Kekuatan Super Seorang Ibu

By Febi Purnamasari | Published 6th September 2018

Menurut saya, setiap ibu secara naluriah memiliki berbagai ‘kekuatan super' (Dok. Shutterstock)

Salah satu pembelajaran terbesar dalam hidup saya adalah menjalani peran sebagai ibu. Hal-hal yang sebelumnya tak pernah terbayangkan dapat saya lakukan ternyata bisa terjadi sejak menjadi ibu. Menurut saya, setiap ibu secara naluriah memiliki berbagai ‘kekuatan super.’ Mulai dari kekuatan mengangkat beban berat sampai keikhlasan menghadapi rasa sakit.

Berdasarkan pengalaman pribadi, setidaknya ada empat kekuatan super seorang ibu dari segi fisik maupun mental. Saya pun yakin, masih banyak kekuatan super lainnya yang belum sempat terulas di sini.

Mengangkat beban berat

Saat masih lajang dulu, sebagian dari kita mungkin sering mengeluh ketika harus mengangkat barang-barang yang berat. Tapi, setelah menjadi ibu, ternyata kita bisa, lho, mengangkat berbagai beban yang berat. Mulai dari berlama-lama menggendong Si Kecil yang bobotnya lebih dari tujuh kilogram sampai mengangkat galon air minum dan tabung elpiji untuk keperluan dapur! Awalnya mungkin Ibu tak punya pilihan untuk melakukannya, tapi lama-lama kita menjadi terbiasa, kan?

Mengalahkan rasa takut/jijik

Setiap orang pasti memiliki ketakutan atau rasa jijik terhadap hal tertentu. Misalnya, takut dengan kecoa atau enggan bersinggungan dengan muntah, ingus, maupun pup orang lain. Kenyataannya, setelah memiliki anak, rasa takut maupun jijik Ibu terhadap hal-hal tersebut perlahan hilang. Ini karena sebagai seorang ibu, tugas kita sehari-hari berkutat menjaga kebersihan diri Si Kecil.

Jiwa melindungi pada diri kita pun otomatis lahir setelah memiliki anak. Seperti saat anak ketakutan dengan kemunculan kecoa atau serangga lainnya, Ibu berusaha mengusirnya dengan tangan sendiri. Kalau dulu sih, sebagian dari kita mungkin lari terbirit-birit sambil meminta bantuan orang lain untuk mengusirnya, ya.

Contoh lainnya, dulu, saya anti banget memegang maupun mencium aroma sebagian besar jenis buah. Tapi, setelah punya bayi, mau tidak mau saya harus sering bersinggungan dengan aneka buah. Walau memiliki rasa jijik terhadap penganan sehat itu, saya memaksakan diri untuk mengolahnya sendiri demi memberikan nutrisi terbaik untuk Si Kecil.

Keikhlasan menghadapi rasa sakit

Selain proses melahirkan, setiap ibu harus pula berhadapan dengan berbagai macam rasa sakit. Mulai dari nyeri jahitan persalinan normal maupun caesar, belajar menyusui, sampai fase menyusui anak balita yang suka gemas menggigit puting ibunya. Duh! Mulanya kita sering kali meringis karena menahan sakit, tapi pada akhirnya kita berhasil juga menghadapi rasa nyeri itu dengan ikhlas.

Tetap bisa mengurus anak dan rumah meski Ibu sakit

Mungkin kamu pernah mendengar anggapan bahwa seorang ibu pantang untuk sakit. Soalnya, ketika ibu sakit, satu keluarga dan seisi rumah bisa terbengkalai. Anggapan inilah yang bisa memicu seorang ibu untuk berusaha ‘kuat’ meski tubuhnya sudah lemah tak karuan. Ibu yang sedang sakit biasanya memaksakan diri untuk tetap bisa menjalankan prioritas hidupnya. Seperti menyusui, memberi makan, dan mengurus kebutuhan sang buah hati.

Salut deh, dengan dedikasi dan kekuatan super para ibu! Tapi, jangan baca artikelnya sendirian aja ya, Bu. Bagikan juga artikel ini ke suami agar ia makin sayang dan menghargai Ibu. Cause you’ve been doing great, Moms!

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.