Alasan Perempuan Khawatir Menjadi IRT

By Febi Purnamasari | Published 10th August 2018

Ibu-ibu rumah tangga lainnya ternyata juga pernah mengalami kekhawatiran menjadi IRT (Dok. Shutterstock)

Setidaknya, saya membutuhkan waktu berbulan-bulan sampai akhirnya mantap mengundurkan diri dari pekerjaan terdahulu. Saat itu, saya mempunyai niatan menjadi ibu rumah tangga (IRT), namun mengkahawatirkan sejumlah hal.

Ternyata, tidak saya saja, ibu-ibu rumah tangga lainnya ternyata juga pernah mengalaminya. Lantas, apa saja alasan perempuan khawatir menjadi IRT? Bagaimana pula cara mengatasinya? Berikut hasil obrolan saya dengan para ibu rumah tangga inspiratif yang kini menjalankan perannya dengan suka cita.

Mengecewakan orang tua

Ketika saya memutuskan resign, beberapa kali saya mendapati orang tua berkata, “Sayang ya, kami sudah menyekolahkanmu tinggi-tinggi, tapi akhirnya tidak bekerja.”

Ternyata kondisi serupa juga dialami ibu lainnya yang telah mengenyam jenjang pendidikan tinggi. Salah satunya, Wita Dewi Widiastuti, ibu dari anak berusia 5 dan 3 tahun.

“Mama saya marah dan kecewa banget. Mana tinggal serumah… Jadi, setiap hari saya dimarahin,” jelas perempuan berusia 32 tahun ini.

Lalu, bagaimana menghadapinya? Saya pribadi memilih untuk tidak mendebatnya dan justru termotivasi untuk membuktikan bahwa kehadiran saya akan bermanfaat besar bagi tumbuh kembang cucu mereka. Misal, dengan terjun langsung mengurus anak maupun aktif memberikan kegiatan-kegiatan bermanfaat bagi mereka setiap harinya.

Saya juga berusaha membuktikan, ilmu dan cara berpikir kritis yang diperoleh di bangku kuliah dulu senantiasa menjadikan saya gemar belajar dan paham betul tahapan perkembangan Si Kecil.

Kerja 24 jam nonstop

Yes, it is! Rasa lelah maksimal pun dirasakan Ummi Kaltsum alias Mia yang mengurus empat anak seorang diri.

“Hal yang paling berasa (selama menjadi IRT), capeknya maksimal dan enggak ada duitnya. Mulai melek di pagi hari sampai merem lagi urusannya anak. Anak bangun, makan, mandi, pup, mikirin masaknya, mikirin kesejahteraannya. Tapi, saya happy,” jelas Mia.

Semakin kita memahami dan menyadari bahwa anak akan mendapatkan pengasuhan terbaik dari ibunya, rasa lelah stand by 24 jam untuknya akan berbuah keikhlasan, kok.

Ketergantungan finansial pada suami

“Dulu, gaji saya berkali-kali lipat lebih gede dari suami. Jadi, kebayang ya, pas berhenti bekerja,” ungkap Wita.

Sementara, Lita tak memungkiri adanya kekhawatiran bergantung secara finansial pada suami.

“Tapi, lama-lama ketemu celahnya dengan mencari cara supaya tetap asyik menjadi ibu rumah tangga. Contohnya dengan menjadikan hobi sebagai sumber penghasilan,” jelas perempuan yang juga seorang blogger dan penulis lepas ini.

Post power syndrome

Transisi dari rutinitas khas profesional menjadi rutinitas mengurus bocah seharian tentu berat. Apalagi, keseharian kita sebelumnya diwarnai interaksi dengan orang-orang dewasa. Tapi, setelah menjadi ibu rumah tangga, kita dituntut cakap ‘bernegosiasi’ dengan anak balita setiap hari. Tak jarang, para ibu menjadi ‘kaget,’ bahkan menunjukkan post power syndrome (PPS). Yakni, ketidaknyamanan pada orang yang tadinya aktif dan banyak kegiatan, namun mendadak kehilangan semua itu. Untuk mengetahui lebih lanjut seputar PPS, cek juga artikel Post Power Syndrome pada Ibu Rumah Tangga.

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This: