Cry It Out, Metode Sleep Training ala Bule

By Febi Purnamasari | Published 15th November 2018

 Metode cry it out (CIO) mendorong bayi untuk berlatih tidur sendiri meski harus menangis terus-menerus untuk periode waktu tertentu (Dok. Shutterstock)

Cry it out. Mungkin metode melatih bayi tidur alias sleep training ini masih belum lazim di masyarakat kita. Soalnya, metode cry it out (CIO) mendorong bayi untuk berlatih tidur sendiri meski harus menangis terus-menerus untuk periode waktu tertentu. Selain itu, orang tua hanya sedikit mengintervensi. Metode ini mendorong bayi untuk dapat tidur sendiri secara terpisah dari ayah dan ibunya alias di ruangan berbeda.

Sleep training dengan CIO lazim dipraktikkan oleh para orang tua di Barat, seperti Amerika. Bayi-bayi berusia lima atau enam bulan bahkan sudah bisa menjalani sleep training dengan metode cry it out. Penasaran kan, dengan metode sleep training ala bule ini? Yuk, kenalan lebih jauh!

Mendorong anak belajar tidur sendiri

Menurut situs Baby Center, CIO kerap disamakan dengan metode sleep training yang dipresentasikan oleh Dokter Anak Richard Ferber. Maka tak heran, sebagian orang tua menyebutnya “Ferberizing” meski Ferber sendiri tidak pernah menggunakan istilah cry it out.

Metode ini memiliki tujuan jangka panjang, yaitu anak dapat tidur sendiri dengan mudah, sementara orang tua dapat tidur malam dengan nyenyak. Karena itulah, salah satu syaratnya, anak ditaruh di tempat tidurnya dalam kondisi terjaga, bukan tertidur. Jika orang tua menggendong si kecil hingga tertidur lalu memindahkannya ke crib, ia akan kesulitan belajar menenangkan dirinya untuk bisa terlelap.

Para pakar dari Barat berpendapat, metode CIO berhasil di kebanyakan keluarga. Mereka setuju bahwa tangisan adalah hal yang normal dan menjadi bagian tak terhindarkan dari sleep training.

Penulis What To Expect The First Year Heidi Murkoff mengungkapkan, bayi berusia enam bulan sudah dapat memahami bahwa dengan menangis, mereka akan digendong, diayun, disusui, atau jika beruntung, mendapatkan tiga-tiganya. Tapi, sekalinya mereka menerima pesan bahwa Ayah atau Ibu tidak lantas bereaksi terhadap tangisan saat jam tidur, kebanyakan bayi tak lagi menjadikannya ‘senjata’ dalam tiga sampai empat malam.

Sementara menurut situs Baby Center, pendekatan CIO menganggap kemampuan untuk tidur sendiri dapat dikuasai oleh bayi bila orang tua memberikannya kesempatan. Jika si kecil terbiasa diayun atau disusui untuk tidur, ia tidak akan belajar tidur sendiri. Dengan begitu, ketika ia terbangun tengah malam, ia akan menjadi khawatir dan menangis mencari orang tuanya ketimbang kembali tidur.

Sebaliknya, jika bayi belajar menenangkan dirinya untuk tidur, ia akan menggunakan kemampuan yang sama ketika terbangun tengah malam atau tidur siang.

Rutinitas tidur, faktor menentukan

Sebelum menjalankan sleep training, orang tua harus memastikan sejumlah hal dulu:

  • kebiasaan tidur bayi, termasuk memastikan si kecil terlalu lama atau sedikit tidur di siang hari,
  • menyapih si kecil dari kebiasaan menyusu tengah malam, dan
  • jika anak harus menyusu dulu agar tertidur, mulai terapkan rutinitas menjelang tidur. Susui anak sebelum ia benar-benar mengantuk dan lebih dulu dari bedtime routine lainnya seperti membaca buku cerita.

Menurut Murkoff, berbagai hal di atas penting untuk dilakukan agar kamu dapat menaruh si kecil di tempat tidurnya saat masih terjaga dan tidak bergantung pada kebiasaan mengayun juga menyusu.

Metode CIO tentu menantang dan bakal menuai banyak drama. Orang tua pun harus melancarkan berbagai Strategi agar Sleep Training Berhasil.

Gimana, kamu berani menerapkan metode cry it out?

Referensi: What To Expect The First Year oleh Heidi Murkoff dan Sharon Mazel

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.