Suara Kipas Angin Dapat Membuat Bayi Mengantuk

By Febi Purnamasari | Published 15th November 2018

Tak hanya ampuh bagi orang dewasa, white noise bernada rendah seperti suara kipas angin dapat membuat bayi mengantuk (Dok. Shutterstock)

Saya pernah tertidur ketika bersantai di bawah kipas angin yang menyala. Bagaikan terhipnosis, hembusan angin sepoi-sepoi dan suara yang ditimbulkan kipas dengan mudahnya membuat saya sangat mengantuk. Ternyata, suara monoton dari kipas angin memang tergolong white noise. Yakni, suara yang memiliki intensitas sama sepanjang rentang frekuensi yang dapat didengar (20 hingga 20.000 hertz).

Tak hanya ampuh bagi orang dewasa, white noise bernada rendah seperti suara kipas angin dapat membuat bayi mengantuk. Contoh lainnya adalah suara monoton dari suara rintik-rintik hujan, vacuum cleaner, pengering rambut, bahkan suara mendesis “shhh.”

Alasan noise dapat menidurkan bayi

Sejak dalam kandungan, Si Kecil sudah mendengarkan white noise berupa suara-suara monoton nan lembut dari detak jantung ibu sampai gemuruh di sekitar rahim. Orang tua pun dapat menirukan ketenangan di dalam rahim dengan menimbulkan white noise saat bersama bayi.

Metode white noise untuk menenangkan bayi diperkenalkan oleh Dr. Harvey Karp, penulis The Happiest Baby on the Block yang juga seorang dokter anak. Menurut Dr. Karp, penggunaan white noise dapat membuat bayi mampu tidur dengan nyenyak walau terdapat banyak gangguan di luar dirinya seperti suara televisi atau suara bising kendaraan yang melintas. Begitu juga gangguan dari dalam dirinya. Misal, tumbuh gigi, demam ringan, dan sedikit rasa lapar. Meski begitu, kita juga perlu tahu trik dan catatan khusus dalam menerapkan white noise

Trik menerapkan white noise

Selain mendesis “shhh” kepada si kecil, ada sejumlah sumber white noise yang bisa orang tua gunakan untuk menenangkan atau menidurkan bayi.

  • Alat-alat yang mengeluarkan suara bising. Misal, pengering rambut dan vacuum cleaner. Ibu bahkan bisa bekerja multitasking dengan menyedot debu sambil menggendong bayi. Si Kecil pun terlelap, sementara Ibu dapat merampungkan tugas bersih-bersih.
  • Gemericik air. Ibu bisa menimbulkan gemericik air untuk menenangkan bayi tanpa harus buang-buang air, kok. Misalnya, dengan turut membawa si kecil selagi Ibu mandi dengan shower. Dengan catatan, ia diletakkan di tempat yang aman, seperti di bouncer atau carseat. Tidak memungkinkan untuk mandi? Sembari menggendong bayi, Ibu bisa sekadar menampung air di bak mandi dengan aliran kecil.
  • Rekaman white noise. Ibu bisa mendapatkannya dengan mudah dari YouTube atau berbagai aplikasi white noise pada smartphone. Aplikasi tertentu bahkan menyediakan pilihan suara-suara alami, seperti rintik-rintik hujan, deru ombak, gemericik sungai, dan lain sebagainya.

Ketika Si Kecil menangis, gunakan white noise yang dapat mengimbangi tangisan bayi agar ia dapat mendengarnya. Saat ia sudah mulai tenang, secara bertahap beralihlah pada white noise yang lebih lembut. Misalnya, suara shower.

Jangan lupa, atur jarak sumber white noise yang berasal dari mesin atau speaker dengan kepala bayi. Pastikan jarak tersebut tidak terlalu dekat dan aman bagi pendengarannya. Bila menggunakan vacuum cleaner atau pengering rambut, atur intensitasnya agar menimbulkan suara lebih lembut.

Catatan untuk orang tua

Dr. Karp menegaskan untuk tidak menggunakan white noise sepanjang hari. Berikan kesempatan kepada Si Kecil untuk mendengarkan suara-suara normal di sekelilingnya lebih lama. Dengan begitu, ia akan menguasai nuansa dari berbagai suara menarik di sekitarnya seperti percakapan orang-orang, alunan musik, dan lain-lain.

Referensi:

  • Artikel “Common White Noise Mistakes to Avoid” pada Happiest Baby
  • Sound machines for babies: Too loud? Too close?” pada CNN

(Febi/ Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.