Mendeteksi Gangguan Sensori pada Anak

By Febi Purnamasari | Published 23rd February 2019

Masalah sensori cenderung terdeteksi pada masa balita (Dok. Shutterstock)

Apakah Si Kecil sering kali menabrak tembok atau tantrum ketika dikenakan pakaian? Coba deh, cek kemungkinan ia memiliki Gangguan Proses Sensori (SPD) atau tidak. Untuk mengetahui lebih jauh tentang SPD, simak penjelasan dari Psycho Educational Assessment Center of Excellence (PEACE) berikut ini.

Deteksi gangguan sensori Si Kecil sejak dini

Anak memiliki tujuh sensorik dasar dalam tubuhnya, antara lain sensorik perabaan, pendengaran, penciuman, penglihatan, pengecapan, proprioseptif (gerak antarsendi), dan vestibular (keseimbangan). Namun, beberapa di antaranya tidak bekerja secara optimal atau mengalami gangguan pada sebagian anak.

Masalah sensori cenderung terdeteksi pada masa balita, yakni ketika orang tua mulai menyadari bahwa sang anak sangat sensitif (hypersensitive) terhadap kebisingan, cahaya, sepatu yang sedikit sempit atau pakaian yang tidak nyaman, atau tidak sensitif sama sekali terhadap beberapa stimulasi sensori (hyposensitive).

Contoh lain adalah ketika anak mengalami kesulitan saat naik tangga atau kesulitan dengan keterampilan motorik halus seperti memegang pensil dan memasang kancing.

Berikut adalah beberapa contoh yang lebih ekstrim.

  • Anak berteriak ketika wajahnya basah atau terkena air.
  • Anak tantrum ketika dikenakan pakaian.
  • Anak memiliki toleransi terhadap rasa sakit yang sangat rendah atau sangat tinggi.
  • Sering menabrak tembok atau orang.
  • Memasukkan berbagai benda dalam mulutnya seperti bebatuan atau cat.

Perilaku-perilaku tersebut dan perilaku atipikal lainnya dapat mengindikasikan masalah pemrosesan sensori, yaitu kesulitan dalam mengolah dan mengintegrasikan informasi dari indra. Kondisi tersebut disebut Sensory Processing Disorder atau Gangguan Proses Sensori.

Hal pertama yang dilihat oleh banyak orang tua pada anak yang memiliki gangguan tersebut adalah beberapa perilaku yang tidak lazim juga memiliki suasana hati yang dapat berubah drastis (mood swings). Hal ini sering kali merupakan reaksi yang besar terhadap perubahan lingkungan. Misalnya, seorang anak mungkin baik-baik saja dalam lingkungan yang tenang, tetapi ketika ditempatkan di toko yang ramai dengan rangsangan visual dan yang berkaitan dengan pendengaran secara berlebihan, ia akan tantrum. Respons lain adalah melarikan diri.

Berikut adalah contoh-contoh perilaku anak yang memiliki Gangguan Proses Sensori.

Sensori perabaan

Semua informasi yang diterima lewat reseptor di kulit, bisa berupa sentuhan, gesekan, tekanan, suhu, atau rasa sakit. Jika sensori perabaan mengalami gangguan, Si Kecil umumnya akan menunjukkan gejala:

  1. tidak mau atau tidak suka disentuh;
  2. menghindari kerumunan orang;
  3. tidak menyukai bahan-bahan tertentu (rumput, pasir, dan sebagainya);
  4. tidak betah dengan segala hal yang kotor.

Sensori pendengaran

Semua informasi yang diterima lewat suara-suara di luar tubuh. Gangguan pada sensori ini akan menimbulkan gejala:

  1. takut mendengar suara air ketika menyiram toilet atau suara penyedot debu, pengering rambut, blender, gonggongan anjing, dan sebagainya;
  2. menangis atau menjerit berlebihan ketika mendengar suara yang tiba-tiba;
  3. sering berbicara sambil berteriak ketika ada suara yang tidak disukainya.

Sensori penciuman

Semua informasi yang didapatkan dari aroma atau bau yang tercium. Gangguan pada sensori penciuman akan menimbulkan gejala:

  1. menolak masuk ke suatu lingkungan karena tidak menyukai baunya;
  2. tidak menyukai makanan tertentu hanya karena baunya;
  3. selalu menciumi barang-barang atau orang di sekitarnya;
  4. kesulitan membedakan bau.

Sensori penglihatan

Semua informasi yang ditangkap oleh mata, seperti warna, cahaya, gerakan, dan sebagainya. Gangguan pada sensori penglihatan akan menunjukkan gejala:

  1. mudah teralih oleh stimulus penglihatan dari luar;
  2. senang bermain dalam suasana gelap;
  3. kesulitan membedakan warna, bentuk, dan ukuran;
  4. menulis naik turun di kertas tanpa garis.

Sensori pengecapan

Semua informasi yang didapat dari semua hal yang masuk ke mulut dan lidah. Gangguan di sensori pengecapan akan menunjukkan gejala:

  1. suka memilih-milih makanan (picky eater) dan menolak mencoba makanan baru sehingga lebih senang dengan makanan yang itu-itu saja;
  2. tidak suka atau menolak sikat gigi;
  3. suka mengemut makanan karena ada kesulitan dengan mengunyah, mengisap, dan menelan;
  4. mengiler;
  5. sering memasukkan benda ke mulut.

Sensorik propioseptif (gerak antarsendi)

Input yang didapatkan berupa gerakan otot dan sendi akibat adanya tekanan sendi atau gerakan tubuh.

Gangguan sensorik propioseptif bisa ditunjukkan dengan gejala:

  1. senang aktivitas lompat-lompat;
  2. suka menabrakkan atau menjatuhkan badan ke kasur atau orang lain;
  3. sering terserimpet kaki sendiri atau benda sekitar;
  4. sering menggertak gigi;
  5. pensil patah saat menulis karena terlalu kuat memberikan tekanan;
  6. terlihat melakukan segala sesuatu dengan kekuatan panuh.

Sensorik vestibular (keseimbangan)

Input yang didapatkan dari organ keseimbangan yang berada di telinga tengah atau perubahan gravitasi, pengalaman gerak, dan posisi di dalam ruang.

Gangguan sensorik vestibular bisa ditunjukkan dengan gejala:

  1. menghindari mainan ayunan, naik turun tangga, dan perosotan;
  2. tidak suka atau menghindari naik eskalator;
  3. takut dengan ketinggian;
  4. senang berputar-putar dan kesulitan untuk berhenti;
  5. senang dilempar ke udara.
Masalah sensori cenderung terdeteksi pada masa balita (Dok. PEACE)
Dok. PEACE

Untuk anak-anak yang memiliki gangguan sensori, sangat penting baginya untuk menjalani terapi sensori integrasi karena kemampuan untuk mengintegrasi berbagai sensori merupakan fondasi dari kemampuan-kemampuan lain seperti kemampuan motorik dan kognitif. Terapi sensori integrasi memberikan anak stimulasi sensori secara terstruktur juga repetitif. Dengan begitu, anak dapat beradaptasi terhadap beberapa stimulus dan belajar untuk memrosesnya secara efisien.

Bukan hanya anak dengan gangguan sensori yang membutuhkan stimulasi sensori, tapi juga anak yang kurang mendapatkan pengalaman indrawi setelah lahir. Oleh karena itu, sensory play atau permainan yang mengasah indra sangat penting untuk banyak anak. Terutama, mereka yang memiliki sedikit kesempatan untuk bermain di luar dan menerima beragam stimulus yang dapat membantu perkembangannya.

Penyusun: peace.id

(Dok. Shutterstock)

Share This: