Bantuan untuk Ibu dengan Gejala Depresi

By Febi Purnamasari | Published 4th March 2019

Seorang ibu rentan mengalami gangguan psikologis pascamelahirkan (Dok. Shutterstock)

“Saya melihat ibu pascamelahirkan seperti orang yang habis sakit berat. Dia butuh recovery dan orang yang sedang sakit ini jangan berjuang sendirian perlu dibantu dan didukung.” – Pendiri Mother Hope Indonesia

Seorang ibu rentan mengalami gangguan psikologis pascamelahirkan. Salah satu kondisi yang paling umum adalah baby blues. Menurut Psikolog Keluarga Vera Itabiliana, gangguan ini berlangsung dua minggu dan paling lama sebulan. Selain itu, 80 persen perempuan mengalaminya dan kondisi tersebut tergolong normal.

Namun, waspadalah bila seorang ibu menunjukkan tanda-tanda yang memburuk. Seperti gejala depresi yang mulai mengganggu aktivitas normal harian dan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang (bisa berbulan-bulan bila tidak segera ditangani). Misalnya, sering cepat marah, sulit berada dekat dengan bayi (bahkan tidak tertarik dengan bayinya sendiri), dan menarik diri dari keluarga dan teman.

Ibu juga berisiko mengalami kondisi yang lebih berat, yakni psikosis pascamelahirkan. Contohnya, berkeinginan menyakiti buah hatinya dan mengalami delusi maupun halusinasi seperti menerima ‘bisikan’ untuk menyakiti anak kandungnya.

Lantas, seperti apa bantuan untuk Ibu dengan gejala depresi?

Parentalk merangkum sejumlah rekomendasi Pendiri Mother Hope Indonesia (MHI) Nur Yanayirah untuk ibu maupun lingkungan sekitarnya bila menemukan gejala-gejala tersebut.

Orang terdekat ibu

  • Perbesarlah kasih sayang, empati, kesabaran, dan toleransi kepada ibu yang mengalami depresi maupun psikosis pascamelahirkan.
  • Sarankan dan temani ibu ke psikiater.
  • Pekalah terhadap tanda-tanda seseorang yang mengalami gangguan jiwa, terutama bila ia berupaya bunuh diri.
  • Jangan pernah meninggalkan ibu dan bayi serta anak-anaknya yang lain tanpa pengawasan.

Bagi ibu

Konselor Menyusui F.B. Monika yang pernah melalui gangguan pascapersalinan menyarankan ibu untuk melakukan pemeriksaan dini lewat Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). Tes ini hanya terdiri atas sepuluh pertanyaan. Sebaiknya pemeriksaan ini dilakukan minimal 6-8 minggu setelah melahirkan.

Sementara itu, Yana menyarankan agar ibu harus selalu jujur dengan kondisi jiwanya.

“Depresi atau tidak, itu jangan dipikirkan. Nanti akan terlihat hasil diagnosisnya. Di MHI, kami tidak boleh bilang ibu ini depresi atau mengalami gangguan jiwa lainnya. Tapi, ibu itu perlu jujur tentang dirinya, misalnya dia sedih atau tidak menyukai bayinya, ada pikiran untuk bunuh diri atau menyakiti bayinya sendiri, membenci kehamilannya,” jelas Yana.

Bila gejala-gejala depresi begitu jelas dan semakin berat, jangan sungkan untuk ke psikiater untuk mendapatkan obat antidepressant bila diperlukan. Setelah itu, datanglah ke psikolog untuk mendapatkan konseling dan psikoterapi.

Jika tak bisa mengungkapkan beban pikiran yang dialami secara verbal, Ibu bisa bergabung dengan grup Facebook motherHOPE Indonesia. Di grup online tersebut, Ibu dapat mengungkapkan kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapi. Biasanya, para anggota MHI lainnya akan berusaha memberikan saran-saran pribadi.

Lewat grup Facebook, MHI juga menawarkan pendampingan oleh psikolog dan psikiater profesional via Whatsapp. Dengan begitu, Ibu dapat meminta arahan ketika sulit berpikir jernih.

Apabila terlintas pikiran untuk bunuh diri, segera hubungi Komunitas Into The Light dengan menulis curhatan ke email [email protected]

Hal yang bisa dilakukan suami

Menurut Yana, suami harus menjadi orang pertama yang mendukung ibu agar mengurangi risiko ataupun bangkit dari depresi. Hal-hal yang dapat dilakukan suami berikut ini dapat membuat istri tidak merasa sendirian.

  • Bersedia diedukasi tentang baby blues dan depresi pascamelahirkan.
  • Ikut serta dalam memeriksakan kehamilan.
  • Membantu merawat dan mengasuh bayi (misal, bila ibunya hendak mandi atau beristirahat, sementara bayi menangis, suami bersedia membantu).
  • Memahami kondisi perubahan fisik istri dan tidak mematok standar kecantikan tertentu usai melahirkan.
  • Bersabar dengan kondisi psikis istri.
  • Membatasi tamu dan memberikan jadwal kunjungan setelah persalinan istri.

“Jangan terlalu banyak tamu dan jangan terlalu lama. Ketika istri harus menyusui bayi atau harus tidur, sebaiknya suami saja yang melayani tamu. Pokoknya jangan sampai tamu-tamu yang datang itu membebani atau memberikan komentar yang negatif kepada istrinya,” terang Yana.

(Febi/ Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.