Ekspektasi vs Realita Liburan ke Luar Kota dengan Dua Balita

By Febi Purnamasari | Published 4th March 2019

Ketika eksekusi rencana liburan jauh dari harapan (Dok. Shutterstock)

Pernahkah Ibu memiliki ekspektasi tinggi terhadap rencana liburan, tapi eksekusinya jauh dari harapan? Saya baru saja mengalaminya, nih. Padahal, saya bela-belain memakai dana tabungan agar rencana liburan bersama keluarga terealisasi. Kebetulan kedua anak saya yang ikut serta masih berusia balita. Agenda utama liburan saat itu adalah mereka menjajal pengalaman pertama naik kereta ke Bandung dan kami sekeluarga menikmati staycation di hotel setempat.

Lalu, apa saja ekspektasi vs realita liburan ke luar kota dengan dua balita versi saya?

Anak memiliki waktu bersenang-senang lebih banyak ketimbang di rumah

Tentu inilah tujuan dari liburan, bukan? Namun sayangnya, terkadang liburan berjalan tak sesuai harapan.

Realita: perjalanan kereta kelas ekonomi cukup lama (tiga jam) dan anak-anak diharuskan duduk tenang di ruang gerak yang terbatas. Belum lagi, perjalanan dari stasiun ke hotel cukup macet. Mereka menjadi cepat bosan karena sedikit bergerak. Malahan, kalau saya pikir-pikir, kedua anak saya lebih ceria di rumah karena bisa bergerak leluasa.

Anak fit selama liburan

Tubuh yang sehat (terutama pada anak) adalah kenikmatan hakiki saat berlibur. Sebelum berangkat, saya pun rajin oles-oles essential oil berkhasiat immune booster pada tubuh para buah hati. Saya juga menahan diri untuk tidak ke mal dulu untuk mengurangi risiko tertular penyakit. Tapi, manusia hanya bisa berencana dan berusaha karena kondisi sehat maupun sakit merupakan takdir Sang Pencipta.

Realita: anak sakit! Yap, siapa yang menyangka si bungsu malah demam di hari keberangkatan. Ia pun menjadi agak rewel dan istirahat saya kerap terganggu di malam pertama liburan.

Leluasa menikmati ragam fasilitas hotel

Kebetulan hotel tempat kami menginap punya ragam fasilitas. Sebut saja, kolam renang, mini zoo, outdoor playground, spa, dan gym.

Realita: apakah saya berhasil menikmati semuanya? Tentu tidak. Bahkan, fasilitas mini zoo dan outdoor playground baru bisa kami nikmati beberapa jam menjelang check out. Ini karena saya kerepotan mengurus dua balita sendiri dan kami kelelahan sehari sebelumnya sehingga ingin beristirahat di kamar saja.

Berenang, mencoba spa, atau menjajal fasilitas gym? Sayangnya, itu semua tak terlaksana.

Suasana hati ibu menjadi lebih baik

Seharusnya sih, begitu. Soalnya, keluhan “butuh piknik” sering kali menjadi dalih para ibu untuk segera berlibur.

Realita: rengekan anak-anak di sepanjang jalanan Kota Bandung yang macet membuat saya lebih stres dari biasanya.

Rasa lelah juga terasa berkali-kali lipat karena sayalah yang mengurus sebagian besar kebutuhan dua anak balita. Sementara kalau di rumah, ada  Si Embak yang meringankan pekerjaan. Padahal, durasi liburan kami hanya tiga hari dua malam, lho.

Belum lagi, ada drama anak-anak susah makan. Saya pun mengalami burnout sehingga mudah marah ke anak ketika polah mereka menguji kesabaran. Baru kali itu saya merasa lebih galak jadi biasanya dan saya menyesalinya.

Burnout merupakan sindrom kelelahan baik secara fisik maupun mental. Saat burnout terjadi, konsep diri dan perilaku kerja menjadi negatif serta konsentrasi berkurang. Jadi, waspadalah jika Ayah atau Ibu merasakan ciri-ciri tersebut ketika liburan.

Bersantai saja di rumah membuat diri lebih ‘waras’ ketimbang liburan, kok

Saya pun memetik pelajaran, semakin jauh destinasi liburan dan semakin mahal anggaran tak menjamin pengalaman mengesankan yang sepadan dengan pengorbanan.

Baru deh, setelah mendapatkan pengalaman liburan seperti ini, saya menjadi sadar bahwa bersantai di rumah sebenarnya lebih baik ketimbang jalan-jalan ke luar bersama dua anak balita atau lebih! Stamina orang tua lebih terjaga karena medan bermain anak lebih aman dan nyaman juga pikiran lebih ‘waras.’ Hanya saja, PR-nya adalah orang tua harus memikirkan aktivitas yang bisa diadakan di rumah agar waktu berkualitas bersama keluarga berjalan seru.

Sebenarnya, upaya menyegarkan kembali pikiran tak perlu jauh atau mahal, kok. Rekreasi sejenak di taman hiburan atau staycation di hotel sekitar kota tinggal sudah bisa menyenangkan hati anak balita beserta orang tuanya. Terlebih, anak-anak balita cenderung lebih mudah bahagia karena hal-hal sederhana.

Tips liburan bersama dua anak balita atau lebih

Tapi, kalau kamu tetap kekeuh ingin berlibur ke luar kota, coba atur strategi agar perjalanan dan liburan bersama anak balita tetap nyaman.

  • Ajak bala bantuan yang didedikasikan mengurus para buah hati selama liburan.
  • Jika naik kereta atau pesawat, pilih jadwal yang jam tibanya di luar waktu sibuk. Bila anak bisa tidur siang di tengah perjalanan, kamu juga bisa mempertimbangkan hal tersebut dalam menentukan jadwal keberangkatan.
  • Makan di restoran sesekali saja dan andalkan jasa ojek online untuk memesan makanan selama liburan. Kalau bagi saya pribadi sih, sesi makan di restoran bersama dua anak balita sangat menantang. Jadi, ojek online dapat menghemat waktu sekaligus tenaga Parents.
  • Sempatkan kunjungan ke taman sebagai bagian dari rencana perjalanan. Tujuannya agar anak dapat melampiaskan kebutuhannya bergerak sehingga risiko tantrum dapat ditekan. Ini karena anak-anak balita sangat membutuhkan aktivitas fisik untuk membuat diri mereka lebih tenang.

Semoga pengalaman saya ini dapat membantu Millennial Parents menimbang-nimbang agenda liburan, ya!

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This: