Cara Mencegah Stunting

By Febi Purnamasari | Published 6th March 2018

Kenali penyebab stunting dan upayakan pencegahannya

Pada artikel Jangan Abaikan Tubuh Balita Pendek, Parentalk membahas dampak jangka pendek maupun panjang stunting yang menyangkut kecerdasan juga kesehatan anak. Kasus stunting di Indonesia juga menjadi perhatian pemerintah karena negara kita memiliki prevalansi stunting kelima terbesar di dunia. Kali ini kita akan membahas cara mencegah stunting agar Ayah dan Ibu dapat mengatur strategi, bahkan sejak si kecil masih dalam kandungan

Penyebab stunting

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek dari tinggi potensial untuk usianya. Berikut adalah penyebab stunting yang Parentalk rangkum dari laporan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K).

Kurangnya asupan nutrisi semasa bayi dan balita

Salah satu penyebabnya, yakni pengetahuan yang kurang pada orang tua seputar kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan juga pascamelahirkan. Menurut data TNP2K, 60% dari anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Selain itu, 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI).

MPASI dapat mencukupi kebutuhan nutrisi tubuh bayi yang tidak lagi dapat disokong oleh ASI. Selain itu, MPASI berguna dalam membentuk daya tahan tubuh dan perkembangan sistem imunologis anak terhadap makanan maupun minuman.

Terbatasnya pelayanan kesehatan

Pelayanan yang dimaksud termasuk Ante Natal Care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan dan Post Natal Care. Kemenkes dan Bank Dunia mengungkapkan, tingkat kehadiran anak di Posyandu semakin menurun dari 79% di 2007 menjadi 64% di 2013. Anak juga belum mendapat akses vaksinasi yang memadai.

Asupan nutrisi kurang pada ibu hamil

Hal ini termasuk kondisi anemia pada ibu hamil. TNP2K menunjukkan fakta lain bahwa 2 dari 3 ibu hamil belum mengkonsumsi sumplemen zat besi yang memadai. Salah satu penyebabnya, masih kurangnya akses keluarga terhadap makanan bergizi.

Menurut beberapa sumber (RISKESDAS 2013, SDKI 2012, SUSENAS), komoditas makanan di Jakarta 94% lebih mahal dibanding dengan di New Delhi, India. Selain itu, harga buah dan sayuran di Indonesia lebih mahal daripada di Singapura.

Terbatasnya akses ke makanan bergizi di Indonesia pun dicatat berkontribusi pada 1 dari 3 ibu hamil yang mengalami anemia.

Infeksi berulang

Menurut Yayasan Orang Tua Peduli lewat situs Grup Sehat, penyebab infeksi berulang, antara lain praktik kebersihan pribadi seperti kebiasaan mencuci tangan yang buruk juga kurangnya ketersediaan air bersih maupun sanitasi.

Cara mencegah stunting

Stunting dapat dicegah dengan memenuhi nutrisi 1.000 hari pertama kehidupan anak, termasuk sejak ia berada di dalam kandungan.

Perbaikan nutrisi ibu hamil

Ibu hamil yang menderita anemia dapat diberikan suplemen zat besi. Selain itu, nutrisi yang tak kalah penting bagi bumil adalah asam folat.

Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan

Upaya ini sebaniknya sudah mencakup inisiasi menyusu dini (IMD) segera setelah persalinan. Menurut Konselor Laktasi F. B. Monika, ASI memiliki banyak manfaat mulai dari melindungi bayi dari berbagai macam penyakit dan infeksi sampai mengurangi risiko kekurangan gizi.

Pemenuhan nutrisi sejak anak dalam kandungan

Menurut situs Grup Sehat, upaya ini bahkan perlu dilakukan sebelum anak dilahirkan. Misal, sejak pembuahan ovum oleh sperma hingga usia kehamilan 20 minggu, ibu dan janin membutuhkan protein dan zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral (zat besi, magnesium, zinc, dan sebagainya).

Setelah usia kandungan lebih dari 20 minggu, kalori esensial dibutuhkan untuk membangun berat badan potensial anak juga perkembangan otaknya.

Sementara, setelah lahir sampai anak berusia dua tahun, anak memerlukan zat gizi mikro dan makro (karbohidrat, protein, dan lemak) yang seimbang. Tujuannya untuk membentuk berat dan tinggi badan optimal.

Pemantauan tumbuh kembang anak

Upaya pemenuhan nutrisi juga perlu diiringi pemantauan tumbuh kembang anak secara berkala. Dengan begitu, kasus stunting dapat dideteksi dini sehingga perbaikan nutrisi bagi anak dapat segera diupayakan. Pemantauan tumbuh kembang dapat dilakukan di pos pelayanan terpadu (posyandu) terdekat maupun saat kontrol ke dokter anak kepercayaan.

Membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat

Kebiasaan ini perlu dimulai dari pribadi sampai lingkungan, seperti mencuci tangan dengan sabun juga akses terhadap air bersih dan sanitasi untuk mengurangi risiko infeksi berulang pada anak.

Yuk, upayakan hal-hal ini untuk mencegah anak stunting!

Referensi:

  • Ringkasan: 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) oleh TNP2K
  • Artikel “Waspadai Ancaman Stunting pada Balita” oleh Grup Sehat
  • Buku Pintar ASI dan Menyusui oleh F. B. Monika

(Febi/Dok. Pixabay)

Share This: