Bahaya Penyakit Campak dan Rubella

By Febi Purnamasari | Published 7th September 2018

Anak-anak dan orang dewasa yang belum pernah diberikan imunisasi campak dan rubella atau belum pernah menderita keduanya berisiko tinggi tertular penyakit tersebut (Dok. Shutterstock)

Kementerian Kesehatan RI menambahkan campak dan rubella (MR) dalam daftar vaksin yang wajib diberikan pada anak mulai Agustus 2017. Periode Agustus-September 2018 ini pun menjadi tahun kedua kampanye pemberian vaksin MR secara gratis. Masyarakat sebenarnya beruntung karena sebelum pemerintah menggratiskan vaksin MR, mereka harus membayar sekitar Rp300.000 untuk mendapatkan vaksin kombinasi MMR yang memberikan perlindungan tak hanya terhadap campak dan rubella, tetapi juga penyakit gondongan.

Apa itu penyakit campak dan rubella?

Keduanya adalah penyakit infeksi menular melalui saluran napas yang disebabkan oleh virus campak dan rubella (campak jerman). Anak-anak dan orang dewasa yang belum pernah diberikan imunisasi campak dan rubella atau belum pernah menderita keduanya berisiko tinggi tertular penyakit tersebut.

Perbedaan campak dan rubella

Perbedaan keduanya terlihat pada gejala dan komplikasi yang ditimbulkan. Pada penyakit campak, demam terus merangkak naik hingga mencapai puncaknya (40 derajat Celsius) di hari keempat atau kelima sakit. Setelah itu, demam perlahan turun hingga hari kesepuluh.

Ruam campak muncul saat penderita demam tinggi, bukan setelah demam turun. Ruamnya menonjol/timbul dan semakin hari makin gelap. Di hari kedelapan ruam masih ada.

Sementara, gejala awal rubella bukan demam, melainkan rasa lesu seperti tidak enak badan, kurangnya nafsu makan, dan kelenjar getah bening membesar. Tubuh mulai terdapat ruam pada hari keempat sakit. Ruam yang muncul lebih jarang, tidak menonjol, dan lebih tipis daripada campak.

Penderita baru mengalami demam di hari keempat sampai kelima sakit. Suhunya tidak setinggi campak (puncaknya sekitar 38,3 derajat Celsius).

Bahkan menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), gejala rubella tidak spesifik, mirip gejala flu, atau bahkan bisa tanpa gejala.

Penyakit campak maupun rubella sama-sama menyebabkan selaput lendir meradang. Misalnya, mata merah dan belekan, diare, atau batuk dan pilek.

Alasan campak dan rubella sangat berbahaya

Campak dapat menyebabkan komplikasi yang serius, seperti radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), kebutaan, gizi buruk, dan bahkan kematian.

Salah satu artis yang kedua anaknya menderita campak adalah Oki Setiana Dewi. Sebagaimana dilansir Kompas, penyakit campak yang diderita kedua putri Oki agak berat sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Sementara, rubella biasanya berupa penyakit ringan pada anak. Namun bila menulari ibu hamil pada trimester pertama atau awal kehamilan, rubella dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi yang dilahirkan. Kecacatan tersebut dikenal sebagai Sindroma Rubella Kongenital (SRK) yang meliputi kelainan pada jantung dan mata, ketulian, dan keterlambatan perkembangan.

Baru-baru ini, lewat akun Instagramnya, Dokter Spesialis Anak Arifianto berbagi cerita tentang Saras, seorang pasiennya yang mengalami SRK sehingga mengalami cacat bawaan lahir:

  • katarak kongenital (kini ia mengenakan kacamata dengan ketebalan lensa plus 12),
  • tuli saraf sangat berat,
  • penyakit jantung bawaan (ada katup jantung yang belum menutup saat ia lahir),
  • mikrosefalia (lingkar kepalanya kecil, menandakan ukuran otak yang lebih kecil pula), dan
  • keterlambatan perkembangan global.

Status gizi Saras juga kurang. Kondisinya saat ini dikarenakan sang ibu mengalami rubella saat sedang mengandungnya.

Tidak ada pengobatan untuk penyakit campak dan rubella karena penyakit yang disebabkan oleh virus sembuh dengan sendirinya.

Begitu besar dampak kedua penyakit ini ya, Parents! Bila masih ragu perihal keamanan vaksinasinya, cek juga artikel Fakta Seputar Vaksinasi Campak-Rubella (MR).

Referensi:

  • Artikel “Pengenalan Vaksin Measles Rubella (MR)” pada WHO South-East Asia
  • “Kemenkes Targetkan 31,9 Juta Anak Dapat Imunisasi MR Gratis” pada Republika

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.