Jenis-Jenis Hadiah yang Disukai Anak

By Febi Purnamasari | Published 12th November 2018

Ada banyak jenis hadiah bersifat sosial yang gratis dan berdampak jauh lebih kuat pada anak ketimbang hadiah materi (Dok. Shutterstock)

Sejumlah pakar psikologi menyarankan pemberian hadiah untuk mendorong perilaku baik anak. Namun, konsep hadiah sering kali dikaitkan dengan hal-hal yang mengeluarkan biaya seperti mainan dan camilan manis. Padahal, hadiah buat anak tidak hanya bersifat materi. Ada banyak jenis hadiah yang sifatnya sosial dan gratis, bahkan berdampak lebih besar pada anak ketimbang hadiah materi.

Lalu, apa saja jenis-jenis hadiah untuk anak agar memicu perilaku baiknya?

Kasih sayang

Hadiah berupa kasih sayang memberitahu Si Kecil bahwa orang tuanya menerima perilaku baiknya. Bentuk hadiahnya dapat berupa pelukan, ciuman, high five, senyuman, usapan di punggung, atau rangkulan.

Pujian spesifik

Tujuannya agar buah hati mengetahui perilaku yang orang tua sukai. Misal:

“Bagus sekali! Kamu bermain dengan tenang saat Ibu sedang berbicara di telepon.”

“Terima kasih. Kamu sangat membantu Ibu karena mengembalikan semua mainanmu ke tempatnya.“

Perhatian dan kegiatan yang menyenangkan

Lebih banyak quality time dengan buah hati dapat menjadi hadiah yang amat berkesan bagi anak-anak. Contohnya, terlibat dalam permainan favoritnya, membacakan cerita, menemani buah hati ke taman, dan memberikan kesempatan pada Si Kecil untuk membantu menyiapkan makan malam. Kegiatan lainnya dapat berupa pergi ke bioskop, kebun binatang, atau bermain ice skating. Dengan catatan, aktivitas semacam itu hanya berlaku di saat tertentu saja.

Catatan untuk pemberian hadiah bersifat materi

Hadiah materi haruslah berupa benda yang benar-benar disukai atau dinikmati buah hati. Jika tidak, ia pun kurang tertarik untuk mendapatkannya. Variasikan juga hadiahnya agar anak tidak bosan mendapatkan hal yang sama berulang kali.

Jika anak masih berusia balita atau prasekolah, berikan hadiah-hadiah kecil seperti stiker, stempel, maupun simbol smiley face. Misal, dengan menerapkan grafik hadiah untuk mencatat perilaku-perilaku baiknya Namun, perlu diingat, kondisi ini berubah seiring bertambahnya usia anak. Hadiah tentu harus disesuaikan dengan umur, tingkat kemampuan, dan preferensi anak.

Pujian dan perhatian sudah semestinya mengiringi hadiah materi untuk menciptakan hubungan positif antara anak dan orang tua. Kombinasi hadiah sosial dan hadiah materi juga dapat mempercepat perubahan perilaku pada diri anak.

Program pemberian hadiah

Orang tua dapat menyiapkan program pemberian hadiah untuk anak. Dengan begitu, Ayah dan Ibu dapat memantau frekuensi Si Kecil berperilaku baik. Untuk balita dan anak prasekolah, penerapannya dapat sesederhana menggunakan grafik dengan stiker. Perilaku-perilaku yang membuat anak berhak menerima hadiah mulai dari tidur malam tepat waktu, membawa perlengkapan makan ke tempatnya usai bersantap, menggunakan potty untuk buang air, atau menyikat gigi secara sukarela. Anak-anak memang membutuhkan hadiah-hadiah kecil untuk melakukan sesuatu sebelum menjadi kebiasaan.

Khusus anak-anak yang lebih besar, hadiah atas perilaku baiknya dapat berupa koin, kelereng, atau kepingan yang bisa dikumpulkan untuk kemudian ditukarkan dengan barang maupun kegiatan yang ia inginkan. Misal, bila anak mengumpulkan lima kelereng, ia berhak jalan-jalan taman bersama orang tua.

Perlu diingat, penggunaan hadiah hanya bersifat sementara. Orang tua dapat mulai mengurangi penggunaannya setelah buah hati melakukan hal yang diharapkan darinya secara konsisten.

Selain itu, pakar psikologi lainnya yang kontra dengan pemberian hadiah berpendapat, reward/sogokan tidak mendukung kemandirian anak, malah membuatnya tergantung. Alih-alih memberikan hadiah, orang tua sebaiknya memberikan dukungan untuk anak. 

Referensi: artikel “Use of Rewards” pada Centers for Disease Control and Prevention (CDC)

(Febi/ Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.