Jangan Sia-siakan Periode Terpenting Perkembangan Anak

By Febi Purnamasari | Published 28th November 2018

Enam tahun pertama kehidupan merupakan periode terpenting perkembangan anak (Dok. Shutterstock)

Dulu saya mengira, tahun-tahun awal kehidupan anak tidak begitu penting. Pasalnya, menurut saya waktu itu, manusia cenderung tidak bisa mengingat masa kecilnya. Pada masa ini, anak juga masih dalam tahap belajar kemampuan-kemampuan yang sangat mendasar sehingga saya pikir, kehadiran dan keterlibatan penuh saya tidaklah penting.

Ternyata, saya salah besar. Justru enam tahun pertama kehidupan merupakan periode terpenting perkembangan anak. Salah satunya karena delapan puluh persen otak anak berkembang di periode emas tersebut. Pendapat itu diungkapkan oleh banyak pakar seperti Maria Montessori, tokoh pendidikan yang berpengaruh di dunia. Menurut Montessori, apapun yang ditangkap oleh indra anak pada usia 0-6 tahun akan menetap di pikirannya.

Anak belajar tanpa sadar di usia 0-3 tahun

Anak justru belajar berbagai kemampuan di tiga tahun pertama kehidupannya, saat pikiran bawah sadarnya masih dominan. Pikiran bawah sadar adalah pemikiran yang belum terbentuk dan menyerap kesan tanpa disadari. Berbekal pikiran bawah sadar, anak belajar ragam kemampuan seperti duduk, berdiri, dan berbicara dengan sendirinya dan tanpa sadar.

Selain itu, pikiran bawah sadar membuat anak menjadi peniru ulung orang-orang dewasa di sekitarnya. Tak hanya belajar bahasa yang sehari-hari digunakan, anak juga mencontoh perilaku orang-orang di lingkungannya dalam berbagai situasi. Misal, anak yang sehari-hari mendengar teriakan orang dewasa ketika marah, ia juga cenderung berperilaku serupa ketika kesal. Di sisi lain, jika anak berada dalam lingkungan dengan emosi yang stabil, ia pun cenderung meneladaninya.

Di usia 3-6 tahun, pengalaman anak mempengaruhi kepribadian

Sementara, di periode 3-6 tahun, pikiran sadar anak sudah dominan. Meski informasi masih sangat mudah masuk ke pikiran, anak menyerapnya dengan kesadaran. Di periode ini, anak-anak akan melanjutkan pengetahuan yang mereka dapatkan sebelumnya (0-3 tahun). Mereka mulai memperbaiki dan mengintegrasikan pengetahuan tersebut dengan pengalaman-pengalaman baru juga menjadikannya bagian dari kepribadian. Oleh karena itu, tugas orang dewasa adalah membantu anak melakukan segala sesuatu dengan benar untuk memperkaya pengalamannya mencoba berbagai hal.

Pada periode 0-6 tahun, berbagai pencapaian pesat pun terjadi, yakni anak:

  • beralih dari tidak bisa apa-apa menjadi dapat menguasai banyak hal;
  • mengalami perkembangan fisik, mental, dan kognitif yang cepat;
  • fokus pada perkembangan fisik, intelektual, bahasa, emosi, dan sosial secara holistik.

Terlebih, metode pembelajaran yang sesuai pada masa ini akan menentukan kepribadian hingga anak dewasa, lho.

Anak dari berbagai generasi memiliki potensi yang sama

Perkembangan pesat di atas pasti dialami setiap anak yang normal. Psikolog Anak Ratih Pramanik bahkan mengungkapkan, sejak Generasi Baby Boomers hingga generasi anak-anak kita yang dikenal sebagai Generasi Alfa, anak yang lahir telah dibekali potensi yang sama. Potensi tersebut mengembangkan diri anak menjadi manusia seutuhnya dengan spiritualitas yang baik.

“Namun karena statusnya masih potensi, maka lingkunganlah yang kemudian berpengaruh, apakah lingkungan ini mendukung potensi ini untuk berkembang atau tidak. Karena itulah, kapanpun generasi anaknya lahir, orang tualah yang harus terlebih dahulu mempersiapkan diri,” jelas Ratih kepada Parentalk.

Untuk mengetahui hal-hal yang perlu Millennial Parents lakukan di enam tahun pertama kehidupan anak, cek juga artikel Tips Mendidik Generasi Alfa.

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This: