Salting Moment’ Orang Tua, Kamu Pernah Mengalaminya?

By Febi Purnamasari | Published 5th October 2018

Jangan sampai karena enggak enak sama orang lain dan salah tingkah dalam situasi yang dihadapi, kita malah menjadi tidak konsisten menerapkan aturan (Dok. Shutterstock)

Sebagai orang tua baru, kita akan menghadapi banyak salting moment alias momen salah tingkah yang berkaitan dengan anak. Mental kita pun perlu dipersiapkan. Jangan sampai karena enggak enak sama orang lain dan salah tingkah dalam situasi yang dihadapi, kita malah menjadi tidak konsisten menerapkan aturan atau Si Kecil menjadi bulan-bulanan.

Saya pun ingin berbagi beberapa salting moment orang tua yang pernah saya alami beserta cara terbaik untuk menyikapinya.

Bayi sulit ditenangkan di tempat umum

Saya yakin, banyak orang tua yang pernah mengalami hal ini. Si Kecil yang masih bayi entah kenapa sulit sekali ditenangkan. Berbagai upaya Ayah atau Ibu lakukan untuk meredakan tangisnya, namun belum berhasil juga. Belum lagi, tatapan risih atau kepo beberapa orang yang lewat di depanmu. Ah, jadi susah fokus rasanya!

Sebenanrnya, kita tak punya kewajiban untuk menyenangkan hati orang lain, kok. Fokuslah menenangkan Si Kecil. Cuek saja dengan sikap orang-orang asing di sekitarmu. Toh, mereka juga tidak berusaha membantu, bukan? Selain itu, yakinlah, sebagian orang yang menyaksikan perjuanganmu memaklumi kondisi tersebut. Entah karena mereka atau orang-orang terdekatnya pernah mengalami hal serupa. Jadi, tetaplah semangat, berpikiran positif, dan fokus menenangkan Si Kecil.

Anak mengalami cedera padahal orang tua sedang mengawasinya

Saya pernah beberapa kali mendampingi anak-anak bermain dan mereka terjatuh meski saya berada dalam jangkauan. Padahal, saat itu saya fokus mengawasi, lho. Memang lagi apes saja, anaknya oleng sementara saya meleset menangkapnya.

Komentar paling menyebalkan yang saya terima: “Bagaimana sih, jagainnya?!”

Untungnya, komentar itu saya dapatkan dari orang tua sendiri sehingga saya bisa mendebatnya. Kalau di tempat umum paling dapat ‘nasihat’ seperti, “Hati-hati, dong.”

Saya pun berusaha stay cool dan berusaha fokus pada anak, yakni menenangkannya lalu menanyakan bagian tubuh yang sakit. Jika cederanya ringan (misal, lecet), anak sih biasanya langsung semangat main lagi.

Si Kecil berebut mainan dengan anak lain

Idealnya sih, jika situasi belum terlalu memanas, biarkan Si Kecil dan teman bermainnya itu memecahkan permasalahan mereka dulu. Tapi, kalau kamu melihat ada gelagat saling menyakiti, mulailah turun tangan. Jika anak sudah bisa diajak berkomunikasi, tanyakan tentang giliran bermain di antara mereka atau pihak yang lebih dulu mendapatkan mainan.

Kalau anak belum lancar berkomunikasi atau orang tua tidak menemukan jalan keluar, alihkan dengan mengajak Si Kecil mencari pilihan mainan lainnya.

Bagaimana dengan menyuruh anak untuk mengalah? Hal ini terkadang menjadi refleks, ya, khususnya kalau kita berhadapan langsung dengan orang tua anak yang berebut mainan dengan Si Kecil. Tapi menurut saya, ketimbang memaksa anak untuk gantian, lebih baik ajak atau arahkan ia pada kegiatan lain yang dapat menarik perhatiannya.

Si Kecil menyakiti/disakiti anak lain

Sebagian anak cenderung ‘main tangan’ dengan mudahnya ketika merasa terganggu dengan anak lain. Menurut penulis buku What To Expect The Second Year, Heidi Murkoff, hal tersebut sesuai perkembangan anak-anak balita. Mereka mudah frustrasi karena memiliki ketidakmampuan mengontrol lingkungan sekitar. Terlebih, anak balita masih belum mampu mengungkapkan rasa frustrasinya tersebut.

Maka dari itu, ketika Si Kecil menyakiti atau disakiti anak orang lain, berusahalah sekuat tenaga untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap korban maupun pelaku. Jika anak adalah korban, tenangkan ia dan ingatkan bahwa rasanya tidak enak ketika disakiti orang lain. Dengan begitu, Ayah atau Ibu lebih mudah mengajarkan anak untuk menghindari kekerasan terhadap anak lain ketika merasa terganggu.

Sebaliknya, ketika Si Kecil adalah pelaku, ingatkan bahwa tindakannya menyakiti orang lain dan membuatnya sedih. Bila memungkinkan, Ayah atau Ibu dapat menyampaikan permohonan maaf atas perilaku Si Kecil kepada orang tua korban.

‘Dikoreksi’ orang lain tentang cara mengasuh anak

Saya rasa, manusia cenderung tak suka dikoreksi bila tak dikehendaki. Apalagi, jika orang tua dikoreksi tentang cara mengasuh anak di depan umum. Bila ternyata masukan dari orang lain bertentangan dengan kondisi diri, tentu Ayah atau Ibu boleh mengabaikannya dan itu adalah hakmu. Kalaupun pun kamu menanggapi, tujuannya bukan untuk mencela balik atau membela diri, melainkan memberikan pengetahuan tambahan bagi si pengoreksi.

Tidak perlu merasa bersalah atau tertekan terhadap komentar negatif orang lain karena kamu sendirilah yang paling tahu kondisi sebenarnya.

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.