Risiko dan Tips Menjalani VBAC

By Putu Dyah | Published 25th September 2018

“Mau caesar atau normal mah sama perjuangannya. Semua punya sakitnya masing-masing,” begitu kata Riana Rizki, teman saya yang sudah mengalami dua cara persalinan. Anak pertama Riana lahir lewat operasi caesar. Sementara saat melahirkan anak kedua, dia melewati persalinan spontan alias normal.

Keinginan buat menjalani VBAC (vaginal birth after caesarean) muncul begitu saja saat kandungan Riana berusia tujuh bulan. “Aku emang maunya dua anak saja cukup. Terus anak pertama (lahirnya) caesar. Jadi pas hamil anak kedua, mikirnya ini kesempatan buat lahiran spontan,” cerita Riana.

Riana menjalani vaginal birth after caesarean (VBAC) di kelahiran anak kedua. (Dok: [email protected])

Akhirnya dia menanyakan kemungkinan ini ke dokter kandungannya. Dokter mempertimbangkan berat badan janin dan ketebalan dinding rahim untuk memastikan kesiapan persalinan normal. Ternyata saat hamil 33 minggu, dia mengalami kontraksi. Anak keduanya pun lahir prematur dengan berat 2,3 kilogram lewat persalinan normal.

Pertimbangan VBAC

Kalau itu cerita dari Riana yang merasakan langsung. Sekarang giliran penjelasan medisnya ya. Berdasar obrolan dengan obgyn dr. Benny Johan Marpaung, Sp.OG., ternyata persalinan normal setelah operasi caesar, enggak semudah yang dibayangkan. Ada beberapa kondisi yang mesti Ayah dan Ibu pertimbangkan sebelum menjalani VBAC.

Pertama, riwayat operasi caesar sebelumnya. Kalau alasan operasinya tidak jelas dan berisiko secara medis, ada kemungkinan ibu tidak bisa menjalani VBAC.

Frekuensi operasi caesar sebelumnya juga berpengaruh. “Kalau sebelumnya sudah dua kali caesar, (direkomendasikan) yang ketiga mesti caesar juga. Kalau dipaksakan persalinan normal, beresiko 90% rahim ibu bisa robek dan terjadi pendarahan,” jelas dokter Benny.

Kedua, kehamilan ibu dalam kondisi sehat. Antara lain tidak ada riwayat hipertensi, plasenta previa, berat badan ibu tidak overweight dan ibu dalam usia produktif yang baik (tidak lebih dari 35 tahun).

Ketiga, berat bayi tidak terlalu besar. Setidaknya ukuran bayi sama atau lebih kecil dari bayi yang lahir sebelumnya. Bayi juga tidak mengalami masalah seperti pecah ketuban atau kekurangan oksigen.

Keempat, pilih rumah sakit dan tim medis yang kompeten. “Sebaiknya pilih rumah sakit yang fasilitas persalinannya lengkap. Jadi kalau keadaan darurat, ibu bisa langsung dapat tindakan. Apalagi VBAC ini termasuk beresiko,” tegas dokter Benny.

Menurut dokter Benny, bisa saja di tengah usaha persalinan normal ternyata kondisi ibu dan bayi tidak memungkinkan. Sehingga operasi caesar (yang kedua kalinya) jadi pilihan, demi keselamatan ibu dan bayi.

Dalam situs Baby Center juga disebutkan, operasi caesar yang dadakan lebih beresiko dibandingkan operasi caesar yang terencana. Apalagi kalau Ibu sudah pernah menjalani operasi caesar sebelumnya.

Agar sukses VBAC

Di sisi lain, ibu enggak perlu panik nih. VBAC enggak seseram yang kamu bayangkan. Buktinya, Riana bisa menjalani VBAC meskipun jarak kelahiran pertama dan keduanya belum sampai dua tahun.

Hal ini juga ditegaskan sama dokter Benny. Menurut dia, VBAC bisa dilakukan asal ibu melakukan persiapan seperti berikut:

  • Rutin cek kandungan demi memantau tumbuh kembang janin dan kesehatan ibu.
  • Jaga pola makan. Pastikan nutrisi yang masuk ke tubuh ibu bermanfaat bagi kamu dan janin. Tapi jangan berlebihan juga agar berat badan janin tidak terlalu besar.
  • Konsumsi vitamin dan suplemen. Suplemen dan vitamin berguna untuk memenuhi mikronutrien ibu dan janin. Pastikan kebutuhan ini terpenuhi agar kehamilan tetap sehat.
  • Olahraga rutin. Banyak bergerak bakal memudahkan kamu untuk bersalin secara normal. Lakukan olahraga yang aman sesuai usia kehamilan ya Bu.

Kalau sudah berniat menjalani persalinan normal, usahakan buat memberi afirmasi positif buat diri sendiri dan janin ya Bu. Dengan begitu, pikiran ibu tetap tenang dan kalian bisa bekerja sama saat persalinan nanti.

(Dyah/ Dok: Instagram @rianars/ Pixabay)

Share This: