Gangguan Pascapersalinan Tak Boleh Disepelekan!

By Febi Purnamasari | Published 23rd April 2018

Ada tiga kategori gangguan pascapersalinan, antara lain baby blues, postpartum depression, dan postpartum psikosis (Dok. Pixabay)

Tiba-tiba saya menangis di hari kepulangan ke rumah membawa anak sulung yang masih bayi. Pencetusnya karena ibu kandung dan mertua saya heboh ketika memandikan si kakak. Selama mandi hingga berpakaian pun tangisnya masih berlangsung. Usai menghadapi situasi itu, saya menangis tersedu-sedu di kamar, mungkin karena syok dan kebingungan.

Beruntung suami mengerti kondisi saya dan berusaha menyamankan sambil memeluk erat. Pernah mengalami hal serupa, Bu? Kondisi tadi termasuk gangguan pascamelahirkan ringan yang disebut baby blues.

Baby blues membuat ibu mudah tersinggung

Gejala baby blues mulai dari emosi ibu yang naik-turun juga mudah tersinggung dan menangis. Gangguan ini berlangsung dua minggu dan paling lama sebulan. Menurut Psikolog Keluarga Vera Itabiliana, 80 persen perempuan mengalaminya dan kondisi tersebut tergolong normal.

Waspada keinginan bunuh diri karena PPD

Ada juga gangguan pascamelahirkan yang perlu diwaspadai. Seperti sindrom depresi pascamelahirkan atau postpartum depression (PPD) yang baru dapat pulih dalam waktu setahun. Gejalanya, antara lain ibu merasa bersalah berlebihan, gangguan pola tidur dan makan, kecemasan yang tidak masuk akal bagi orang-orang sekitarnya, dan adanya keinginan untuk bunuh diri.

Sebanyak 13 persen perempuan di dunia mengalami PPD. Di negara berkembang, persentase perempuan yang mengalaminya lebih besar, yaitu 20 persen.

Perbedaan baby blues dan PPD

Ibu yang mengalami baby blues dapat menjalankan fungsinya merawat bayi, sementara ibu dengan depresi pascamelahirkan cenderung menjauhkan diri dari bayinya. Ini karena ia merasa kurang kompeten dalam mengurus sang buah hati.

Postpartum psikosis dapat mencelakai bayi

Gangguan pascapersalinan yang mengancam nyawa anak adalah postpartum psikosis. Saat mengalami gangguan kejiwaan ini, seorang ibu biasanya berkeinginan untuk menyakiti buah hatinya sehingga harus dipisahkan.

Ibu mengalami delusi maupun halusinasi seperti menerima ‘bisikan’ untuk menyakiti anak kandungnya atau melihat bayi dalam bentuk lain yang menyeramkan.

Postpartum psikosis memiliki probabilitas kecil. Dalam literatur, dari 1.000 kelahiran hanya ada 1 kasus. Namun, siapapun bisa terkena gangguan kejiwaan ini,” jelas Vera.

Gangguan ini juga bisa terjadi kapan saja, secara tak terduga, dan hanya sesaat. Misal, ibu yang menyakiti bayinya kemudian menyesali perbuatannya. Orang-orang yang punya riwayat gangguan kejiwaan pada dirinya maupun keluarga rentan berpotensi lebih besar mengalami postpartum psikosis.

Penyebab gangguan pascapersalinan

Gangguan pascamelahirkan rentan dialami para ibu. Pemicu dominannya berasal dari diri ibu sendiri. Mereka kelelahan selama hamil dan melahirkan juga setelahnya, mengalami perubahan fisik, kebebasan, dan keseharian yang drastis, serta pengaruh hormon.

Ekspektasi yang tidak sesuai dengan realita maupun kurangnya persiapan kehamilan dan persalinan juga mempengaruhi.

“Kalau kita dengar tentang hamil dan melahirkan, hal yang didengar selalu yang indah-indah. Ternyata kenyataannya berbeda. Contoh lainnya, ibu sudah berencana bersalin di rumah sakit tertentu, ternyata tidak bisa terwujud karena melahirkan saat berada di luar kota,” ujar Vera.

Faktor lainnya yang juga mempengaruhi kejiwaan ibu seperti kurangnya dukungan dari pasangan dan tantangan ibu bekerja.

Upaya mengurangi risiko gangguan pascapersalinan

Untuk mengurangi risiko gangguan pascapersalinan pada ibu, Psikolog Vera berbagi sejumlah tips.

“Ibu harus realistis, jangan memaksakan diri menjadi sempurna dan bekali pengetahuan dari sumber akurat. Lebih baik memegang satu sumber yang valid. Ibu juga jangan menjadi wanita perkasa yang memaksakan menyelesaikan semua sendiri. Antisipasi juga berbagai kemungkinan yang menjadi tantangan,” kata Vera.

Menurut Vera, perempuan berbeda dari pria yang cenderung flight or fight, yakni pergi atau melawan masalah yang dihadapi. Perempuan cenderung tend and befriend. Ia lebih peduli terhadap masalahnya dan terdorong untuk mencari informasi (tend) dan mencari teman-teman yang senasib dan sepenanggungan (befriend).

Vera menambahkan, “Hormon oksitosin keluar ketika ibu tahu ada orang yang care dan mendengarkan dia. Gangguan kejiwaan pun bisa terhindarkan.”

Pentingnya dukungan lingkungan sekitar ibu

Selain berdamai dengan diri ibu, lingkungan sekitarnya juga perlu ikut mendukung, seperti pasangan, keluarga, dan komunitas. Komunikasikan hal yang diinginkan kepada suami dan supporting system. Pikirkan plan B mengenai hal yang bisa mereka bantu ketika Anda merasa kewalahan pascamelahirkan.

Seperti pepatah, “It takes a village to raise a child.” Upaya membesarkan seorang anak tidak bergantung pada ibu saja, tetapi juga orang-orang di sekelilingnya.

(Febi/Dok. Pixabay)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.