Serba-serbi Pil KB

By Febi Purnamasari | Published 11th May 2018

pil KB cocok bagi pasangan muda yang ingin menunda kehamilan (Dok. Pixabay)

Pernikahan model Noviana Safitri dan suaminya kini berjalan sembilan bulan. Namun, perempuan berusia 24 tahun ini belum berencana memiliki momongan dalam waktu dekat. Salah satu alasannya, ia masih ingin menikmati kariernya dan mencoba berbagai hal baru.

“Aku kebetulan tipikal orang yang memang dari SMP semuanya harus diatur dan termasuk orang yang perfeksionis. Jadi dari SMP tuh, aku sudah tahu ingin menjadi apa kedepannya, pengen coba apa lagi. Saya dan suami sudah ngomongin mau punya anak-anak berapa, nanti ngambil rumahnya tahun berapa, kita tinggal di mana. Semuanya itu sudah direncanakan,” jelas influencer dengan akun Instagram @lipupil ini saat sharing di peluncuran sebuah situs perencanaan keluarga.

Noviana pun mengandalkan kontrasepsi pil KB. Pasalnya, ia merasa cukup disiplin untuk menenggak pil secara rutin. Pada kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Dinda Derdameisya membenarkan bahwa pil KB cocok bagi pasangan muda yang ingin menunda kehamilan.

Tapi, apakah jenis kontrasepsi ini juga cocok buatmu? Cari tahu dulu serba-serbi pil KB, yuk!

Manfaat pil KB

Menurut situs Hello Sehat, pil KB adalah salah satu metode pencegahan kehamilan yang paling efektif. Jika digunakan sesuai aturan pakai dan diminum teratur tanpa pernah terlewat sekalipun, efektivitas pil hormon ini dilaporkan mencapai 99 persen.

Selain itu, Dinda berpendapat bahwa kontrasepsi pil cocok untuk mencegah kehamilan hingga dua tahun ke depan. Syaratnya, pil harus dikonsumsi secara teratur agar Ibu tidak ‘kebobolan’ hamil.

Bahkan menurut Dinda, perempuan yang mempunyai keluhan haid tidak teratur atau sering terlambat haid, biasanya menggunakan kontrasepsi pil untuk membantu menstabilkan hormon dalam tubuh perempuan. Pasalnya, hormon dalam pil KB menyerupai hormon wanita normal.

Penggunaan kontrasepsi pil juga tidak menimbulkan peradangan lokal dalam rahim sebagaimana ditimbulkan KB spiral berlapis tembaga.

Secara umum, ada dua jenis KB pil, antara lain pil yang mengandung sedikit hormon progestin (disebut mini-pill) dan pil kombinasi hormon estrogen serta progestin.

Pil mengandung progestin saja (mini-pill)

Umumnya, ada 28 buah pil dalam satu kemasan kontrasepsi ini. Ibu harus mengonsumsi satu pil setiap hari agar kadar hormon yang dibutuhkan untuk mencegah kehamilan terjaga. Mini-pill juga harus ditenggak setiap hari pada waktu yang sama.

Meski menuntut disiplin yang tinggi, kontrasepsi ini dapat menjadi alternatif yang baik bagi ibu menyusui atau perempuan yang tak bisa menggunakan KB mengandung estrogen karena kondisi tertentu. Untuk busui, pilihlah pil KB khusus laktasi karena tidak mempengaruhi produksi maupun kualitas ASI.

Catatan lainnya, sebaiknya tunggu hingga enam minggu pascamelahirkan untuk mulai mengonsumsi mini-pill. Pasalnya, pada saat itu, produksi ASI sudah mulai stabil dan si kecil sudah cukup besar.

Pil kombinasi (the pill)

Kontrasepsi yang mengandung estrogen and progesteron sintetis ini mewajibkan Ibu untuk mengonsumsi pil setiap hari selama 21 hari (atau termasuk pil ‘pengingat’ tanpa hormon). Setelah itu, Ibu tak perlu menenggak pil untuk tujuh hari berikutnya.

Keunggulan pil kombinasi adalah efektivitasnya yang lebih tinggi dibanding pil lainnya. Namun, busui sebaiknya menghindari pil KB kombinasi karena dapat menekan produksi ASI.

Pil KB mengandung progesteron bersifat antiandrogen

Menurut Kompas Health, beberapa pil KB yang beredar di pasaran saat ini memiliki kandungan progesteron yang bersifat antiandrogen (drospirenone, cyproterone acetate). Menurut dr. Wisnu Setyawan, SpOG seperti dilansir Kompas Health, pil KB tersebut tak hanya mencegah mencegah kehamilan, tetapi juga dapat mengurangi jerawat dan kelebihan rambut halus di wajah. Bahkan, kandungan drospirenone-nya dapat mengurangi penumpukan cairan pada tubuh sehingga tidak akan menyebabkan kenaikan berat badan.

Perempuan yang tidak cocok menggunakan KB pil

Perhatikan pula kecocokan pemakaian pil KB dengan riwayat kesehatan Ibu. Pasalnya, perempuan dengan kondisi kesehatan sebagai berikut perlu menghindari kontrasepsi hormonal seperti pil:

  • memiliki riwayat penyumbatan pembuluh darah,
  • berpenyakit jantung,
  • mengalami gangguan hati,
  • ada riwayat kanker payudara atau rahim dalam keluarga,
  • menderita migrain, dan
  • memiliki tekanan darah tinggi.

Pil KB hanya digunakan sampai dua tahun

Ingat, kontrasepsi pil KB tidak bersifat jangka panjang. Dinda mengingatkan para ibu untuk beralih ke kontrasepsi nonhormonal seperti IUD berlapis tembaga bila pemakaiannya sudah mencapai dua tahun.

“Dengan pemberian pil estrogen misalnya selama lima sampai sepuluh tahun, itu pasti akan berpengaruh ke risiko penyakit kanker payudara atau rahim dan bawaan tekanan darah tinggi. Bagaimanapun, itu adalah zat sintetis yang dikonsumsi kita selama bertahun-tahun sehingga ada resikonya. Makanya dalam dua tahun biasanya diselingi dengan pemberian kontrasepsi yang nonhormonal,” ungkap dr. Dinda.

Selain pil KB, ketahui juga pilihan KB Suntik dan Implan Aman buat Busui, yuk!

Referensi lain: artikel “Birth control choices after you have a baby” pada BabyCenter

(Febi/Dok. Pixabay)

Share This: