Tips Merawat Kulit Bayi Baru Lahir

By Febi Purnamasari | Published 22nd January 2019

Perlindungan terbaik justru menjaga kulitnya tetap kering dan bersih secara alami (Dok. Shutterstock)

Semakin sedikit hal yang kita lakukan, kulit bayi pun terlindungi dari berbagai masalah. Itulah jawaban Dokter Spesialis Anak Fransisca Handy ketika ditanya soal cara tepat merawat kulit bayi baru lahir. Dengan kata lain, Millennial Parents sebaiknya menghindari penggunaan bedak dan minyak penghangat agar kulit Si Kecil terhindar dari masalah seperti dermatitis kontak alergi. Yakni, reaksi alergi yang biasanya terjadi akibat kontak kulit bayi dengan minyak penghangat.

Jadi, bagaimana cara tepat merawat kulit bayi baru lahir yang masih sangat sensitif?

Abaikan reaksi alami pada kulit bayi

Vernix (lapisan putih lengket yang melekat pada bayi baru lahir), erythema toxicum (ruam kemerahan pada kulit bayi), dan milia (bintik-bintik putih atau kuning di wajah mirip jerawat). Semuanya merupakan reaksi bawaan kulit bayi baru lahir dan akan hilang dengan sendirinya tanpa penanganan apapun.

“Kulit bayi kan masih baru sekali, masih tipis. Dia juga masih dalam proses perkembangan dan adaptasi. Ini karena kulit bayi sebelumnya terendam air ketuban selama sembilan bulan, lalu dia keluar ke udara bebas yang tentu relatif lebih kering daripada ketika masih dalam kandungan. Tentu ada proses adaptasi di situ,” jelas dr. Fransisca.

Merawat kulit bayi secara alami

Dengan begitu, kulit bayi akan terhindar dari reaksi alergi, ruam popok, dan masalah kulit lainnya. Salah satu caranya, mengurangi pemakaian popok sekali pakai dan mengganti popok kain sesering mungkin. Selain itu, hindari pemakaian tisu basah dan bedak ketika membersihkan kulit bayi. Pemakaian kapas yang dibasahi air bersih saja justru lebih baik karena merupakan cairan pelembab alami paling aman.

Sementara agar kulit tetap kering dan mencegah biang keringat, kenakanlah pakaian tipis yang menyerap keringat pada bayi.

Penggunaan krim bayi juga sebaiknya atas indikasi medis dari dokter.

“Hampir sebagian besar ruam tidak perlu diapa-apakan, terutama pada bayi-bayi baru lahir yang frekuensi pup dan pipisnya masih sangat sering. Ruam akan hilang dengan sendirinya seiring dengan menurunnya frekuensi buang air besar dan pipisnya,” ujar dr. Fransisca.

Aplikasikan kosmetik bayi pada pakaian saja

Pada dasarnya, kulit bayi mudah menyerap zat apapun yang dioleskan sehingga rentan iritasi. Bila orang tua tetap ingin memberikan kosmetik bayi, pastikan pemakaiannya tidak bersentuhan langsung dengan kulit bayi. Misalnya, Ibu bisa meneteskan saja minyak telon pada pakaian si kecil.

Hangatkan badan bayi dengan skin-to-skin dan pakaian tebal

Pemberian minyak penghangat berlebih dapat mencetus ruam kulit, khususnya pada bayi baru lahir. Sebagai alternatif, orang tua dapat menghangatkan bayi dengan pakaian yang lebih tebal, menyelimutinya, atau seringlah melakukan skin-to-skin alias kontak kulit bayi dengan kulit ibu atau ayah.

Perawatan kulit bayi sejatinya mudah dan sederhana. Perlindungan terbaik justru menjaga kulitnya tetap kering dan bersih secara alami. Dengan begitu, Ayah dan Ibu juga bisa lebih menghemat pengeluaran, bukan?

Referensi:

  • Jurnal American Academy of PediatricsBaby Powder – A Hazard” oleh Howard C. Mofenson, dkk.
  • Segmen Parenting NET 12
  • A-Z Perawatan Bayi oleh dr. Fransisca Handy, SpA
  • Artikel “Why newborns look so funny” pada BabyCenter

(Febi/ Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.