Kalimat yang Perlu Dihindari Saat Bicara ke Anak

By Putu Dyah | Published 12th April 2018

Jadi orang tua memang banyak tantangannya. Bukan hanya perkara memenuhi kebutuhan ini-itu buat Si Kecil. Ayah dan Ibu juga mesti berhati-hati saat bicara ke anak. Salah-salah ngomong, justru bisa berdampak buruk buat perkembangan diri dan emosi mereka.

Dalam situs Parenting and Child Health, disebutkan enam tipe kalimat yang sebaiknya tidak diucapkan di depan anak. Berikut informasinya:

Kalimat mengancam

“Kalau enggak mau makan, Ibu pergi ya”

Kalimat seperti ini menimbulkan rasa tidak aman pada anak. Padahal orang tua adalah sumber keamanan yang utama bagi mereka. Daripada memakai kalimat ancaman, coba diganti dengan “Dek, Ibu senang deh kalau kamu mau menghabiskan makannya.”

Hidup bakal lebih baik kalau enggak ada anak

“Coba enggak ada kamu, Mama masih bisa ke sana-sini tanpa kerepotan deh.”

Salah satu kebutuhan anak adalah merasa dirinya berharga. Kalimat seperti ini membuat mereka merasa tidak dihargai dan dicintai. Apalagi kalau yang mengucapkan orang tuanya sendiri. Saat lagi emosi, coba ingat lagi kebahagiaan dan momen-momen berharga yang kamu dapat setelah hadirnya si kecil.

Kalimat yang membandingkan anak

“Kenapa sih kamu enggak bisa rapi seperti kakak?”

Orang dewasa saja pasti kesal kan kalau dibanding-bandingkan sama orang lain? Ingat, tiap anak punya karakter yang istimewa. Membandingkan mereka dengan anak lain justru membatasi perkembangan diri anak. Jadi, sebaiknya stop membandingkan anak agar mereka percaya dengan dirinya sendiri.

Memberi cap ke anak

“Duh, kamu nih nakal yaa. Enggak usah nangis, jangan cengeng!”

Labelling atau memberi cap ke anak sama saja membuat mereka berpikir seperti itu tentang dirinya. Anak akan menganggap dirinya sesuai label yang diberikan orang tuanya. Bisa-bisa hal ini tertanam di pikiran mereka dan jadi karakter yang kebawa sampai dewasa.

Daripada memberi cap buruk, mending sampaikan kalimat-kalimat positif ke anak. Hal ini bisa memberi efek tenang ke orang tua sekaligus membantu anak membentuk citra positif tentang dirinya.

Kalimat menyalahkan

“Kamu bikin Ayah capek!”

Anak butuh buat merasa dicintai. Kalau mendengar kalimat yang menyalahkan mereka, Si Kecil bisa merasa rendah diri dan enggak berharga.

Buat menghindari kalimat seperti itu, Ayah dan Ibu bisa menjelaskan hal yang sebenarnya ke anak. Misalnya, “Ayah lagi capek. Tunggu dulu ya, nanti ayah temenin main lagi.”

Kalimat merendahkan

“Sudah sini, biar Ibu aja. Adek lama rapiin mainannya”

Kalimat bernada merendahkan membuat anak merasa tidak diberi kesempatan. Ayah dan Ibu perlu belajar percaya ke anak. Hal ini juga berperan untuk membentuk kemandirian dalam diri mereka.

Perlu diingat, kalau anak belum tentu bisa melakukan suatu hal sesuai standar orang dewasa. Jadi beri mereka kesempatan bereksplorasi dan hargai proses yang mereka jalani.

Kalimat yang mengecilkan hati

“Kenapa sih kamu enggak pernah benar makannya?”

Mirip seperti merendahkan, kalimat seperti ini membuat nyali anak jadi ciut. Bisa jadi anak enggak tertarik lagi buat mencoba suatu hal. Ke depannya justru bisa membentuk sikap pesimis dalam diri mereka.

Sebagai gantinya, coba sampaikan kalimat yang memotivasi mereka. Jadi, anak belajar untuk enggak gampang menyerah dan mau terus belajar.

Di usia yang masih dini, anak-anak memandang diri mereka sesuai apa disampaikan orang tuanya. Jadi, kalau Ayah dan Ibu mau membentuk sikap positif pada anak, ya hindari kata-kata negatif ke mereka.

Kalau kata orang tua zaman dulu, ucapan orang tua adalah doa. Jadi daripada menyampaikan hal buruk ke anak, mending doain yang baik-baik buat mereka yuk!

(Dyah/ Dok: Pixabay)

Share This: