published 9th August 2018

Dulu, sehabis lahiran, saya banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Walaupun orang tua saya tidak tegas melarang keluar rumah selama 40 hari pascamelahirkan, saya lebih memilih stay karena rasanya tubuh belum pulih benar pasca operasi caesar. Tapi beberapa teman ada juga yang menjalani tradisi 40 hari dengan alasan, mengikuti nasihat orang tua.

Saya pun mencoba cari tahu, sebenarnya ada apakah di balik tradisi 40 hari ini? Khususnya kalau dilihat dari sisi medis dan psikologis ibu pascamelahirkan. Ternyata penjelasan yang saya dapat cukup relevan dan membuat saya lebih memaklumi kebiasaan orang tua zaman dulu yang menurunkan tradisi ini.

Fakta medis di balik mitos 40 hari

Menurut dokter kebidanan dan kandungan dr. Benny Johan Marpaung, Sp. OG., secara medis tidak ada kondisi khusus yang melarang ibu untuk keluar rumah setelah melahirkan.

“Secara medis, tidak ada larangan. Hanya saja kan ada masa nifas selama 42 hari. Berhubung masih keluar darah nifas, bisa jadi ibu merasa tidak nyaman beraktivitas di luar rumah karena harus sering ganti pembalut,” jelas dokter Benny. “Jadi sebenarnya ibu boleh-boleh saja beraktivitas di luar rumah asal kondisi tubuhnya mendukung.”

Pelaku mom-shaming bisa siapa saja, tak terkecuali sesama ibu
Di masa nifas, ibu masih butuh waktu pemulihan tubuh. (Dok: Pixabay)

Dokter ini menambahkan, pascamelahirkan biasanya ibu butuh waktu pemulihan sekitar 3-4 minggu. Di masa itu, ibu yang melahirkan normal sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Sementara ibu yang melahirkan lewat operasi caesar, luka luar bekas jahitannya juga sudah mulai mengering. Tapi untuk penyembuhan luka dalam butuh waktu lebih lama, yaitu sekitar 3 bulan.

Selain faktor ibu, dokter Benny juga menambahkan pertimbangan kondisi bayi yang baru lahir. “Bayi baru lahir atau neonatus, kondisinya rentan sekali. Karena dia masih adaptasi dengan dunia luar,” kata dokter yang berpraktek di RSIA Asih ini.

“Sebenarnya bayi boleh keluar, misalnya untuk dijemur waktu pagi hari. Tapi kalau untuk aktivitas lain di tempat umum perlu dipertimbangkan. Imunisasinya kan belum lengkap, daya tahan bayi juga belum kuat. Sehingga beresiko terinfeksi virus, seperti flu misalnya. Penanganannya bisa lebih sulit,” jelas dokter Benny.

40 hari dari sisi psikologi

Dalam website Rumah Dandelion disebutkan, ibu yang baru melahirkan cenderung mengalami baby blues. Hal ini ditandai dengan kondisi ibu yang mudah menangis, emosi tidak stabil, gampang marah, serta gangguan makan dan tidur.

Survei oleh tim Rumah Dandelion juga menunjukkan, 66% ibu yang baru melahirkan butuh waktu sekitar 0-3 bulan untuk kembali bersosialisasi dengan lingkungannya. Beberapa hal yang perlu dilakukan atau didapatkan ibu pun mirip dengan kebiasaan yang dilakukan dalam tradisi 40 hari.

Misalnya, mengelilingi diri dengan orang-orang yang mendukung (social support), tidak sungkan meminta bantuan dari orang lain. Serta menghabiskan waktu dengan bayi, agar bisa merekatkan bonding dan mengurangi baby blues.

Tapi untuk larangan keluar rumah, sebenarnya bisa disesuaikan. Dalam tulisannya “Post-Partum Depression: Do’s and Don’ts” , psikolog Nadya Pramesrani menyarankan ibu untuk berjalan kali atau jogging ringan di sekitar kompleks rumah. Cara ini membuat ibu dapat berinteraksi dengan lingkungan sehingga terhindar dari resiko depresi.

Jadi sebenarnya dari mitos tersebut, ada sisi baik yang berguna bagi Ibu. Tapi kalau perlu, ibu dapat mengadaptasinya sesuai kebutuhan masing-masing. Hal yang penting untuk tetap bijak menanggapi nasihat orang tua tentang itu. Dan utamakan kondisi Si Kecil agar tetap sehat dan ibu pun bahagia.

(Dyah/ Dok: Pixabay)

Share This: