Mengajarkan Toleransi pada Anak Sejak Dini

By Febi Purnamasari | Published 22nd November 2018

Semangat antiperundungan dituangkan lewat buku-buku cerita anak seperti Jenggo (Dok. Buah Hati)

Siapa saja berisiko menjadi pelaku maupun korban perundungan (bullying) dan diskriminasi, termasuk anak-anak kita. Kini semangat antiperundungan dituangkan lewat buku-buku cerita anak. Salah satunya, Jenggo Ayam Jago yang Sombong. Fabel Jenggo merupakan bagian dari Seri Buku Toleransi tentang Diskriminasi karya Sekar Sosronegoro (penulis), Mira Tulaar (ilustrator), dan Siti Nur Andini (editor).

Belakangan, kedua anak saya yang berusia dua tahun dan tiga tahun kerap minta dibacakan Jenggo setelah berkenalan dengan buku tersebut. Ini karena pengemasan ceritanya ringan juga menarik bagi anak-anak.

Memotret realitas keragaman dan konflik dalam masyarakat

Kokok Jenggo yang lantang menjadi pembuka cerita ini. Jasanya membangunkan seisi Peternakan Sukarasa membuat sang ayam jago menjadi sosok yang disegani di sana. Namun, ternyata hal tersebut membuatnya sombong. Sifat itu pula membuat Jenggo merasa dirinya superior dan skeptis dengan keberadaan lima ekor kambing di sana.

Pesan moral secara keseluruhan pun tertera di bagian pembuka buku dan begitu menyentuh hati saya sebagai orang tua.

“Perlakukanlah orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.”

Sementara, Produser Film Mira Lesmana berpendapat, buku ini sangatlah relevan dengan perkembangan zaman.

“Dengan cara yang sederhana, kisah Jenggo jeli memotret realitas keragaman dan konflik yang kerap terjadi dalam masyarakat,” kata Mira sebagaimana dikutip siaran pers Buah Hati, penerbit Jenggo.

Kesan dan pesan setelah membaca Jenggo

Beberapa kesan dan pesan muncul di benak saya tentang Jenggo Ayam Jago yang Sombong.

  • Ilustrasi Mira Tulaar begitu khas dan klasik. Jenggo mengingatkan saya pada gambar ayam di mangkuk mi bakso.
  • Buku ini cocok untuk anak yang sedang belajar atau sudah mahir membaca (sekitar enam tahun ke atas). Alur ceritanya sederhana sehingga akan mudah dipahami oleh mereka. Untuk anak yang lebih muda, Ayah atau Ibu dapat membacakan inti cerita setiap halamannya saja agar ia tidak terlalu lama menunggu.
  • Sebagai pecinta sastra Indonesia, saya puas dengan penuturan cerita dan gramatika buku ini. Susunan kalimat-kalimatnya ringkas dan sesuai ejaan yang disempurnakan. Lewat cerita ini pula, anak yang sedang belajar berbahasa terekspos dengan ragam kosakata baku. Cara yang menyenangkan untuk berbahasa yang baik dan benar, bukan?

Semangat antiperundungan dituangkan lewat buku-buku cerita anak seperti Jenggo (Dok. Buah Hati)

Menuai apresiasi berbagai tokoh masyarakat

Menariknya, peluncuran Jenggo Ayam Jago yang Sombong di Yogyakarta bertepatan dengan Hari Toleransi Internasional pada 17 November 2018. Selain itu, Jenggo merupakan buku ketiga sekaligus buku terakhir rangkaian Seri Buku Toleransi. Yakni, seri buku yang mengajarkan indahnya keragam dan pentingnya memiliki empati.

“Empati kami pilih sebagai tema penutup karena tanpa disadari, anak-anak kini terekspos oleh intoleransi dalam kehidupan sehari-hari. Dari Jenggo, anak dapat belajar salah satu hal penting dalam bertoleransi, yaitu kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan dan dialami oleh orang lain,” jelas Sekar.

Sebagaimana karya Seri Buku Toleransi lainnya, peluncuran Jenggo menuai dukungan dari berbagai tokoh masyarakat. Mulai dari Produser film Mira Lesmana, Pendiri Keluarga Kita Najelaa Shihab, sampai Direktur Eksekutif The Habibie Center Rahimah Abdulrahim.

Tak berhenti sampai ending cerita, tim penyusun Jenggo juga mengajak orang tua untuk mencari tahu lebih jauh tips mencegah atau menghadapi perundungan bila anak telanjur menjadi pelaku/korban. Dengan mengakses bukutoleransi.com/referensi, kita dapat menyimak beberapa video yang berisi diskusi tim penyusun buku dengan tokoh pendidikan dan penggagas media.

Kehadiran Jenggo memudahkan Parents memberikan pemahaman bullying yang cenderung sulit dijelaskan secara definitif kepada anak balita. Lewat cerita buku ini, anak memahami bahwa perundungan biasanya berawal dari kesombongan dan diskriminasi terhadap golongan minoritas. Pesan moral di baliknya pun sangat baik untuk disampaikan pada anak-anak usia balita yang masih belajar membedakan perkara benar dan salah.

Untuk mendapatkan buku ini, Ayah dan Ibu dapat membelinya seharga Rp55.000 di store.lenterahati.com, bukukita.com, juga di Togamas Affandi Yogyakarta sebelum akhirnya masuk ke Gramedia, Gunung Agung, TMbookstore, dan Togamas di Pulau Jawa dan Bali.

Selamat mengajarkan empati dan toleransi ke buah hati, Parents!

(Febi/Dok. Buah Hati)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.