Cara Membuat Anak Tidur Siang

By Febi Purnamasari | Published 26th March 2018

Orang tua dapat mengupayakan sejumlah tips dan trik untuk membuat anak tidur siang (Dok. Pixabay)

Ketika si kecil berusia setahun ke atas, durasi tidurnya berkurang ketimbang masih bayi dulu. Ia kini memiliki siklus tidur yang lebih teratur menyerupai orang dewasa, namun dengan beberapa kali waktu tidur siang. Tak hanya pola tidur siang, orang tua juga perlu membekali diri dengan ragam cara membuat anak tidur siang. Jangan khawatir Parentalk merangkum semuanya dalam artikel ini!

Durasi tidur siang anak usia 12-24 bulan

Tidur siang pun menjadi salah satu rutinitas wajib balita. Jika ia tak mendapatkannya, siap-siap saja dengan berbagai dampak yang dapat ditimbulkan. Mulai dari anak lebih rewel, lebih sering tantrum, kurang nafsu makan, kurang berenergi, sampai kesulitan untuk fokus.

Sebaliknya, anak balita yang mendapatkan cukup tidur siang berperilaku lebih baik, lebih tertarik untuk bermain dan mengeksplorasi, dan lebih bahagia.

Karena itulah, orang tua perlu memahami kebutuhan tidur anak balita sesuai rentang usianya. Berikut adalah panduan umum tentang durasi tidur siang rata-rata yang dibutuhkan anak balita.

  • 12-15 bulan: 3 jam yang terbagi dalam dua kali tidur siang
  • 15-18 bulan: 2 jam hingga 2,5 jam yang terbagi dalam satu atau dua kali tidur siang
  • 18-24 bulan: kebanyakan balita hanya tidur siang satu kali selama 1,5 jam sampai 2 jam per hari.

Meski begitu, sebagian balita ada yang sulit diajak tidur siang. Orang tua pun dapat mengupayakan sejumlah tips dan trik berikut ini.

Buat si kecil aktif

Di jam-jamnya terjaga pada pagi maupun siang hari, berikan kesempatan pada anak untuk bergerak aktif. Ini karena si kecil akan lebih tenang bila diberikan lebih banyak kesempatan untuk menyalurkan energinya lewat kegiatan fisik. Selain itu, anak balita yang aktif di siang hari lebih mudah terlelap dan tidur lebih nyenyak ketimbang mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk saja.

Ciptakan suasana tenang

Satu jam menjelang jadwal rutin tidur siang, Ibu bisa menciptakan suasana tenang, misalnya dengan:

  • mematikan televisi,
  • mengaktifkan mode diam pada ponsel,
  • meredupkan pencahayaan ruangan,
  • memelankan volume suara saat berbicara,
  • memutar alunan musik klasik nan lembut,
  • menciptakan white noise, misal dengan menyalakan kipas angin untuk mempedengarkan suaranya,
  • rileks dan ikut berbaring di samping anak sembari membelai kepala atau mengusap-usap punggungnya,
  • menyusui si kecil bila ia masih mengonsumsi ASI, dan
  • jika anak masih kesulitan tidur, simpan ponselmu dan ikutlah beristirahat sampai ia terlelap.

Atur jadwal tidur siang

Salah satunya dengan cara mengatur sedemikian rupa agar anak dapat tidur malam dan bangun pagi di waktu yang sama. Dengan begitu, ia pun akan memiliki jadwal tidur siang yang rutin pula.

Atur jadwal berpergian

Sebisa mungkin hindari waktu tidur siang anak saat mulai berpergian. Hal ini untuk menghindari ia melewatkannya sama sekali karena terlalu seru bermain. Ia juga bisa rewel maupun tantrum akibat kelelahan, namun tak ada suasana yang pas untuk beristirahat. Waktu ideal untuk berpergian adalah setelah si kecil bangun dari tidur siang dan menyantap makan siangnya.

Kenali isyarat si kecil

Anak balita yang sangat aktif sekalipun pasti membutuhkan waktu-waktu tertentu untuk mengisi kembali energinya, biasanya sih, saat pertengahan pagi atau sore hari. Ketika anak tampak mengantuk (seperti sesekali memejamkan mata atau tampak menjatuhkan diri), segera manfaatkanlah kesempatan tersebut untuk menidurkannya.

Berikan guncangan ‘lembut’

Si kecil belum juga mau terlelap memasuki jadwal tidur siangnya? Ini bisa menjadi opsi terakhirmu. Coba ajak ia berkendara. Misalnya, naik mobil. Setelah 15 menit sampai setengah jam perjalanan, perhatikanlah, apakah ia mulai tertidur? Guncangan lembut yang timbul saat berkendara sering kali membuat anak-anak, bahkan orang dewasa mudah terlelap.

Selamat mencoba!

Referensi: What To Expect The Second Year oleh Heidi Murkoff dan Sharon Mazel

(Febi/Dok. Pixabay)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.