Masa Adaptasi Ibu di Trimester Keempat

By Febi Purnamasari | Published 15th August 2018

Trimester keempat berlangsung sejak hari pertama kelahiran hingga bayi menginjak usia tiga bulan (Dok. Shutterstock)

Tahu enggak, Bu, trimester ketiga ternyata bukan akhir dari perjalananmu dan si kecil, lho. Masih ada trimester keempat!

Trimester keempat? Memang ada, ya?

Ada. Menurut situs Baby Center, kata “trimester” dapat juga digunakan untuk menggambarkan tiga bulan pertama setelah persalinan. Yakni, sejak hari pertama kelahiran hingga bayi menginjak usia tiga bulan. Bisa dibilang, trimester keempat masa adaptasi Ibu maupun bayi.

Masa penyesuaian Ibu

Menurut situs Parents, trimester keempat ditandai dengan perubahan-perubahan pada tubuh Ibu sebagai proses pemulihan pascakehamilan dan persalinan. Saat ini pula, tubuh menyesuaikan diri dengan ragam tuntuan baru, salah satunya menyusui.

Berikut ragam kondisi yang akan Ibu hadapi selama trimester keempat.

Edema

Yaitu, pembengkakan di tangan, pergelangan kaki, dan wajah akibat akumulasi cairan dalam jaringan. Kondisi itu disebabkan oleh aktivitas mengejan saat persalinan yang mendorong cairan berlebih dalam tubuh bumil ke bagian-bagian tadi.

Nyeri dan pendarahan di vagina

Rasa sakit di area vagina akibat proses melahirkan berlangsung sejak persalinan sampai enam minggu pascamelahirkan. Sementara, pendarahan vagina dapat berlangsung sejak persalinan sampai enam minggu setelahnya.

Payudara bengkak

Kondisi ini rentan terjadi 2-5 hari setelah besalin. Payudara Ibu mungkin bengkak dan mengeras sampai sistem tubuh dapat menentukan kuantitas produksi ASI yang diperlukan.

Mudah mengompol

Pasca lahiran, ada beberapa kondisi ketika kamu batuk atau bersin, air seni dengan mudahnya merembes. Penyebabnya, otot dan ligamen panggul Ibu telah melunak dan kehilangan kekuatannya sejak hamil. Kondisi ini bisa terjadi sejak persalinan hingga 8 delapan minggu pascamelahirkan.

Kram perut

Rahim sedang berproses untuk kembali ke ukurannya sebelum kehamilan. Karena itulah, Ibu merasakan kram perut. Rasa nyeri pun dapat makin parah seiring berjalannya rutinitas menyusui. Soalnya, aktivitas menyusui merangsang hormon oksitosin yang dapat menyebabkan kontraksi. Ibu rentan merasakan kram di hari-hari pertama pascapersalinan.

Konstipasi

Di hari-hari pertama pascapersalinan, Ibu rentan mengalami sembelit. Soalnya, rektum (bagian akhir dari usus besar, sebelum anus) Ibu membengkak akibat tekanan selama persalinan. Pembengkakan harus sembuh dulu sebelum Ibu dapat buang air besar.

Rambut rontok

Jangan kaget bila rambut Ibu rontok dalam kurun 1-5 bulan setelah melahirkan. Kondisi ini disebabkan perubahan hormon saat kehamilan yang menebalkan rambut, sementara efek ini menghilang pascapersalinan.

Pigmentasi kulit mulai menghilang

Ini dia kabar baiknya. Hiperpigmentasi yang Ibu alami selama kehamilan memudar perlahan setelah persalinan. Sebut saja, linea nigra alias garis hitam di perut dan melasma (topeng kehamilan).

Baby blues dan depresi pascamelahirkan

Baby blues berlangsung beberapa hari atau beberapa minggu setelah pesalinan. Gejalanya, Ibu mudah menangis, cemas, dan kurang tidur juga suasana hati yang naik-turun. Sementara, PPD berlangsung lebih lama dari baby blues dan jarang sekali terlihat.

Selain Ibu, bayi juga menghadapi perubahan besar dan beradaptasi di trimester keempat. Selengkapnya dalam artikel Adaptasi Bayi di Trimester Keempat.

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This: