Tantrum pada Anak Usia Batita

By Febi Purnamasari | Published 4th March 2019

Tantrum, ciri khas perkembangan anak usia 1-3 tahun (Dok. Shutterstock)

Pernah enggak sih, kamu merasa kebingungan ketika emosi anak meledak-ledak? Tak hanya lewat tangisan yang menggelegar, bahkan ledakan emosi alias tantrum Si Kecil juga sampai membuatnya berguling-guling di lantai. Apalagi, kalau peristiwa itu terjadi di depan orang lain, pasti malu banget rasanya, ya! Kita pun berharap, jangan sampai tantrum sering terjadi.

Kebetulan nih, Parents. Jelang akhir Desember 2018, saya berkesempatan hadir di Lemomoms Meet Up: Handling Tantrum 101, acara kolaborasi Parentalk dan Lemonilo. Sesuai namanya, para peserta serius menyimak diskusi seputar tantrum pada anak usia batita (bawah tiga tahun). Para narasumber, di antaranya Psikolog Adisti F. Seogoto dan Psikolog Kurnia Mega.

Lantas, ilmu apa saja yang saya ‘curi’ dari diskusi parenting ini?

Tantrum, ciri khas perkembangan anak usia 1-3 tahun

Menurut Psikolog Adisti F. Seogoto, anak usia 1-3 tahun rentan mengalami tantrum karena:

  • adanya kebutuhan melepaskan rasa frustrasi;
  • kebutuhan mengekspresikan perasaan dan keinginan;
  • kurangnya kemampuan mengendalikan emosi;
  • lapar, lelah, bosan, atau terlalu banyak stimulasi;
  • situasi yang dialami: konflik orang tua, stres pada orang tua, disiplin yang ekstrem, atau kurangnya batasan.

Adisti pun mengingatkan orang tua untuk tidak panik dan merasa bersalah. Tantrum adalah fase normal yang akan dilalui setiap anak dengan jenis tempramen apapun, baik ia anak yang ekspresif, aktif, maupun tenang.

Anak tantrum karena ia lebih reaktif menghadapi emosinya. Hal ini berbeda dengan orang dewasa yang memiliki pengendalian emosi lebih matang. Tapi tak dipungkiri, ada juga orang dewasa yang mengalami tantrum karena belum mampu mengendalikan emosinya.

Menurut Adisti, ada situasi tertentu yang dapat mencetus tantrum pada anak.

  • Anak frsutrasi saat terlibat permainan, misalnya puzzle.
  • Keterbatasan bahasa. Anak mengalami perasaan tidak enak, tapi ia tidak bisa mengungkapkannya.
  • Kurangnya kemampuan mengendalikan emosi.
  • Overstimulasi. Adisti mencontohkan anak yang mengalami tantrum sehabis pulang sekolah karena mengalami overtimulasi pendengaran (ruang kelas bising).

Selain itu, emosi ibu berperan penting terhadap emosi anak, bahkan sejak kehamilan. Saat hamil, tubuh ibu bak semesta bagi Si Kecil. Apapun yang ibu hamil makan dan alami terasa juga oleh si janin. Perkembangan emosi anak pun berpengaruh dari ibunya. Begitu pula ketika anak sudah berada di sisi kita.

“Ketika lagi stres, cara menghadapi anak berbeda saat kita senang. Kondisi anak pun terpengaruh,” jelas Adisti.

Meski begitu perlu kita ingat, mengendalikan emosi sendiri tentu lebih mudah ketimbang mengendalikan emosi anak.

Mengurangi risiko tantrum pada anak

Kita tidak bisa mencegah anak tantrum, namun risikonya bisa dikurangi.

Amati pola terjadinya tantrum: kapan dan apa penyebabnya?

“Biasanya anak tantrum kalau kenapa? Pada jam berapa, kondisi yang seperti apa, dan apa penyebabnya? Lihat dalam seminggu, apakah penyebabnya kelelahan?” tanya Adisti.

Jika jadwal kita padat saat berpergian dengan anak, jangan sampai ia melewatkan tidur. Kalau pencetusnya lapar, jangan lupa membawa camilan selama perjalanan. Bila overstimulasi menjadi penyebabnya, berikan kesempatan pada anak untuk melepaskan stresnya. Misalnya, minum dengan cara mengisap dari sedotan, mengunyah, atau meniup gelembung sabun.

Ajak anak untuk menyalurkan rasa marah dan frustrasi dengan lebih positif

Adisti menegaskan, rasa marah itu normal karena merupakan bagian dari manusia. Bukan rasa marah yang salah, melainkan cara mengekspresikannya. Orang tua pun dapat mendorong anak untuk mengekspresikan emosi negatifnya dengan lebih baik.

