Tidak Apa-apa Bayi Melewatkan Fase Merangkak, Asalkan….

By Febi Purnamasari | Published 4th March 2019

Menurut sejumlah pakar, pendapat tentang keharusan anak untuk merangkak masih berupa dugaan (Dok. Shutterstock)

Suatu ketika, Bumin Nucha Bachri bercerita bahwa teman-teman sesama ibu di grup WhatsApp-nya mendiskusikan keharusan anak mengalami fase merangkak. Menurut para ibu yang berpegang pada pendapat Glenn Doman, pakar perkembangan otak anak, Si Kecil tidak boleh melewatkan fase merangkak. Sementara, para ibu yang anaknya langsung berjalan alias melewatkan fase merangkak menyangsikan pandangan tersebut.

Keharusan merangkak diperdebatkan sejumlah pakar

Meski banyak ahli menegaskan pentingnya merangkak, pakar lainnya juga berpendapat bila Si Kecil melewatkan kemampuan tersebut, hal itu tidak akan menjadi masalah besar. Salah satu pakar yang meyakininya adalah Pamela High, M.D., direktur pediatri perkembangan perilaku di Hasbro Children’s Hospital, Providence, Amerika Serikat.

“Salah satu kesalahpahaman yang menonjol adalah pentingnya merangkak dalam perkembangan anak. Sebelum orang tua ketakutan lantaran anak mereka tidak merangkak, kami perlu memiliki data bahwa anak-anak yang melewatkannya akan mengalami dampak negatif jangka panjang dalam hal perkembangan,” terang High yang juga seorang profesor pediatri kepada Parenting.

Menurutnya, pendapat keharusan anak untuk merangkak masih berupa dugaan.

Sementara menurut dokter anak Amerika lainnya, Ari Brown, M.D., selama Si Kecil memiliki semacam penggerak saat berusia sembilan bulan, ia mungkin baik-baik saja.

“Melewatkan satu tonggak perkembangan biasanya tidak menimbulkan kekhawatiran. Tapi, jika bayi melewatkan lebih dari satu atau tampak hanya menggunakan satu sisi tubuhnya, maka penting bagi orang tua untuk mendiskusikan kondisi ini dengan dokter anak,” jelas penulis Baby 411: Clear Answers and Smart Advice for Your Baby’s First Year itu.

Tak merangkak bukan masalah besar asalkan perkembangan anak baik

Dokter Anak David Geller melalui Baby Center juga menjelaskan lebih jauh, Ayah atau Ibu tidak perlu khawatir bila Si Kecil melewatkan fase merangkak selama ia tidak memiliki masalah perkembangan. Misalnya, ia bisa duduk tanpa bantuan, mengambil benda dengan kedua tangannya, menggunakan lengan dan kakinya dalam kadar yang sama, berguling ke dua arah, dan berdiri dengan bantuan.

Tummy time tetap penting

Meski begitu, para pakar bersepakat akan pentingnya tummy time alias tengkurap. Salah satunya, Felice Sklamberg, terapis okupasi anak di Sekolah Kedokteran Universitas New York. Menurut Sklamberg, orang tua tetap perlu memberikan kesempatan pada bayi untuk melakukannya di bawah pengawasan setiap hari.

“Letakkan bayi di lantai dan berikan waktu padanya untuk mengejar bola atau menjangkau mainan favoritnya. Ia akan belajar menggunakan otot-otot tubuhnya. Kecuali, Si Kecil cenderung mengalami keterlambatan perkembangan sejak awal,” jelas Sklamberg.

Terakhir, ingatlah bahwa kita tidak perlu memaksa anak untuk mencapai tonggak tertentu lebih cepat, terutama berjalan.

“Kamu tidak bisa memaksa anak untuk merangkak, begitu pula mempercepat proses berjalan,” tegas Sklamberg.

Ia juga mengungkapkan, bayi dapat menuai manfaat dari merangkak, bahkan dalam beberapa minggu.

“Meski sedikit bukti bahwa fase merangkak itu penting, banyak pakar yang mempercayainya. Jadi, apa salahnya memberikan kesempatan pada anak untuk tengkurap?” tambahnya.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang pentingnya bayi tengkurap, cek juga artikel Manfaat Bayi Belajar Tengkurap dan Tips agar Tummy Time Menyenangkan.

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This: