Skrining Kesehatan Sebelum Anak Mulai Bersekolah

By Febi Purnamasari | Published 4th March 2019

Tak hanya mempertimbangkan kemampuan anak mengikuti pembelajaran kelak, tapi juga adanya periode tertentu yang penting bagi tumbuh kembangnya (Dok. Shutterstock)

Setelah bayi baru lahir pulang dari rumah sakit, bukan berarti skrining kesehatan tak dibutuhkan lagi. Beberapa pakar pun merekomendasikan sejumlah skrining kesehatan sebelum anak mulai bersekolah. Mereka tak hanya mempertimbangkan kemampuan anak mengikuti pembelajaran kelak, tapi juga adanya periode tertentu yang penting bagi tumbuh kembangnya. Sebut saja, seribu hari pertama kehidupan, yakni periode percepatan tumbuh kembang anak yang berlangsung sejak janin terbentuk dalam kandungan hingga ia berusia dua tahun.

Nah, apa saja skrining kesehatan yang dimaksud?

Pemeriksaan penglihatan

Berdasarkan situs Rumah Sakit Spesialis Mata Jakarta Eye Center, jika tak ada riwayat keluarga maupun kecurigaan gangguan penglihatan mata, anak harus mendapatkan pemeriksaan mata lengkap sebelum berusia 4 tahun. Setelah itu, pemeriksaan mata dilakukan kembali tiap 1-2 tahun.

Namun, kalau orang tua atau dokter anak mencurigai adanya gangguan mata pada anak atau adanya riwayat keluarga, mata Si Kecil harus diperiksa pada tahun pertama kehidupannya. Sementara, anak dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti diabetes, kelainan darah, gangguan metabolisme, dan kelainan genetik perlu diperiksa secara teratur.

Perkembangan mata anak berlangsung sampai usia sekitar 10-12 tahun. Dengan begitu, pemeriksaan dan penanganan dini terhadap gangguan mata anak sangat penting untuk menghasilkan penglihatan yang lebih baik.

Anak-anak yang belum bisa membaca atau belum mengenal gambar/angka bisa menjalani pemeriksaan mata sejak dini, lho. Sebelum pemeriksaan, anak akan diberikan tetes mata untuk melebarkan pupilnya sehingga mempermudah pemeriksaan retina.

Jenis-jenis pemeriksaan mata yang akan anak jalani beserta tujuannya, antara lain sebagai berikut.

  • Pemeriksaan mata dengan slit lamp atau hand-held light: melihat ada tidaknya kelainan anatomi mata.
  • Pemeriksaan posisi dan pergerakan mata: melihat ada tidaknya juling (strabismus).
  • Pemeriksaan refraksi dengan alat refraksi sesuai usia anak: mengetahui butuh atau tidaknya anak menggunakan kacamata.
  • Pemeriksaan dengan alat khusus atau foto (retcam): mengetahui kondisi saraf mata (retina).

Pemeriksaan pendengaran lanjutan

Menurut Dr. dr. Azwar, SpMK, SpTHT-KL melalui jurnal ilmiahnya, bayi yang lulus skrining pendengaran tetap harus menjalani evaluasi berkala. Ini karena pada bayi yang lebih besar atau anak, ada risiko lain seperti infeksi telinga tengah, trauma, ataupun terpapar dengan suara keras (bising). Berdasarkan pertimbangan tersebut, pemeriksaan pendengaran berkala perlu anak jalani pada usia 4, 5, 6, 8 10, 12, 15 dan 18 tahun atau setiap ada kecurigaan gangguan pendengaran.

Selain itu, menurut situs Berani Sehat, periode emas perkembangan pendengaran adalah sejak usia 6 bulan hingga 2 tahun. Berbagai penelitian juga mengungkapkan bahwa penanganan perlu dilakukan sebelum anak berusia 6 bulan. Dengan begitu, anak sudah memiliki kemampuan yang setara dengan anak sepantarannya pada usia tiga tahun.

Pada prinsipnya, metode tes pendengaran pada anak dibedakan menjadi dua jenis.

  • Tes subjektif berdasarkan pada pengamatan perilaku anak terhadap rangsang suara: behavioral observation audiometry (BOA) dan visual re-inforcement audiometry.
  • Tes nonbehavioral atau obyektif dengan menggunakan alat elektrofisologik: Auditory brainstem response (ABR/BERA), Auditory Steady State RespResponse (ASSR), dan Otoacoustic Emission (OAE).

Pemeriksaan untuk anak dengan gejala anemia

Ketika anak mengalami gejala yang mengarah pada anemia seperti lesu, rewel, nafsu makan menurun, dan berat badan sulit bertambah, orang tua perlu mengonsultasikan pemeriksaan penyaringan (screening) ADB pada dokter. Dengan catatan, pemeriksaan laboratorium berupa cek darah untuk screening ADB dilakukan pada saat anak berusia satu tahun sesuai rekomendasi AAP.

Skrining rutin untuk screening ADB, antara lain mencakup

  • pemeriksaan Hb,
  • red cell indices (MCV, MCH), dan
  • feritin; transefrin/TIBC; zat besi di serum (Serum Iron).

Ketika anak didagnosis ADB, ia akan menjalankan terapi mulai dari meningkatkan kualitas makanan sampai mengonsumsi suplemen zat besi selama waktu yang dianjurkan oleh dokter (biasanya 2-3 bulan hingga nilai Hb kembali normal).

Referensi lain:

  • Artikel “Mengenal 1000 Hari Pertama Kehidupan” pada Sarihusada
  • “Anemia Defisiensi Zat Besi” pada Grup Sehat

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.