Fakta Seputar Vaksinasi Campak-Rubella (Vaksin MR)

By Febi Purnamasari | Published 6th September 2018

Pemberian vaksin MR adalah pencegahan terbaik untuk penyakit campak dan rubella (Dok. Shutterstock)

Sudahkah Si Kecil menerima vaksin campak dan rubella (MR), Parents? Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pemberian vaksin MR adalah pencegahan terbaik untuk penyakit campak dan rubella (campak Jerman), lho. Satu vaksin dapat mencegah dua penyakit sekaligus.

Jika kamu masih ragu, simak dulu fakta seputar vaksinasi campak-rubella (MR) berikut ini, yuk!

Apa itu vaksin MR?

Vaksin Measles-Rubella (MR) adalah vaksin hidup yang dilemahkan (live attenuated) berupa serbuk kering dengan pelarut.

Vaksinasi MR diberikan untuk semua anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun selama kampanye imunisasi MR. Selanjutnya, MR masuk dalam jadwal vaksinasi rutin dan diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD atau sederajat menggantikan imunisasi campak.

Vaksin MR juga sebaiknya diberikan pada perempuan yang merencanakan kehamilan. Misal, satu bulan atau beberapa bulan sebelum kehamilan. Tujuannya untuk mencegah risiko terjangkit rubella selama hamil yang dapat membahayakan janin.

Cara kerja vaksin

Vaksinasi membantu tubuh mengembangkan sistem kekebalannya dengan menirukan cara kerja infeksi. Namun, infeksi yang ditimbulkan tidak menyebabkan penyakit karena kumannya sudah dilemahkan. Tujuannya untuk merangsang sistem kekebalan tubuh menghasilkan sel-sel memori dan antibodi.

Terkadang imitasi infeksi lewat vaksinasi ini menyebabkan demam. Tapi, kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) ringan tersebut merupakan hal normal dan sebaiknya disangkakan sebagai cara tubuh membangun kekebalan. Ingat, demam itu kawan, bukan?

Apakah vaksin MR memiliki efek samping?

IDAI menegaskan, tidak ada efek samping dalam imunisasi. Demam ringan, ruam merah, bengkak ringan dan nyeri di tempat suntikan setelah imunisasi adalah reaksi normal yang akan menghilang dalam 2-3 hari. KIPI yang serius juga sangat jarang terjadi.

Apakah vaksin MR menyebabkan autisme?

Berdasarkan IDAI, sampai saat ini belum ada bukti yang mendukung bahwa imunisasi jenis apapun dapat menyebabkan autisme.

Selain itu, jurnal studi yang mengungkapkan adanya hubungan antara vaksin MMR dengan autisme telah dicabut pada 2004 oleh The Lancet. Pasalnya, sang peneliti terbukti memalsukan data dan memanipulasi hasil penelitiannya.

Kontraindikasi pemberian vaksin MR

Individu dengan kondisi di bawah ini semestinya tidak menerima vaksin MR:

  • sedang dalam terapi kortikosteroid, imunosupresan dan radioterapi;
  • wanita hamil;
  • menderita leukemia, anemia berat dan kelainan darah lainnya;
  • kelainan fungsi ginjal berat;
  • decompensatio cordis (gagal jantung);
  • setelah pemberian gamma globulin atau transfusi darah;
  • riwayat alergi terhadap komponen vaksin (neomicyn).

Seberapa amankah vaksin MR?

Saat ini Indonesia menggunakan vaksin MR dari SII atau Serum Institute of India. SII merupakan satu-satunya pemasok vaksin MR yang telah lolos kualifikasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan dapat memproduksi dalam kapasitas besar. Tak hanya itu, vaksin MR tersebut telah memperoleh izin edar dari Badan POM dan penggunaannya diperbolehkan oleh Majelis Ulama Indonesia karena ada kondisi keterpaksaan (darurat syariah).

Vaksin MR yang diproduksi SII juga aman dan telah digunakan di lebih dari 141 negara di dunia. Bahkan, 26 negara yang merupakan anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menggunakannya. Sebut saja, Malaysia, Yordania, Iran, Turki, Lebanon, Irak, Mesir, Afghanistan, Aljazair, Bangladesh, Libya, Moroko, Tunisia, dan Yaman.

Meski lingkungan keluarga sehat, vaksin MR tetap penting

Semakin banyak orang yang menerima vaksin MR, semakin kebal pula suatu komunitas terhadap campak dan rubella. Kondisi ini disebut herd immunity atau imunitas kelompok. Bahkan, segelintir individu yang tidak menerima vaksin seperti bayi baru lahir dan orang-orang yang termasuk kontraindikasi pemberian vaksin tetap terlindungi karena adanya herd immunity. Ini lantaran penyakit bersangkutan memiliki peluang kecil untuk menyebar di antara komunitas tersebut.

Belajar pengalaman dari Negeri Paman Sam, pada 2014, Amerika Serikat mengalami kejadian luar biasa campak terbesar sejak tahun 2000, yakni 667 kasus. Berdasarkan Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika, salah satu penyebab KLB tersebut adalah mayoritas orang yang menderita campak tidak menerima vaksinasi sebelumnya.

Jadi, sekarang kamu sudah paham alasan pentingnya vaksin MR, kan?

Referensi:

  • What To Expect The Second Year oleh Heidi Murkoff dan Sharon Mazel
  • Artikel “Maternal Vaccines: Part of a Healthy Pregnancy” pada CDC

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.