Jangan Buru-buru Membawa Anak ke Dokter

By Febi Purnamasari | Published 9th August 2018

Orang tua perlu memahami dan melakukan sejumlah hal sebelum membawa si kecil ke tenaga kesehatan (Dok. Pixabay)

Saat baru awal-awal punya bayi.. ingin rasanya segera melarikan anak ke rumah sakit saat ia demam. Ada yang kayak saya juga? Agar konsultasi berlangsung efektif serta mengurangi risiko tindakan medis yang tidak rasional, ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan.

Biarkan demam menjalankan tugasnya

Demam tinggi memang bikin panik, apalagi kalau anak rewel dan pengennya digendong terus. Menurut dr. Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPed, tingginya suhu bukan berarti penyakitnya lebih parah. Terlebih, demam membantu tubuh memerangi infeksi. Suhu rendah justru membuat virus semakin marak. Diagnosis penyakit biasanya dapat dilakukan ketika hari ketiga atau keempat demam.

“Waktu yang dibutuhkan untuk membunuh bakteri atau virus itu biasanya rata-rata di atas 72 jam. Makanya berat dari (sisi) dokter kalau demam belum 72 jam, sementara orang tua menuntut demam hilang. Itu tugas yang sangat berat dan tidak masuk akal,” ujar dokter yang akrab disapa dr. Wati itu.

Tahu waktu yang tepat ke tenaga kesehatan

Kapan waktu yang tepat untuk ke rumah sakit? Menurut dr. Wati, bila anak demam lebih dari 72 jam, namun tidak disertai gejala lainnya dan menunjukkan tanda kegawatdaruratan seperti sesak napas, dehidrasi, penurunan kesadaran, dan kejang demam kompleks.

Catat gejala penyakit

Selain observasi tanda gawat darurat, Ayah dan Ibu sebaiknya mencatat gejala untuk mencari penyebab penyakit. Misal, bila anak demam disertai batuk dan pilek, kemungkinan gejala tersebut menandakan common cold atau selesma. Dengan begitu, terapinya adalah perbanyak asupan cairan sampai penyakit sembuh sendiri dan kondisi anak membaik.

Berinteraksilah dengan anak

Interaksi juga bisa menjadi patokan kita untuk menilai ada atau tidaknya kegawatdaruratan. Berkomunikasilah dengan anak yang sakit.

“Makanya saya selalu bilang pada pasien saya kalau anak sudah besar, saya ajak bicara. ‘Sekolah di mana?’ ‘Siapa nama gurunya?’ Kalau bisa jawab, itu kan kemampuan berinteraksi. Kalau bayi kecil, bagaimana saya tahu bahwa dia bisa berinteraksi? Dia tahu saya orang asing dan dia menangis sekuat-kuatnya waktu saya sentuh. Saya suka bilang kalau ada pasien yang bisa berontak, menendang, nangis, atau marah, saya justru lega karena berarti tidak ada kegawatdaruratan,” terang dr. Wati.

Baca dulu sebelum mencurigai penyakit

Dokter Wati juga meminta orang tua untuk tidak mudah mencurigai penyakit parah berpatokan pada demam saja.

“Jangan curiga tipes kalau demamnya baru 3-4 hari. Demamnya on-off. Masih bisa beraktivitas,” tambahnya.

Ia juga mendorong para orang tua untuk membekali informasi dari situs-situs kredibel seperti IDAI, American Academy Pediatrics, Royal Children Hospital, Mayo Clinic, dan Milis Sehat sebelum berkonsultasi ke tenaga kesehatan.

Bila Ayah atau Ibu harus membawa si kecil ke dokter, tanyakan tiga hal di bawah ini:

  1. Ajukan pertanyaam seperti, “Apa penyakit atau masalahnya?” dan “Apa penyebabnya?”
  2. Tanyakan, “Apa yang harus dilakukan?” dan “Mengapa harus dilakukan?” Misal, observasi tanda darurat.
  3. Kapan harus cemas? Tahu kapan harus kembali ke dokter atau rawat inap.

Dengan memastikan hal-hal di atas, harapannya, sang buah hati mendapatkan penanganan yang tepat.

Selengkapnya, lihat artikel Pentingnya Observasi Saat Anak Sakit.

(Dok. Pixabay)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.