Empati Orang Tua yang Menghadapi Musibah

By Febi Purnamasari | Published 20th April 2018

Empati untuk orang tua yang anaknya mengalami kecelakaan

“Belajar, mengoreksi diri sendiri karena mengoreksi orang lain tidak butuh belajar.” -Anonymous

Pernahkah Ayah dan Ibu mendapati orang tua lain yang menghadapi musibah? Misalnya saja, orang tua yang anaknya mengalami kecelakaan hingga menyebabkan cedera, sakit parah, bahkan meninggal dunia. Bagaimana reaksi pertama kita atau orang-orang sekitarnya? Apakah seperti komentar di bawah ini?

Orang tuanya gimana, sih?

Kasihan sekali anaknya…

Dijagain dong, anaknya!

Rasanya menjadi orang tua yang menghadapi musibah

Kebetulan, saya baru saja mengalami musibah. Anak kedua saya yang masih berusia 14 bulan mengalami patah tulang lengan setelah terjatuh dari tempat tidur. Saat kejadian, saya ketiduran selama menyusui si kecil dan waktu menunjukkan pukul 23.00. Anak yang biasanya langsung tertidur saat menyusu, ketika itu masih ingin bermain dan musibah tersebut pun terjadi.

Bagaimana rasanya mendapati anak yang cedera? Panik, sedih, dan menyesal semua menjadi satu. Saya pun tak henti-hentinya meminta maaf pada buah hati. Belum lagi rasa khawatir luar biasa yang harus dihadapi karena ia cedera pada tengah malam dan kami harus menunggu hingga lusa untuk mendapatkan tindakan dari dokter spesialis ortopedi.

Dengan kondisi psikologis seperti itu, saya hanya bisa menangis. Berbagai emosi negatif pun dengan mudahnya menguasai diri.

Hal yang membuat orang tua semakin stres

Saat saya merasa khawatir karena anak belum kunjung mendapatkan tindakan, banyak sekali orang-orang sekitar yang menanyakan kondisi si kecil.

“Anaknya kenapa?”

Kalau tenaga medis yang mengajukan pertanyaan, saya masih maklum. Namun, pertanyaan itu saya terima berkali-kali dalam sehari dan mungkin terdengar sepele karena orang-orang sekadar kepo atau prihatin. Sebagai ibu yang sedang panik bersama anak cedera, pertanyaan tersebut sebenarnya mengganggu dan membuat saya tambah resah.

Belum lagi raut wajah mereka yang seakan menyalahkan kelalaian saya sebagai orang tua. Begitu juga ragam komentar bernuansa mom-shaming yang telah saya sebutkan sebelumnya. Tanpa disadari pengalaman tersebut membuat saya semakin stres dan menyalahkan diri sendiri.

Hal yang dapat membuat orang tua lebih tenang

Meski banyak orang yang kurang berempati, saya bersyukur masih ada pihak keluarga yang menguatkan saya.

“Sabar, ya…”

“Yang kuat, ya…”

“Ada hikmah di balik setiap musibah…”

“Jangan lupa istirahat dan jaga kesehatan.”

“Enggak kebayang kalau saya yang menghadapi anak cedera. Tetap semangat, ya!”

Mereka prihatin dengan kecelakaan yang dialami si kecil, namun tidak melupakan perasaan kedua orang tuanya. Hal itu pun membuat saya sedikit lebih tegar dalam menghadapi musibah tersebut.

Pelajaran yang dapat dipetik

“Your best teacher is your last mistake.” -Ralph Nader, Aktivis Amerika Serikat

Sejatinya tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya menderita. Ibu yang ketiduran saat bersama anak mungkin dipandang sebagai sebuah kelalaian. Adanya musibah yang ditimbulkan pun akan menjadi memori sepanjang hidup sekaligus pelajaran berharga. Karena itulah, bila ada teman atau kerabat yang mengalami hal serupa, tak perlu menyalahkan, apalagi menggurui agar ia menjadi ayah atau ibu yang lebih baik. Pahitnya memori otomatis mendorong orang tua untuk lantas memperbaiki diri.

Selain itu, ketahui dulu kronologi musibah sebelum berkomentar. Tentu Ayah atau Ibu bisa menanyakannya pada pendamping orang tua yang lebih tenang. Ketimbang melontarkan pertanyaan atau komentar yang rentan menyakiti, sikap diam justru lebih baik.

(Febi/ Dok. Pixabay)

Share This: