Kesundulan Anak Kedua, Ini Keuntungannya

By Febi Purnamasari | Published 6th March 2018

Keuntungan jarak anak dekat

Mungkin sudah menjadi suratan takdir, saya memiliki anak dengan usia berdekatan alias kesundulan anak kedua. Beda usia si sulung dan si bungsu 15 bulan saja. Saya hamil anak kedua saat si kakak masih berusia 7 bulan. Akibatnya, si kakak sangat posesif menyusu sampai usianya 2 tahun lebih, mungkin karena tak puas menikmatinya semasa saya hamil.

Bila Ayah atau Ibu tidak berniat memiliki anak lagi dalam waktu dekat, segeralah menerapkan keluarga berencana (KB). Jarak usia antaranak tak hanya berpengaruh terhadap kesejahteraan keluarga, tetapi juga kesehatan ibu dan anak. Namun, jika sudah kadung hamil saat si kecil belum genap setahun, syukurilah anugerah tersebut! Hidup dengan dua anak batita juga membawa keberkahan tersendiri.

Tak perlu beli perlengkapan dan mainan baru

Mulai dari baju, popok, bedong, sterilizer, breast pump, stroller, bak mandi, perlengkapan MPASI, sampai mainan lungsuran anak pertama masih dalam kondisi baik hingga si bungsu lahir. Ayah dan Ibu pun bisa berhemat dengan menggunakannya kembali untuk anak kedua. Ragam perlengkapan tersebut bisa Ibu cuci bersih dan sterilkan kembali. Khusus untuk dot, sebaiknya beli produk yang baru agar terjamin keamanan dan kebersihannya, ya.

Masih ingat betul teori perawatan dan polah asuh bayi

Semua pengalaman merawat dan mengasuh anak pertama masih segar dalam ingatan. Ayah dan Ibu pun tak secanggung saat menghadapi anak pertama saat masih bayi. Kalian sudah paham betul hal-hal yang harus dilakukan saat menangani anak dalam berbagai situasi. Ibu juga sudah tak begitu terbawa perasaan atau bahkan cenderung santai saat menerima komentar negatif tentang caranya mengasuh bayi.

Hubungan ayah dan ibu makin solid

Ini karena keduanya akan menerapkan prinsip satu orang tua, satu anak demi situasi yang aman terkendali. Saat si bungsu ingin menyusu, Ibu akan sering meminta bantuan Ayah untuk menangani atau mengajak bermain kakaknya. Di saat seperti inilah, Ayah akan lebih banyak terlibat dalam pengasuhan. Ayah dan Ibu pun cenderung bekerja sama mengurus anak layaknya tim.

Lebih santai dengan anak kedua

Ibu mungkin cenderung idealis soal perawatan dan pengasuhan anak pertama. Tapi, banyak juga orang tua khususnya ibu yang lebih legowo membesarkan anak kedua ketika idealisme tak terpenuhi di ‘lapangan.’. Salah satu faktornya mungkin karena mereka sudah lelah menghadapi dua batita bersamaan. Sebagaimana kiasan, “anak pertama dibesarkan dengan teori, anak kedua dibesarkan berdasarkan pengalaman, dan anak ketiga dibesarkan dengan sendirinya.”

Pikir dua kali jalan-jalan keluar

Orang tua khususnya Ibu cenderung malas pergi keluar karena ia harus melakukan persiapan ekstra untuk dua batita. Belum lagi kerepotan menangani dua anak yang belum bisa mandiri. Ayah dan Ibu pun akan lebih selektif lagi menerima ajakan keluar rumah, apalagi berlibur. Bagi seorang Ibu, liburan bersama anak bagaikan pindahan rumah. Iya enggak, Bu? 

Poin-poin di atas adalah keuntungan memiliki anak dengan usia berdekatan. Kalau tantangannya, apa saja, ya? Selengkapnya bisa kamu simak di artikel Tantangan Memiliki Anak Berusia Berdekatan.

(Febi/ Dok. Pixabay)

Share This: