Ibu Bekerja Dapat Mendidik Anak dengan Baik

By Febi Purnamasari | Published 1st November 2018

Kamu dapat memutuskan untuk menjadi ibu bekerja dengan menerapkan pola pengasuhan anak sebaik-baiknya (Dok. Shutterstock)

Ada kalanya ibu bekerja bukan mengejar karier semata, tapi karena menjadi tulang punggung utama keluarga. Kondisi ini dialami Pemerhati Anak dan Keluarga Melly Kiong. Ketika Melly masih kecil, ayahnya berpulang dan sang ibu tidak siap secara mental untuk mencari uang.

“Itu yang membuat saya merasa bahwa ada yang harus diubah. Perempuan harus kuat secara mental karena saya sadar itu (ketidaksiapan) tidak boleh terulang lagi di kehidupan keluarga saya,” jelas Melly kepada Parentalk.

Melly pun memutuskan untuk menjadi ibu bekerja dengan menerapkan pola pengasuhan anak sebaik-baiknya. Prinsip inilah yang kemudian ia tuangkan dalam buku berjudul Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik. Nah, buat para Ibu yang bekerja, jangan galau, ya! Melly punya tips agar ibu bekerja bisa mendidik anak dengan baik.

Prioritaskan pengasuhan anak

Melly mengingatkan para ibu bekerja bahwa pendidikan anak tetap menjadi prioritas dan tanggung jawab mereka, sementara mencari uang adalah hal kedua.

“Jangan dibalik. Kebanyakan sekarang kan dibalik. Cari uang nomor satu dan hal kedua itu mendidik anak. Dia cari pengasuh yang semahal-mahalnya, tapi itu tidak akan bisa menggantikan (peran orang tua),” tutur Melly mengingatkan.

Maksimalkan waktu berkualitas

Melly meningkatkan bonding atau ikatan dengan anak-anaknya dengan memberikan waktunya yang sedikit secara bermanfaat dan berkualitas.

“Banyak orang tua yang seharian sama anak, tapi isinya ngomel-ngomel doang. Itu kan juga enggak ada artinya,” ungkap Melly.

Jadi, saat lagi bersama Si Kecil, pusatkan seluruh perhatian padanya, ya. Matikan dulu gadget-mu dan ikutlah bermain dengan penuh antusias.

Terapkan mindful parenting

Menurut Melly Kiong, mindful parenting adalah pola asuh yang berkesadaran. Ada lima dimensi dalam mindful parenting.

  1. Mendengarkan dengan penuh perhatian dan berbicara dengan empati (pegang telinga)
  2. Tidak menghakimi (tutup mulut)
  3. Pengendalian emosi diri (elus-elus dada)
  4. Adil dan bijaksana
  5. Welas Asih (merangkai hati dengan tangan)

“Kalau anak salah, jangan langsung diomelin, tapi dengarkan alasannya. Soalnya kalau kita marah, masalahnya enggak selesai. Kita juga tidak perlu menghakimi saat anak berbuat salah,” jelas Melly.

Ia juga mengingatkan, tidak semua kesalahan ada pada anak. Alasannya, anak adalah perekam ulung dan bukan pendengar yang baik.

“Kalau merasa anak masih marah, cek dulu ibu dan bapaknya. Siapa yang pemarah? Siapa yang egois? Itu saja yang menjadi bahan untuk kita cek. Sekarang persoalannya, mau enggak kita berubah? Kalau mau berubah terapkan lima dimensi tadi,” ungkap Melly.

Hindari pula menyalahkan dan mengeluarkan kata-kata negatif tentang anak ketika ia khilaf. Soalnya, hal itu justru membuat anak menjauh dari orang tua juga merasa tidak percaya diri.

“Di alam bawah sadarnya terekam, ‘Saya tidak baik. Kata Mama, saya malas, jelek. Jadi, setiap hari dia selalu menyerap itu,” jelas pendiri Rumah Moral ini

Selain itu, ketika anak berbuat kesalahan, tanyakan pada anak, “Kita harus bagaimana?” Menurut Melly, orang tua harus terlibat mencari solusi saat anak berbuat kesalahan.

Melly berpendapat, ketika orang tua menerapkan mindful parenting, kebiasaan marah-marah dan selalu menyalahkan anak akan hilang. Secara otomatis, kecerdasan secara emosional juga meningkat dengan sangat baik.

“Kalau mindful parenting ini bisa tersebar ke seluruh Indonesia, saya yakin sekali kita akan bisa menyiapkan generasi yang lebih bahagia,” tambah Melly.

Selalu ‘hadir’ di tengah keseharian anak

Salah satu cara andalan Melly adalah aktif mengirimkan pesan lewat memo untuk anak-anaknya. Dengan begitu, orang tua bisa terasa hadir di tengah-tengah anak meski secara fisik tak ada. Melly mengaku, hampir seluruh sudut rumahnya dipenuhi tulisan.

“Ketika saya menulis memo, saya bisa minta maaf sama anak saya ketika saya harus marah. Saya tuliskan juga alasannya. Jadi, anak itu juga diajak untuk mendiskusikan why-nya sehingga kita belajar memperbaiki diri. Di situlah anak diberikan ruang untuk bisa didengarkan dan boleh protes,” jelas Melly.

Bila anakmu belum membaca dan menulis, kamu dapat meminta pengasuh membacakan isi pesannya. Kamu juga bisa rutin video call dengan Si Kecil di sela-sela kesibukan bekerja.

(Febi/ Dok Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.