Tips Mendidik Anak Usia Dini

By Febi Purnamasari | Published 4th March 2019

Usia 0-6 tahun sesungguhnya sangat krusial bagi pembentukan kepribadian, konsep diri, dan rasa percaya diri anak (Dok. Shutterstock)

Dulu, saya beranggapan usia dini tidaklah penting. Pikiran awam saya waktu itu berkata, “Ah, anak usia dini kan belum ingat apa-apa.” Ternyata saya salah besar. Usia 0-6 tahun sesungguhnya sangat krusial bagi pembentukan kepribadian, konsep diri, dan rasa percaya diri anak.

Dr. Alexis Carrel, penulis buku Man, The Unknown yang membahas tubuh dan kehidupan manusia, menjelaskan: “Tak diragukan lagi bahwa masa kanak-kanak merupakan masa yang paling kaya. Masa ini seyogianya didayagunakan oleh pendidikan sebaik-baiknya. Tersia-sianya masa kehidupan ini tidak akan pernah dapat dicari gantinya. Tugas kitalah untuk memanfaatkan tahun-tahun awal kanan-kanak dengan kepedulian tertinggi, bukannya menyia-nyiakannya.”

Maria Montessori, tokoh pendidikan dunia berkebangsaan Italia, juga memiliki pendapat serupa. Menurut Montessori, usia 0-6 tahun adalah masa paling penting pada masa perkembangan anak. Pada usia ini, perkembangan fisik, kognitif, dan mental anak berlangsung cepat. Apapun yang ia dapatkan lewat indra akan menetap di pikirannya.

Tentu kita ingin buah hati tumbuh dan berkembang optimal di masa kanak-kanaknya. Nah, tutor Diploma Montessori dari Sunshine Teachers’ Training, Fransiska Dewi, punya sejumlah catatan penting untuk orang tua dalam mendidik anak usia dini.

Rasa percaya diri dan keutuhan anak adalah hal yang utama

Guna memelihara keduanya, selalu pastikan:

  • anak merasa baik terhadap diri mereka sendiri;
  • kemandirian anak didorong oleh konsep diri (pandangan dan sikap anak terhadap diri sendiri);
  • kebutuhan mereka sebagai individu terpenuhi.

Jangan membandingkan anak

Kita perlu mengenalkan dan mengizinkan adanya perbedaan antara saudara kandung dan teman. Tapi, cobalah untuk tidak membandingkan maupun meminta anak melakukan hal yang dilakukan saudara atau temannya.

Hindari berkata bernada membandingkan: “Bisakah kamu melompat seperti/lebih baik dari dia?” Justru bantulah anak untuk bersaing dengan dirinya sendiri. Biarkan ia berpikir: “Dapatkah aku melakukan lebih baik dari hal yang aku kerjakan kemarin?” Dorongan agar anak berlaku lebih baik dari dirinya kemarin akan jauh lebih bermakna bagi perkembangan buah hati.

Hindari mengejek dan melabeli anak

Jangan pernah mengejek anak akan kecerobohannya. Tak kalah penting, kita tidak boleh memberikan anak label negatif tertentu seperti “ceroboh”. Jangan pula membuat anak merasa tidak nyaman untuk sesuatu yang belum bisa ia lakukan.

Perhatikan semua aspek perkembangan anak

Jangan hanya fokus pada area perkembangan tertentu seperti perkembangan fisik lalu mengesampingkan perkembangan yang lain. Seperti kognitif serta sosial dan emosional. Fokuslah pada semua aspek perkembangan.

Kita pun perlu menyediakan aktivitas yang seimbang, yakni memperkenalkan sebanyak mungkin variasi kegiatan kepada anak. Misalnya, permainan keseimbangan, berlari, permainan pasir, dan lainnya.

Utamakan usaha anak, bukan hasilnya

Kita perlu mengakui dan mengenali usaha anak dibandingkan hasilnya. Ini bukan tentang memenangkan permainan maupun cara melompat atau melempar dengan benar. Usaha yang dilakukan anak lebih penting sehingga perlu kita hargai.

Sensitif pada perasaan anak

Cobalah untuk sensitif terhadap kegelisahan anak dan waspadalah terhadap hal-hal yang menjadikan anak bimbang. Tanyakan pada diri sendiri ketika anak tidak mau melakukan suatu aktivitas tertentu. Lalu, bantulah ia mengatasi kendala yang ada.

Berikan teladan dan dorongan terhadap hal-hal baik

Bersikaplah adil pada anak juga dorong ia untuk bersabar, memberikan pengertian satu sama lain, dan bekerja sama.

Referensi lain: The Absorbent Mind oleh Maria Montessori

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.