Keluarga Kita Selaraskan Pengasuhan Anak

By Febi Purnamasari | Published 18th April 2018

Keluarga Kita Najelaa Shihab

Di tengah derasnya informasi soal pola asuh anak, kita sebagai orang tua seringkali merasa teori pengasuhan anak lebih mudah dipelajari, ketimbang dipraktikkan. Kita bisa saja mengikuti banyak seminar parenting. Tapi, ketika berhadapan langsung dengan perilaku anak yang kerap menguji iman atau kala gaya pengasuhan kita berbenturan dengan orang tua, tak jarang teori-teori yang sudah dipelajari menjadi buyar.

Karena itulah, Keluarga Kita hadir menyuguhkan berbagai solusi seputar dinamika hidup orang tua. Tak hanya berbekal teori psikologi dan pendidikan keluarga lewat Kelas Kurikulumnya, tapi juga Sesi Berbagi Cerita Relawan Keluarga Kita (Bicara Rangkul) yang menjadi tempat para orang tua membagi pengalaman.

Saya pun sempat mengobrol dengan para Relawan Keluarga Kita (Rangkul) Jakarta Barat, yakni Ari Adriana, Gustya Indriani, dan Nina Ratna pada pertengahan Januari 2018. Mereka merasa, keterlibatan di Keluarga Kita dapat memberikan inspirasi dalam memecahkan masalah-masalah pengasuhan dan keluarga.

“Soalnya kadang kita dapat teorinya, kita juga sama-sama belajar dan belum sempurna juga. Pasti ada trial and error. Kayaknya ini enggak cocok di anakku, terus cari cara yang lain karena memang salah satu prinsip Keluarga Kita adalah mencintai dengan cari cara sepanjang masa,” jelas Ari.

Pengasuhan berbeda dengan mertua, ajak Beliau ke sini

Namun, sebenarnya Keluarga Kita tak sekedar untuk orang tua, tetapi juga menargetkan pihak-pihak yang berinteraksi langsung dengan anak dalam kesehariannya. Sebagaimana prinsip “it takes a village to raise a child” atau “butuh orang sekampung untuk membesarkan seorang anak.”

Keluarga Kita Najelaa Shihab

Keluarga Kita Najelaa Shihab

“Kita sebagai orang tua pasti bakal banyak dibantu oleh orang lain. Justru mereka perlu berpartisipasi. Seperti kakek-nenek, babysitter, tetangga, kakak atau adik, atau pihak lainnya yang sering kita titipkan anak,” jelas Gustya yang saat itu menjadi fasilitator Sesi Bicara Rangkul.

Jadi, alangkah baiknya jika kamu dan pasangan bisa mengajak anggota keluarga lainnya di rumah (misal, orang tua kandung atau mertua jika tinggal bersama) untuk mengikuti kegiatan Keluarga Kita. Harapannya, dengan turut melibatkan mereka, orang tua dan lingkungan sekitarnya memiliki satu visi dan misi dalam membesarkan sang buah hati. 

Manfaat Lebih Kelas Kurikulum

Berbeda dengan Sesi Bicara Rangkul, Kelas Kurikulum mengupas tuntas tiga topik utama, yaitu hubungan reflektif, disiplin positif, dan belajar efektif. Selepasnya dari kelas ini, para peserta otomatis menjadi relawan yang akan menggerakkan Sesi Bicara di wilayah tempat tinggalnya, baik sebagai inisiator maupun fasilitator.

Keluarga Kita Najelaa Shihab
Contoh poster Kelas Kurikulum Keluarga Kita awal 2018 (Dok. Keluarga Kita)

Kini para Rangkul juga tengah menyasar audiens dari kalangan menengah ke bawah meski tidak dalam bentuk diskusi, melainkan kegiatan nonton bareng. Lokasinya mulai dari Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) sampai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Film yang diputar pun lebih merakyat dan berkonsep komedi Betawi berdurasi pendek. Sementara, temanya mengambil salah satu materi kurikulum Keluarga Kita seperti Hukuman VS Konsekuensi.

“Kemarin pas nobar ada yang nangis. Oh, kena banget ya, ngomongin hukuman dan konsekuensi. Dia kayak menyesal pernah menghukum anaknya segitu beratnya sampai nangis,” kenang Nina yang juga terlibat dalam kegiatan nobar.

Keluarga Kita berharap, berbagai kegiatan tadi akan membuat semakin banyak anggota masyarakat yang menerapkan pengasuhan anak dengan penuh cinta.

Untuk mendaftar menjadi Rangkul dan mengetahui infonya lebih lanjut, silakan kunjungi situs keluargakita.com, ya!

(Febi/ Dok. Kula Coffee House & Keluarga Kita)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.