Manajemen Stres Ketika Anak Sakit

By Febi Purnamasari | Published 2nd October 2018

Trauma sekunder adalah kondisi ketika pihak mendampingi orang lain yang sedang stres (misalnya karena sakit kronis) pada akhirnya ikut mengalami stres (Dok. Shutterstock)

Gendis Utoyo menutup diri dari lingkungan sosialnya setelah melahirkan sang buah hati, Bung Suseno. Bung mengidap beberapa penyakit langka yang mengharuskannya dirawat di NICU (Neonatal Intensive Care Unit) selama sebulan.

Di tengah rasa stres dan lelah berjuang untuk kesembuhan anaknya, Gendis harus menghadapi berbagai tekanan dari orang-orang terdekatnya.

“Aku menghadapi keluarga besar bagaikan tantangan. Mereka berusaha menunjukkan empati, tapi dengan berkata, ‘Aduh kasihan, ya…’ Hal itu justru membuat saya down,” kenang Gendis saat menjadi narasumber sebuah diskusi perencanaan keuangan keluarga pada akhir Mei 2018.

Gejala trauma sekunder

Pada kesempatan yang sama, Psikolog Retno Dewanti menjelaskan bahwa kondisi yang dialami Gendis dan keluarganya adalah hal wajar. Sebutannya adalah trauma sekunder (secondary trauma). Yakni, kondisi ketika pihak mendampingi orang lain yang sedang stres (misalnya karena sakit kronis) pada akhirnya ikut mengalami stres. Tidak hanya orang tua, trauma sekunder ini juga bisa dialami pengasuh (caregiver) yang selalu ada di sebelah anak seperti kakek, nenek, tante, dan sebagainya.

Gejala trauma sekunder, antara lain

  • merasa gamang,
  • mudah menangis,
  • dikuasai oleh perasaan negatif,
  • merasa lelah mental, lesu, lelah fisik, juga gagal,
  • produktivitas menurun, dan
  • merasa tidak punya harapan lagi.

Retno berpendapat, ketika mengalami trauma sekunder, orang tua harus melakukan hal-hal di bawah ini.

Mengenali kemampuan diri

Menurut Retno, orang tua perlu tahu saatnya untuk menyerah dan meminta bantuan. Pasalnya, pada beberapa orang, gejala-gejala trauma sekunder ditekan sedemikian rupa sehingga ia terlihat kuat dan tegar.

“(Justru) kondisi itu yang seharusnya membuat kita hati-hati. Kita boleh berusaha kuat, tapi ada batasannya,” ungkap Retno.

Upaya untuk terlihat tegar kerap berdampak pada keharmonisan perkawinan. Karena itulah, kita sebagai orang tua perlu mengenali batas-batas kekuatan psikologis ketika energi sudah terkuras.habis-habisan (burn out). Menurut Retno, kesadaran inilah yang paling sulit diterapkan. Padahal, kita membutuhkan bantuan saat mengalami burn out.

Salah satu tanda orang tua mengalami burn out adalah ia mulai menyalah-nyalahkan peran pasangannya. Misalnya dengan berkata, “Aku sudah capek mengurus anak dari pagi, sementara kamu cuma kerja.”

Karena itulah, orang tua perlu membuka diri terhadap dukungan dari pihak lain.

Membuat jejaring pengaman

Memang sulit, sih, untuk mempercayakan orang lain membantu kita, sementara banyak dari mereka yang cenderung menghakimi atau memaksakan bantuan. Retno pun mendorong orang tua untuk memetakan pihak-pihak yang dapat menjadi safety net atau jejaring pengaman kita. Safety net nantinya siap mengulurkan tangan di saat diperlukan berupa dukungan mental, psikologis, atau finansial.

“Manusia pasti ada titik ambruknya. Sebagai orang tua, membuat safety net itu investasi. Tidak harus keluarga, bisa juga sahabat. Tapi, cari safety net yang tidak menghakimi,” ujar Retno.

Retno berpendapat, pihak-pihak yang mudah menghakimi terkadang memberikan saran yang tidak logis dan menyebabkan biaya yang terbuang. Contohnya, ia menganjurkan agar anak dibawa ke orang ‘pintar.’ Orang tua pun harus cermat lagi dalam memilih safety net.

Sementara, Gendis sendiri dapat bangkit setelah berkenalan dengan orang-orang asing di luar lingkar pertemanan yang senasib dengannya. Salah satunya, Ratih Megasari, ibunda Almarhum Adam Fabumi yang mengidap penyakit langka karena kelainan kromosom.

“Setelah menyimak cerita Ratih, aku merasa ada koneksi. Ketika dia merawat Adam di NICU, aku juga lagi di NICU (merawat Bung). Ada juga dari ibu-ibu Paguyuban Bayi Langsing. Support system yang membawa aku pada titik, ‘Aku harus do something. Aku harus kuat untuk Bung.’ Jadwal operasinya ketat, tapi aku harus segera bangkit dan kekuatan itu harus kita ciptakan sebagai orang tua,” jelas Gendis.

Putuskan pembagian kerja

Retno menegaskan, salah satu pihak di antara ayah dan ibu tidak bisa seratus persen mengurus anak. Karena itulah, mereka perlu memutuskan perannya masing-masing.

“Putuskan siapa yang kerja dan siapa yang fleksibel atau secara penuh mengurus anak di rumah. Tapi, pembagian peran yang adil tidak harus 50:50. Dengan begitu, ketika ibu capek, bapak enggak terlalu capek. Karena kalau 50:50, dua-duanya capek,” jelas Retno.

Libatkan keluarga

Retno berpendapat, keluarga tetap harus dilibatkan untuk jangka panjang. Caranya dengan mengajarkan keterampilan ke orang-orang terdekat agar bisa merawat anak seperti kita yang melakukannya.

“Jika ibu berkomentar (karena ada perbedaan pandangan), abaikan saja. Hal yang penting,kita sudah menyampaikan cara kita merawat anak selama ini,” ujar Retno.

Sebenarnya, pengetahuan seputar trauma sekunder ini tak hanya relevan bagi orang tua yang anaknya sakit kronis. Setiap orang tua juga perlu mengetahuinya. Soalnya, ada pula kondisi lainnya yang bisa membuat orang tua stres dan kelelahan menjalankan tugas mengurus anak. Jadi, jangan gengsi mencari bantuan ketika kamu sudah burn out, ya!

(Febi/ Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.