Begini Rasanya Jadi Relawan Parenting

By Febi Purnamasari | Published 4th March 2019

jadi relawan parenting memberikan pengalaman yang menempa diri

Tak mudah untuk menjadi fasilitator Sesi Berbagi Cerita maupun Sesi Nonton Bareng Relawan Keluarga Kita (Rangkul) karena mereka pasti menghadapi berbagai tantangan. Parentalk pun berkesempatan mendengar cerita para Rangkul dan menyadari betapa jadi relawan parenting memberikan pengalaman yang menempa diri.

Canggung di sesi sharing perdana

Rasa percaya diri kerap menjadi tantangan para Rangkul baru, terutama ketika hendak menggelar Sesi Nobar Rangkul untuk pertama kalinya.

Tapi saya kan bukan ahlinya. Nanti kalau saya ngomong salah.

Ungkapan itu pun sering didapti Tim Keluarga Kita ketika memberikan pelatihan khususnya untuk kader masyarakat. Anggota Tim Keluarga Kita Siti Nur Andini pun menegaskan kepada para Rangkul bahwa sang penggagas, Najelaa Shihab, adalah narasumber utama. Namun, materinya disampaikan dalam bentuk video.

Jadi relawan parenting memberikan pengalaman yang menempa diri (Dok. Febi)

“Kalau mereka (Rangkul) hanya memfasilitasi sesi sharing. Makanya ini sifatnya berbagi. Kayak Ibu Indah (Rangkul Jakarta Utara) cerita bahwa ia tuh lupa sama dirinya akhirnya dia sakit. Sebenarnya kan dari kesalahan atau kelupaan, kita bisa belajar bersama. Harapannya lewat pengalaman pribadi fasilitator peserta dapat belajar dari kegagalan dan menstimulus mereka untuk berbagi juga,” jelas perempuan yang akrab disapa Dini itu.

Agar lebih percaya diri, para fasilitator tak hanya dibina oleh Tim Keluarga Kita, tetapi juga dibekali buku panduan yang berisi hal-hal teknis saat menggelar Sesi Nobar Rangkul.

Hadirin perlahan pergi

Tantangan lainnya adalah peserta yang ‘mundur teratur’ di tengah kegiatan.

“Kita sudah ngumpulin banyak orang sebelum acara. Tapi ternyata, kalau sudah berjalan separo pada pulang. Saya makanya belajar, apa karena penyampaian saya kurang menarik atau gimana,” jelas fasilitator lainnya di Sesi Nobar Rangkul, Nurjainah.

Alih-alih patah arang, Nurjainah justru termotivasi untuk lebih banyak belajar agar para peserta bisa bertahan hingga sesi selesai.

“Soalnya menurut saya, sesi ini benar-benar menyangkut kebutuhan kita semua sehari-hari,” tambah Rangkul Jakarta Utara ini.

Sesi Nobar Rangkul, diskusi ringan yang mendorong pesertanya untuk belajar parenting dari sesama orang tua (Dok. Febi)

Tak hanya Nurjainah, Eva Juliana selaku Rangkul untuk Sesi Berbagi Cerita juga pernah menghadapi pengalaman serupa.

“’Eh gue ada ikutan kelas, lho.’

‘Sumbernya siapa?’

‘Oh, enggak, ini pengisi acaranya Bu Yulia dari Keluarga Kita.’

‘Bu Yulia itu siapa, ya?’” kenang Eva yang merupakan Rangkul Wilayah Tangerang Selatan.

Eva pertama kali menggelar Sesi Berbagi Cerita Rangkul di rumah temannya dengan peserta dari kalangan warga sekitar.

“Pertama kali buat kelas itu rasanya mungkin dari 20 orang, saya beranggapan setengahnya itu bisa jadi kader, nih. Tapi, setengahnya lagi (ternyata) seleksi alam, perlahan-lahan mundur,” terang Eva.

Namun, perjuangan keduanya kini berbuah manis. Apa saja kesan mendalam yang mereka peroleh dengan menjadi Rangkul? Yuk, cari tahu di artikel Manfaat Besar Menjadi Relawan Parenting.

(Dok. Febi)

Share This: