Selain Stimulasi, Pikirkan Juga Tantangan Anak di Daycare

By Febi Purnamasari | Published 3rd April 2018

 Meski banyak keuntungan menitipkan anak di daycare, pertimbangkan juga tantangannya

Sebagian Ayah dan Ibu mungkin menyangsikan keputusan menitipkan anak di daycare.

“Anak dititipin ke orang lain, apa enggak seram? Apalagi, sekarang lagi rawan penculikan…”

Sebagian besar daycare kini dilengkapi kamera pengawas. Ayah dan Ibu bahkan bisa memantau aktivitas anak lewat telepon genggam. Rekaman kamera pengawas juga bisa dijadikan alat bukti untuk kasus tertentu.

@rrrnthy: Pilih daycare karena enggak ingin merepotkan orang tua/mertua. Pintar-pintar pilih daycare dan jaga komunikasi dengan guru/miss di daycare-nya. Di sana, anak makan teratur, dikasih stimulasi, dan rata-rata gurunya sudah berpengalaman mengurus anak.

Selain itu, daycare memberlakukan authorization card untuk pejemput anak sehingga si kecil tak boleh pulang dengan orang tak dikenal tanpa kartu tersebut. Pihak daycare juga biasanya akan mengonfirmasi kepada orang tua terlebih dulu bila penjemput adalah orang yang belum mereka kenal.

@daisyperm25: Mending di daycare. Bisa diawasi lewat CCTV kan selama anak dititipkan. Kalau ada apa-apa langsung lapor karena ada bukti. Minusnya daycare, anak jadi rentan batuk dan pilek. Ibu harus sedia imunne booster.

Program dan fasilitas bermain lebih variatif

Biasanya tiap program dan fasilitas yang ada di daycare bertujuan untuk menstimulasi kecerdasan anak di berbagai area. Mulai dari playground, ragam mainan untuk mengasah motorik halus anak, sampai perayaan-perayaan kecil untuk menambah wawasan budaya para penghuninya.

Fleksibilitas waktu masuk ke daycare

Tidak seperti sekolah yang mengharuskan muridnya masuk di jam tertentu, daycare memungkinkan orang tua menitipkan anak sekehendak hati sesuai jam operasional. Misal, pagi hari atau siang hari tergantung kesiapan orang tua maupun anak.

Perawatan anak terjamin

Seperti hal yang telah disinggung sebelumnya, keseharian anak di daycare layaknya di rumah juga. Ia akan disediakan makanan seperti snack pagi dan sore juga makan siang, dimandikan, dipakaikan baju, dan diawasi gerak-geriknya.

Mempertimbangkan childproofing

Yakni, upaya untuk meminimalkan risiko anak dari cedera. Contohnya, pengadaan furnitur seperti meja, kursi, dan rak mainan seukuran anak, melindungi sisi-sisi tajam furnitur, melapisi dinding dengan matras empuk, dan sebagainya.

Mengasah kecerdasan anak

Kabar baik lainnya, penelitian dari National Institute of Child Health and Human Development mengungkapkan, anak-anak di daycare yang berkualitas kemungkinan memiliki kecerdasan rata-rata di atas mereka yang memperoleh jenis pengasuhan lainnya.

“Ketika para peneliti membandingkan peserta daycare berkualitas dengan mereka yang berada dalam situasi pengasuhan lainnya berkualitas setara, anak-anak daycare memiliki nilai skor lebih baik dalam tes,” ungkap situs Baby Center.

Meski banyak keuntungan menitipkan anak di daycare, pertimbangkan juga tantangannya

Setiap daycare tentu punya keunggulan masing-masing. Sebelum menitipkan anak, Ayah dan Ibu juga bisa memastikan daycare yang diincar memiliki kriteria di atas atau tidak.

Tantangan

Nah, sekarang kita bahas tantangan menitipkan anak di daycare, ya! Jeng jeng!

Anak tidak menjadi pusat perhatian

Ini karena guru yang menangani jauh lebih sedikit dibanding anak-anak di daycare. Bahkan, menurut penulis buku Raising Babies: Why Your Love Is Best, Steve Biddulph, sangat jarang staf daycare memiliki waktu untuk berinteraksi dengan satu anak secara personal sebagaimana hal yang dilakukan oleh orang tua.

Selain itu, anak tak mendapatkan kepemilikan individual karena semua barang merupakan kepunyaan bersama.

@tika_nugrahani: Pengalaman pribadi, di tempatku ada daycare yang masih belum memenuhi standar, dari perhitungan jumlah pengasuh dan anak yang dititipkan juga fasilitias yang ada. Aku malah yang enggak tega kalau anak dititipkan di daycare. Jadi, lebih pilih asisten rumah tangga dan pasang kamera pengawas di rumah.

Pengasuhan berlandaskan profesionalitas, bukan cinta

Interaksi yang dibangun antara guru daycare dan anak adalah ‘hubungan profesional.’ Kontak mata guru dengan anak jelas berbeda dengan kontak mata orang tua dengan buah hatinya. Menurut Biddulph, guru daycare peduli dengan memberikan perawatan, tetapi tidak berlandaskan cinta.

Pembahasan soal tantangan menitipkan anak di daycare berlanjut ke artikel Risiko Menitipkan Anak di Daycare.

Referensi:

  • Raising Babies: Why Your Love Is Best oleh Steve Biddulph
  • Artikel “Daycare centers: Advantages and disadvantages” pada Baby Center

(Febi/Dok. Pixabay)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.