Plus Minus Tidur Bareng Bayi atau Anak Balita

By Febi Purnamasari | Published 1st November 2018

Co-sleeping adalah kebiasaan anak tidur bersama orang tua secara teratur (Dok. Pixabay)

Salah satu topik yang kerap menjadi perhatian para orang tua adalah co-sleeping versus sleep training. Co-sleeping adalah kebiasaan anak tidur bersama orang tua secara teratur. Sementara, sleep training merupakan proses anak belajar tidur sendiri secara terpisah dari ayah dan ibunya alias di ruangan berbeda.

Pada sebagian besar keluarga Indonesia, co-sleeping cenderung lebih populer. Saya sendiri masih menerapkannya pada kedua buah hati yang masing-masing berusia 3 tahun dan 22 bulan. Rutinitas tidur bareng anak balita memudahkan saya memenuhi kebutuhan mereka di sela-sela tidur malam. Sementara kekurangannya, saya menjadi tak pernah tidur pulas sejak kelahiran anak pertama saya. Dalam semalam, saya pasti terbangun 2-3 kali untuk menyusui mereka. Tapi, lama-lama jadi terbiasa, kok.

Nah, sebelum memutuskan tidur bareng bayi atau anak balita, cari tahu dulu plus dan minusnya.

Plus

Memperkuat ikatan (bonding) orang tua dan anak

Ayah dan ibu adalah sumber keamanan dan kenyamanan yang utama bagi anak usia 0-2 tahun. Co-sleeping pun dapat memenuhi kebutuhan anak akan bonding dengan orang tuanya.

Bagi keluarga yang sibuk, pengalaman tidur bersama juga dapat menjadi salah satu cara untuk berkumpul setelah terpisah seharian. Co-sleeping khususnya dapat menambah kedekatan antara ayah dan anak. Seperti yang kita tahu, kontak fisik ayah dengan anak tidaklah sebanyak ibu yang menyusui. Belum lagi, sebagian besar waktu ayah di hari kerja dihabiskan di luar rumah.

Memudahkan anak menyusu

Para ibu yang menjalankan co-sleeping lebih mudah menyusui anak yang tidur di sampingnya. Kalau sudah piawai dan nyaman dengan posisi menyamping, biasanya sih, para ibu menyusui sembari setengah terjaga. Ibu hanya perlu membantu Si Kecil melekat di puting kemudian kembali tidur, deh.

Anak tumbuh menjadi pribadi yang positif

Dokter Anak William Sears, sosok yang menganjurkan attachment-style parenting, percaya bahwa bayi-bayi yang tidur bersama orang tuanya tumbuh lebih percaya diri dan mandiri. Menurut Baby Center, banyak pula orang tua yang setuju dengan pendapatnya.

Selain itu, Psikolog Monica Sulistyawati menambahkan, anak usia dini sedang dalam fase yang mebutuhkan kedekatan dengan orang tuanya, termasuk untuk urusan tidur. Kebiasaan tidur bersama pun dapat memperkuat ikatan anak dan orang tua. Bonding yang baik tentu membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang positif secara emosional dan psikologis.

Minus

Bayi menjadi lebih sering terbangun di malam hari

Menurut Baby Center, co-sleeping membuat anak sering terbangun tengah malam untuk menyusu. Ini karena bayi-bayi yang menyusu langsung dapat mencium ‘aroma’ ASI dari ibunya. Kebiasaan terbangun berulang kali saat malam hari pun terus berkembang. Jadi, jangan harap Ayah dan Ibu bisa tidur pulas sampai pagi, ya.

Sulit mencari waktu berduaan dengan pasangan

Sebagian ayah dan ibu mendapati kebiasaan tidur bersama anak membuat mereka kesulitan memiliki waktu berduaan atau malah mengganggu kehidupan seks mereka. Meski begitu, ada juga sih, orang tua yang menganggap kondisi tersebut membuat mereka lebih pandai dan kreatif lagi mencari kesempatan untuk bermesraan. Jika kamu dan pasangan dapat memaknainya sebagai tantangan yang seru, kondisi tersebut justru akan menjadi momen yang berkesan.

Anak perlu beradaptasi lebih lama untuk bisa tidur sendiri di kemudian hari

Kamu mungkin akan kesulitan meyakinkan Si Kecil untuk berpindah ke tempat tidur pribadinya bila sleep training tak dimulai sejak dini. Sebagian anak yang menghabiskan tahun-tahun awal kehidupannya di ranjang keluarga mungkin belum siap dengan transisi perpindahannya ke tempat tidur pribadi. Walau begitu, ketika anak berhasil menjalani perubahan tersebut, ia akan menikmati pengalamannya tidur sendiri, kok.

Adanya risiko SIDS

Akademi Dokter Anak Amerika (AAP) justru menentang kebiasaan anak di bawah dua tahun untuk tidur di ranjang yang sama dengan orang tuanya. Pendapat tersebut mempertimbangkan kemungkinan risiko anak kesulitan bernapas dan sindroma kematian bayi mendadak (SIDS). Misalnya, akibat tertindih ayah atau ibu maupun bantal dan selimut orang dewasa.

Meski begitu, pakar dan orang tua lainnya tidak setuju dengan anggapan itu karena meyakini co-sleeping tergolong aman dan bermanfaat jika dilakukan dengan benar.

Anak terlalu bergantung pada orang tua

Beberapa ahli perkembangan anak dari kalangan tradisional berpendapat, anak-anak yang tidur bersama ayah dan ibu menjadi terlalu bergantung pada orang tuanya.

Referensi: What To Expect The First Year oleh Heidi Murkoff dan Sharon Mazel

(Febi/Dok. Pixabay)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.