Misalnya, dengan berkata: “Mama lihat kamu kesal karena adik mau pinjam mainan kamu. Tapi, tidak dengan memukul karena adik bisa terluka. Kamu bisa bilang, ‘Tunggu aku selesai main ya, Dik.’”

Dengarkan anak

Menurut Adisti, terkadang ada pesan tersembunyi terkait alasan anak bisa marah dengan ekstrem. Misalnya, anak meminta perhatian ketika ia merasa adiknya lebih dibela.

Tetap konsisten

Jangan sampai orang tua ‘menyerah’ hanya karena anak menangis setelah dilarang meminta hal-hal tertentu. Ketika orang tua tidak konsisten dengan aturannya, anak belajar dari situasi tersebut. Alhasil, anak menggunakan tangisan atau tantrum sebagai ‘senjata’ di kesempatan lain.

Sikap konsisten ini sebaiknya berlaku untuk aturan-aturan dasar keluarga dan menyangkut keamanan buah hati maupun orang sekitarnya.

Bersikap fleksibel

Ada kalanya orang tua bersikap fleksibel untuk mengurangi risiko konflik. Caranya dengan memberikan pilihan pada anak bila memungkinkan. Alih-alih memberi perintah, berikan pilihan agar anak merasa ikut dalam pengambilan keputusan. Hal ini juga mengajarkan anak untuk berpikir guna menghasilkan solusi meski kita sudah menentukan tujuannya.

Misal, Ibu ingin Si Kecil makan sayur. Berikan opsi: “Adik mau makan sayur satu sendok atau satu mangkuk?”

Berikan contoh

Pada anak lebih besar, orang tua bisa berkata, “Ayah/Ibu tahu kamu kecewa. Tapi kalau kecewa, Ayah/Ibu mencari kegiatan pengganti yang lebih menyenangkan.”

Hargai perilaku positif anak

Penghargaan terhadap hal-hal positif meski kecil akan mendorong anak melakukan berbagai hal baik lainnya yang sama atau lebih besar.

Misalnya dengan berkata, “Mama senang jalan-jalan sama kamu karena makannya lahap.”

Bermainlah dengan Si Kecil.

Menurut Kurnia Mega, praktisi therapeutic play skills, bermain dengan anak dapat membantunya mengelola emosi, lho. Curahkan perhatian minimal 15 menit untuk bermain dengan anak secara berkualitas.

Ketika tantrum terjadi

Lakukan

  • Tetap tenang.
  • Bicara dengan lembut.
  • Sampaikan empati kita pada anak.
  • Peluk anak.
  • Pastikan semua aman. Misal, anak tidak menyakiti diri sendiri dan tidak ada benda berbahaya di sekitarnya.
  • Alihkan perhatian anak. Tantrum pada sebagian anak dapat diredakan dengan cara ini, namun bisa pula tak berpengaruh terhadap anak lainnya. Kembali lagi ke karakter anak masing-masing.
  • Abaikan tantrum. Ketika anak tidak bisa ditenangkan maupun perhatiannya sulit dialihkan, kita dapat mengabaikan tantrum Si Kecil. Dengan catatan, anak dalam keadaan aman dan orang tua tetap berada dalam jangkauannya.

Hindari

  • Hukuman fisik. Orang tua harus menjadi contoh yang baik bagi anak sekalipun dalam situasi genting. Kalaupun Ayah atau Ibu menghadapi godaan besar untuk mencubit anak, tahan amarah, misalnya, dengan menggenggam tangan sendiri. 
  • Berdebat atau memberikan penjelasan panjang lebar saat anak tantrum.

Setelah ‘badai’ berlalu

  • Hargai usaha anak untuk menenangkan diri.
  • Hindari menekan anak untuk membuatnya merasa bersalah atau malu.
  • Pada anak yang lebih besar, ajak disukusi tentang hal-hal yang bisa ia lakukan jika penyebab tantrum terulang.
  • “Tadi kenapa? Apa yang kamu rasakan? Waktu Ibu bilang enggak boleh, apa yang kamu rasakan? Hal yang kamu rasakan itu namanya kecewa. Kita kan ke mal untuk makan, bukan beli mainan.”
  • Ajak anak melakukan kegiatan yang menyenangkan ketika suasana hatinya sudah membaik. Misal, bermain.

Dengan menerapkan tips di atas, semoga Ayah dan Ibu dapat mengurangi risiko tantrum maupun tetap tenang ketika hal itu terjadi, ya!

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.