Menjadi Ibu dengan Premenstrual Dysphoric Disorder

By admin | Published 18th November 2019

Jadi ibu memang membukakan banyak jalan mengetahui banyak hal tentang diri sendiri. Termasuk mengetahui bahwa ternyata saya mengidap Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). PMDD adalah kelainan premenstrual di mana penderitanya mengalami gejala-gejala yang lebih intens dari PMS. 1 dari 20 perempuan mengidap PMDD.

Saya tidak ingat kapan tepatnya saya mengidap kelainan premenstrual ini. Yang bisa saya ingat hanya perasaan-perasaan bahagia yang muncul justru ketika menstruasi dimulai. Sepertinya sudah lama, sejak zaman masih kuliah dulu. Hal yang menurut saya agak aneh, karena menurut bacaan yang saya baca selama ini, saat menstruasi biasanya mood seseorang malah memburuk.

Saya justru bahagia saat setetes darah itu muncul di celana. Seingat saya, mood saya selalu kacau jauh, jauh sebelum menstruasi. Tapi saya nggak ambil pusing, karena saya pikir paling hanya PMS. Dan PMS itu hal biasa, kan?

Saya baru tahu kalau ternyata PMS saya kelewat panjang – bisa sampai dua minggu lamanya, justru setelah saya berhenti menyusui. Sekitar setahun setelahnya, saya baru tahu kalau ‘kelainan’ yang saya alami bernama PMDD.

Saya mengalami gejala-gejala fisik dan emosional yang lebih intens dari yang pernah saya alami sebelumnya. Menurut IAPMD.org gejala PMDD memang bisa memburuk seiring dengan berjalannya usia dan hal-hal yang terkait dengan sistem reproduksi seperti kehamilan, keguguran dan lain-lain.

Gejala fisik yang saya alami di antaranya sakit kepala di atas jam 12 siang (padahal saya sudah makan bergizi dan tidur cukup), extreme fatigue – capek banget sampai saya nggak bisa melakukan kegiatan standar sesederhana beres-beres rumah, brain fog sehingga nggak bisa konsentrasi dan jadi nge-blank banget dan beberapa gejala yang berbeda setiap bulan. Gejala emosional yang saya rasakan lebih parah lagi. Mirip depresi, rasanya ingin mengutuki diri sendiri sepanjang hari, mudah tersulut dengan hal-hal kecil, tidak mau bertemu orang, merasakan extreme loneliness.

Parahnya lagi, pekerjaan saya sering tidak selesai. Bukan karena saya tidak bisa menyelesaikannya, tapi memang karena tubuh saya nggak bisa diajak bekerjasama. Padahal saat itu saya baru saja menjadi kontributor tetap sebuah majalah online. Saya merasa tidak mengenali diri saya sendiri. Parahnya, saya merasa gagal jadi ibu karena saat saya sedang masuk siklus PMDD, saya sama sekali bukan ibu yang baik.

Saya mudah sekali tersulut dengan hal-hal ‘di luar kebiasaan’ yang dilakukan oleh anak saya, Nyala. Kalau di hari-hari normal mainan berantakan dan main-main ala anak-anak itu hal yang wajar, di hari-hari siklus hal sesederhana minta ditemani bermain puzzle saja terasa bagai neraka. Saya bisa ngamuk kalau dia dekat-dekat dan nempel sama saya. Badan saya sakit semua, perasaan nggak karuan, bisa nggak sih, tinggalin saya sendirian?

Dulu, saat masih ada asisten rumah tangga yang menginap di rumah, saya pernah menulis di papan pengumuman. Begini yang saya tulis : Tolong jauhkan Nyala dari Kenya, Kenya sedang tidak waras.

Syukurnya, asisten saat itu cukup pengertian, dia bisa mengambil alih Nyala sampai keadaan saya kondusif lagi.

Tadinya saya sempat nyaris menyerah dan menyalahkan diri sendiri karena saya mengidap kelainan yang menyebalkan ini. Tapi pelan-pelan, setelah saya renungi lagi, kelainan ini pasti ada maksudnya.

Di sela-sela siklus yang kerap datang, di waktu-waktu ‘normal’ saya belajar tentang self-lovedan proses penerimaan diri. Akhirnya, saya berkesimpulan, PMDD ini tidak menentukan siapa diri saya. I am more than this disorder and I am going to roll with it.

Tidak mudah memang buat roll with it, tapi paling tidak, saya sudah punya kesadaran kalau PMDD adalah anomali tubuh saya. Saya sudah menerima kalau saya hanya bisa berfungsi dengan normal selama dua minggu dalam sebulan. Walau saat siklus PMDD datang rasanya tetap sama… rasanya tetap bagai kutukan dan tak akan pernah berakhir :’)

Kenyasentana, ibu dengan PMDD.

Kesadaran akan kelainan ini penting sekali buat saya. Kesadaran ini membantu saya mendefinisikan diri saya yang baru. Kalau tadinya saya pikir saya orangnya nggak akan pernah bisa konsisten dan berkomitmen, sekarang saya geser sudut pandangnya. Saya mendefinisikan ulang kata konsisten dan komitmen sesuai dengan kebutuhan saya. Ternyata, hal itu sangat membantu menjalani siklus yang berulang setiap bulan.

Saya juga lebih santai saat menghadapi kegiatan menjadi ibu. Walau saya masih sering merasa bukan ibu yang baik, paling tidak saya sudah mengurangi menyalahkan diri sendiri. Kalau tadinya saya punya banyak to-do list untuk dikerjakan dalam satu hari, saat masuk siklus PMDD, hal dalam to-do list saya cuma ada satu, yaitu, menjaga perasaan Nyala. Kalau pun pada akhirnya saya marah-marah, saya akan tetap memaafkan diri saya sendiri, karena saya sadar betul, perasaan-perasaan yang hadir saat PMDD tidak bisa dikontrol.

Seiring dengan berjalannya waktu Nyala jadi tahu kalau saya bisa ‘sakit’ di waktu-waktu tertentu. Saya berusaha bilang sama Nyala setiap hari, memberitahunya bahwa saya mengidap PMDD yang gejalanya bikin saya jadi ‘orang lain’ dan gampang marah. Saat saya masuk siklus PMDD, Nyala akan mengerti kenapa saya tidak bisa diajak bermain atau hanya membacakan satu buku saja sebelum tidur.

Saya berusaha menjalani hari-hari dengan siklus PMDD sambil menunggu sebuah hari di mana Nyala akan bersorak “Hore, ibu mens! Bisa main lagi sama Nyala!”

Sorak sorai terbaik di dunia.

R Kenyasentana adalah penulis yang mengidap PMDD. Ia bekerja paruh waktu di International Association of Premenstrual Disorder sebagai peer support provider dan membuat akun peduli PMDD @disvoria di Instagram. Buku terbaru Kenya yang ditulis bersama Andien Aisyah ‘Belahan Jantungku’ sudah beredar di toko buku.

Share This: