Tips Menangani Anak Sakit

By Febi Purnamasari | Published 2nd May 2018

 Pantau perilaku dan tanda kegawatdaruratan saat anak sakit (Dok. Pixabay)

Beberapa minggu belakangan, si kakak ‘maraton’ menderita penyakit langganan anak. Awalnya diare, namun setelah sembuh, ia lanjut lagi terkena selesma (batuk dan pilek). Bahkan, batuknya sudah berlangsung lebih dari dua minggu. Batuk yang tadinya hampir sembuh, eh, parah lagi dan badannya kembali demam. Lalu, bagaimana sebaiknya saya menyikapinya? Simak dulu tips menangani anak sakit dari dr. Windhi Kresnawati, SpA dan dr. Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPed, dua narasumber Program Edukasi Keshatan Anak untuk Orang Tua (PESAT) awal April 2018.

Pantau perilaku dan tanda kegawatdaruratan

Tanda-tanda gawat darurat mulai dari sesak napas, dehidrasi, penurunan kesadaran, sampai kejang demam kompleks. Menurut kedua kedua narasumber, orang tua sebaiknya mengobservasi tanda darurat ketimbang sibuk mengukur suhu. Untuk mengetahui lebih jauh tanda-tandanya, cek juga artikel Pentingnya Observasi Saat Anak Sakit.

Gejala-gejala yang muncul juga perlu dicatat seperti demam, diare, penampakan urine dan feses, batuk, pilek, ruam, dan sebagainya untuk nantinya menjadi acuan diagnosis penyakit.

Menurut dr. Wati dan dr. Windhi, selama anak masih bisa berinteraksi dan tidak menunjukkan tanda-tanda gawat darurat tadi, anak dengan penyakit ringan yang disebabkan oleh virus dapat dirawat di rumah saja, bahkan tanpa terapi obat. Ini karena penyakit yang disebabkan oleh virus akan sembuh dengan sendirinya.

“Terapi dalam dunia kedokteran itu ada lima. Obat hanya salah satu untuk terapi observasi, nondrug treatment juga bagian dari tata laksana,” terang dr. Wati yang merupakan Pendiri Yayasan Orang Tua Peduli.

Sigap mencegah dehidrasi

Muntah, pilek, batuk, feses encer, kotoran telinga, dan keringat merupakan cara tubuh mengeluarkan benda asing, kuman penyakit, maupun racun. Gejala-gejala tersebut sering kali menjadi momok menakutkan bagi orang tua. Padahal, sebaiknya biarkan saja tubuh menuntaskan pengeluaran kuman atau racun tersebut. Menurut dr. Wati, sebagian besar penyakit langganan anak (batuk pilek, demam, muntah, diare) disebabkan oleh virus.

“Ketika kita minum 50 cc, kalaupun kita muntah, pasti ada (cairan) yang tinggal. Jadi, paling muntah itu yang keluar 30-40 cc. Itu sebabnya saya suka bilang, kesalahan ibu-ibu Indonesia di rumah itu hanya menyetok obat demam, tapi tidak nyetok oralit,” ungkap dr. Wati.

Meski begitu, orang tua mesti mewaspadai dehidrasi pada anak setelah muntah. Oralit pun perlu diberikan jika anak muntah. Tapi, bagaimana kalau si kecil tidak suka rasa oralit?

Diakalin campur susu bubuk cokelat atau campur jus buah. Oralit kan bubuk, campurannya enggak harus air putih,” jelas dr. Wati.

Selesma yang tak kunjung sembuh

Anak batuk dan pilek sudah lebih dari dua minggu? Apakah orang tua perlu khawatir? Menurut dr. Windhi, kesembuhan dari penyakit selesma (batuk dan/atau pilek) bisa 3-4 hari, bahkan batuknya bisa mencapai sebulan, lho. Begitu juga durasi demamnya yang bisa sampai dua minggu. Kesembuhan yang tertunda itu bisa disebabkan adanya polutan lain seperti anggota keluarga yang merokok, memelihara kucing, sampai kebiasaan menggunakan obat nyamuk bakar di rumah atau infeksi berulang di sekolah, tempat penitipan anak.

Dokter Wati pun berpendapat, orang tua dapat merawat anak yang sakit di rumah sambil memantau kegawatdaruratannya.

“Batuk tiga minggu itu bisa virus, alergi, atau post infection cough (batuk pascainfeksi), sisa-sisa dahak. Ngapain periksa lab, kan enggak ada yang gawat darurat,” terang dr. Wati.

Bijak dengan cek darah

Dokter Wati maupun dr. Windhi mengimbau orang tua untuk menjalani pemeriksaan penunjang seperlunya. Pasalnya, sebagian orang tua kerap mengandalkan cek laboratorium setiap kali anaknya demam meski dengan gejala penyakit ringan.

“Tidak semua demam harus cek lab dan semua batuk harus di-rontgen. Ingat efek sampingnya. Keponakan saya dua minggu setelah diambil darahnya mengigau karena dipaksa, ditusuk (jarum suntik). Bahkan, ada anak yang menjadi fobia sama rumah sakit dan dokternya. Akhirnya, ketika kita perlu untuk imunisasi, anak menjadi susah dirayu,” ungkap dr. Windhi.

Meski begitu, dr. Windhi juga menekankan pemeriksaan penunjang sangat membantu untuk mencari penyebab penyakit yang gejalanya kurang jelas. Jadi, manfaatkan pemeriksaan penunjang dengan tepat ya, Ayah dan Ibu.

(Febi/ Dok. Pixabay)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.