Tahapan-tahapan Operasi Caesar yang Wajib Kamu Tahu

By Putu Dyah | Published 19th September 2018

Dalam operasi caesar, Ibu akan menjalani serangkaian proses untuk bertemu Si Kecil.

Bagi kamu yang sedang menanti detik detik persalinan, pasti ingin tahu tentang prosedur persalinan yang kemungkinan bakal dilalui. Selain persalinan normal, ada juga operasi caesar (c-section) yang dilakukan karena indikasi medis tertentu. Operasi ini tidak dilakukan begitu saja, melainkan harus melalui sejumlah tahapan untuk mendukung kelancaran persalinan.

Tahun 2016 lalu, saya melahirkan Si Kembar lewat metode ini. Operasi caesar dilakukan oleh tim medis yang terdiri dari dua dokter kandungan, satu dokter anestesi, satu dokter anak serta bidan dan perawat. Masing-masing punya peranan sendiri selama operasi. Dan berikut adalah tahapan-tahapan dalam operasi caesar:

Sebelum operasi

  • Dokter meminta saya untuk puasa. Dulu, saya dijadwalkan operasi jam 9 pagi dan puasa makan sudah dilakukan sejak malam sebelumnya.
  • Beberapa jam sebelum operasi, rambut kemaluan dicukur. Perawat juga memberikan obat pencahar untuk “menguras” isi perut. Lalu memasang kateter pada kandung kemih agar tetap kosong selama operasi.

Sesaat jelang operasi

  • Perawat atau bidan mengecek tensi darah, kemudian saya dipasangkan oksigen dan infus.
  • Setelah masuk ruang operasi, pada bagian perut saya dioleskan cairan antiseptik dan ditutup kain steril. Di hadapan saya yaitu di sekitar pundak, juga ada kain yang dibentangkan. Gunanya, biar saya enggak melihat proses bedah yang dilakukan.
  • Terus, dokter anestesi mulai menjalankan perannya yaitu membius sebagian tubuh saya. Sebelumnya saya sudah membayangkan sakit luar biasa yang saya dengar dari cerita orang-orang. Ternyata hal itu enggak saya alami. Dengan santainya, dokter meminta saya buat duduk dan agak membungkuk. Lalu dia menyuntikkan obat anestesi di bagian tulang belakang. Saya berusaha tetap tenang, lalu muncul sensasi rasa nyes, tapi enggak ngilu ataupun sakit.
    Dalam operasi caesar, Ibu akan menjalani serangkaian proses untuk bertemu Si Kecil.
    Penyuntikan anestesi sebelum dokter melakukan bedah caesar. (Dok: Shutterstock)

    Saat pembedahan

    • Begitu dokter yakin anestesinya sudah menimbulkan efek di tubuh saya, dokter kandungan pun mulai bekerja. Dokter membuat sayatan horizontal di atas tulang kemaluan atau di area bawah perut, yang panjangnya sekitar 20 cm. Apa saya merasakan perut yang disayat-sayat? Saya sadar dan merasakan perut saya lagi “dibuka” dengan sayatan pisau di ruang operasi itu. Tapi untungnya berkat efek anestesi, saya enggak merasakan sakit sama sekali.
    • Setelah menyayat bagian perut, dokter membuat sayatan kecil di bagian bawah rahim. Biasanya kantong ketuban akan pecah atau terbuka. Tapi kalau belum, dokter akan memecahnya dan menyedot cairan ketuban.
    • Berikutnya proses mengeluarkan bayi yang dilakukan dengan memperlebar sayatan di rahim. Proses ini dilakukan dengan tangan dokter atau alat bantu cunam. Biasanya ada juga asisten dokter yang membantu mendorong bayi keluar dari rahim.
    • Tidak lama kemudian, saya pun bisa mendengar tangisan anak saya untuk pertama kalinya. Berhubung kehamilan saya kembar, setelah bayi pertama keluar, dokter anak langsung sigap menangani. Sementara dokter kandungan dan tim lain masih berkutat untuk mengeluarkan bayi kedua. Jarak kelahiran mereka singkat, hanya sekitar 1-2 menit.

    Setelah bayi lahir

    • Sementara Si Kembar ditempel ke tubuh saya untuk inisiasi menyusu dini (IMD) dan saya sibuk menangis, dokter masih menjalankan prosedur operasi. Yaitu mengeluarkan plasenta, sisa darah dan lokia di rahim. Kemudian menjahit lagi sayatan operasi. Proses itu berlangsung sebentar hanya 20-30 menit. Lalu dokter menyuntikkan oksitosin untuk membantu kontraksi rahim.
    • Beberapa jam setelah operasi selesai, efek anestesi akan mulai menghilang. Dan Ibu akan merasakan nyeri di area bekas sayatan operasi. Kalau tidak ada masalah, kamu bisa pulang setelah 4-5 hari.

    Buat para calon ibu, percayalah, setiap prosedur persalinan baik normal lewat vagina atau c-section memiliki keuntungan dan risiko masing-masing. Keduanya sama-sama bentuk pengorbanan Ibu untuk bisa bertemu Si Kecil. Apapun cara melahirkannya, proses tersebut akan menjadikan kamu sebagai Ibu, yang penting bayi selamat dan kamu pun selamat.

    (Dyah/ Dok: Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.