Pentingnya Prinsip Pick Your Battles bagi Orang Tua

By Febi Purnamasari | Published 21st December 2018

Orang tua harus memilih aturan yang patut diperjuangkan apapun kondisinya dan sebaliknya (Dok. Shutterstock)

Sebagai orang tua, kita ingin menjadi sosok yang mendengarkan dan menghargai keputusan anak. Tapi, keinginan itu justru menjadi ‘ujian’ ketika kita berhadapan langsung dengan kemauan anak balita yang kerap tidak masuk akal atau bahkan membahayakan dirinya. Kalau sudah begitu, emosi Ayah atau Ibu bisa mudah sekali terpancing. Lantas, kita harus bersikap bagaimana?

Stok kesabaran yang diimbangi dengan kebesaran hati dapat membuat orang tua lebih ‘waras,’ tanpa harus mematikan kreativitas dan sikap kritis sang buah hati. Dua komponen kecerdasan yang ia butuhkan di masa depan.

Pick your battles atau “pilih pertarunganmu” pun bisa menjadi prinsip pengasuhan Ayah dan Ibu. Frasa ini populer di dunia parenting Barat. Artinya, orang tua harus memilih aturan yang patut diperjuangkan apapun kondisinya dan sebaliknya, hal-hal mana saja yang bisa ‘ditoleransi’ terkait perilaku Si Kecil. Berikut pentingnya prinsip pick your battles bagi orang tua.

Pilih ‘pertarunganmu’ sekarang, ini alasannya

Menurut penulis The Mother of All Toddler Books, Ann Douglas, anak balita memang impulsif dan egois. Mereka memiliki kebutuhan yang kuat untuk menunjukkan kemandirian juga rasa ingin tahu tak berkesudahan tentang lingkungan mereka,” jelas Douglas seperti dikutip Parents.

Sayangnya, para orang dewasa sering kali menerjemahkan kualitas positif tersebut sebagai hal yang membahayakan, aneh, atau sekadar mengganggu. Sebut saja, merobek buku, membongkar isi lemari, atau bersikeras memakai setelan baju yang tidak serasi sama sekali.

Pada akhirnya, orang tua sering kali kelelahan sendiri karena berusaha mengoreksi tiap tindak-tanduk Si Kecil. Alhasil, anak semakin sulit diatur karena selalu menerima larangan. Menurut Michele Borba, penulis No More Misbehavin’: 38 Difficult Behaviors and How to Stop Them, anak-anak justru menjadi kewalahan lantaran dikoreksi terus-menerus.

“Anak-anak tengah berusaha memahami dunia mereka, sementara rentetan perintah yang konstan akan membuat mereka menangkapnya sebagai tempat yang sangat negatif,” jelas Borba seperti dilansir Parents.

Menentukan ‘pertarungan’

Bagi kebanyakan orang tua, kesehatan dan keamanan diri sendiri maupun orang lain menjadi isu prioritas yang patut diperjuangkan. Dengan begitu, berbagai bentuk larangan dapat disimpan untuk situasi yang mengancam dua isu tersebut. Misal, hal-hal yang memang tidak bisa ditawar lagi seperti kewajiban menggunakan car seat atau berlarian di jalanan.

Untuk mengetahui jawabannya, Ayah dan Ibu bisa menyimak artikel Alternatif Selain Larangan untuk Mendisiplinkan Si Kecil.

(Febi/Dok. Shutterstock)

https://parentalk.id/alternatif-mendisplinkan-anak/(opens in a new tab)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.