KB Spiral yang Mengandung Hormon

By Febi Purnamasari | Published 9th August 2018

KB spiral jenis ini melepaskan hormon progestin  yang mempertebal lendir pada leher rahim untuk mencegah sperma mencapai atau membuahi sel telur (Dok. Wikimedia)

Masa nifas Ibu sudah selesai, sudah ada rencana untuk menunda kehamilan berikutnya? Ingat, Ibu dapat hamil kembali, bahkan sebelum mengalami menstruasi pertama pascapersalinan. Secepat-cepatnya 24 minggu setelah kelahiran bayi, tergantung Ibu menyusui secara eksklusif atau tidak.

Ada dua jenis KB spiral, KB spiral berlapis tembaga dan KB spiral hormon. Keduanya sama-sama berbentuk “T,” dimasukkan ke dalam rahim, dan aman bagi ibu menyusui. KB spiral jenis ini melepaskan hormon progestin yang mempertebal lendir pada leher rahim untuk mencegah sperma mencapai atau membuahi sel telur.

Selain itu, KB spiral mengandung hormon bekerja dengan mempertipis lapisan rahim dan menekan ovulasi secara sebagian.

Kelebihan

Adapun keunggulan KB spiral mengandung hormon, antara lain

  • efektif mencegah kehamilan untuk jangka panjang,
  • aman bagi ibu menyusui,
  • dapat dilepas kapan saja dan kesuburan dapat kembali dengan cepat,
  • tak menginterupsi aktivitas hubungan seksual,
  • leher rahim yang dipenuhi lendir dapat menghalangi bakteri untuk masuk sehingga menekan risiko penyakit menular seksual,
  • menurunkan risiko kanker selaput lendir rahim (endometrium) juga kanker serviks, dan
  • efektivitas KB spiral ini dapat mencapai lebih dari lima tahun.

KB spiral ini tidak membawa efek samping seperti pada metode KB yang mengandung estrogen, misal menurunkan produksi ASI. Namun, ibu menyusui sebaiknya menunggu pemasangan KB jenis ini minimal delapan minggu pascapersalinan.

Efek samping

Di sisi lain, KB spiral mengandung hormon dapat menimbulkan sejumlah efek samping yang mengganggu. Efeknya tentu berbeda-beda pada setiap orang.

  • Sakit kepala
  • Jerawat
  • Nyeri payudara
  • Pendarahan
  • Ketiadaan menstruasi, khususnya setelah setahun penggunaan
  • Perubahan suasana hati
  • Peningkatan berat badan
  • Kista ovarium
  • Kram atau nyeri panggul

Pada perempuan yang belum pernah hamil, rasa nyeri juga kram biasanya lebih terasa usai pemasangannya dan KB spiral rentan copot. Jika hamil saat menggunakan KB spiral, kamu berisiko tinggi mengalami kehamilan etopik, yakni sel telur yang dibuahi berada di luar rahim (biasanya di tuba falopi). Namun menurut situs kesehatan Mayo Clinic, hanya 1 persen perempuan yang hamil usai menggunakan KB spiral mengandung hormon pada tahun pertama.

Perempuan yang tidak cocok menggunakan KB ini

Untuk kamu yang mempertimbangkan untuk menggunakan KB jenis ini tidak cocok bagi perempuan dengan kondisi sebagai berikut:

  • Memiliki riwayat atau tengah menderita kanker payudara
  • Menderita kanker rahim atau leher rahim
  • Memiliki penyakit lever
  • Memiliki riwayat atau tengah menderita penyakit radang panggul
  • Menderita peradangan pada vagina atau leher rahim
  • Mengalami infeksi pada saluran kelamin
  • Mengalami pendarahan vagina tanpa sebab
  • Berisiko tinggi terkena penyakit menular seksual
  • Pernah bermasalah dengan pemakaian KB spiral sebelumnya

KB spiral dapat Ibu lepas bila mengalami menstruasi berat berkepanjangan dan mengalami nyeri parah saat masa haid.

Setelah mengetahui keunggulan, efek samping, dan ketidakcocokannya, saatnya memilih jenis KB spiral yang sesuai dengan kondisi Ibu, ya.

Baca artikel sebelumnya yang membahas mengenai Kelebihan KB Spiral Berlapis Tembaga.

Referensi:

  • Artikel “Mirena (hormonal IUD)” pada Mayo Clinic
  • Artikel “How Soon Can You Get Pregnant After Birth?” pada What To Expect

(Febi/ Dok. Wikimedia)

Share This: