Berpikir Jernih Saat Polah Si Kecil Memancing Emosi

By Febi Purnamasari | Published 4th March 2019

Tentu kita paham, ada sejuta alasan untuk tidak melakukannya terhadap anak (Dok. Shutterstock)

Ada kalanya kita refleks membentak anak ketika polahnya tak sesuai dengan harapan. Tentu kita paham, ada sejuta alasan untuk tidak melakukannya terhadap anak. Mulai dari memberikan contoh yang buruk kepada anak, mengikis harga diri Si Kecil yang tengah berkembang, sampai penyesalan orang tua kemudian. Terlebih, jika sang buah hati melakukan kesalahan yang sepele seperti menaburkan bedak di kasur atau tak sengaja memecahkan gelas saat hendak minum.

Lantas, bagaimana caranya supaya kita bisa berpikir jernih saat polah Si Kecil memancing emosi?

Pahami perkembangan anak

Menurut pengalaman pribadi, pengetahuan tentang perkembangan anak sesuai usianya sangat membantu saya mengelola emosi. Misalnya saja, ketika si kakak menaburkan bedak ke sebagian besar permukaan tempat tidur, saya berhasil menahan diri untuk tidak terpekik maupun membentak. Saya memang tergolong beruntung karena saat itu saya memahami bahwa anak usia tiga tahun sedang dalam masa bereksplorasi. Termasuk, kecenderungannya bereksperimen dengan benda-benda sekitar.

Melalui Keluarga Kita: Mencintai dengan Lebih Baik, Psikolog Najelaa Shihab menjelaskan bahwa memahami perkembangan anak berarti sensitif terhadap kepada kebutuhan anak, menerima hal-hal yang menjadi keunikan anak, dan bersikap positif dalam meresponnya.

“Saat orang tua memahami mana yang wajar dan tidak, reaksi dan hubungan dengan anak akan menjadi lebih mudah karena banyak hal dapat diprediksi dan diantisipasi,” jelas Najelaa dalam bukunya itu.

Tenangkan diri dan amati situasi

Pertama-tama, cobalah untuk menarik napas panjang dan hembuskan perlahan. Ketika Ayah atau Ibu berada dalam situasi yang emosional, mundurlah 1-2 langkah dan bayangkan dirimu tertinggal dari tempat pertama kali berdiri. Dengan begitu, kamu bisa melihat diri sendiri secara imajinatif dan melihat anak serta kondisi sekitar kalian sekaligus. Kamu berfungsi sebagai pengamat. Amatilah situasi itu, lihat diri sendiri yang ada di depanmu, dan berikan saran kepadanya mengenai cara bersikap dengan baik dalam situasi tersebut. Cara ini saya pelajari dari buku The Secret of Enlightening Parenting karya Psikolog Okina Fitriani.

Ungkapkan emosi dengan benar

Jessica Joelle Alexander dan Iben Dissing Sandahl, penulis The Danish Way of Parenting, menjelaskan bahwa kejujuran emosional adalah hal yang dibutuhkan anak-anak dari orang tua mereka. Anak selalu mengamati cara kita marah, senang, frustrasi, puas, dan sukses serta cara mengekspresikannya pada dunia. Kita pun harus mencontohkan kejujuran pada anak-anak dan membiarkan mereka tahu bahwa tidak masalah merasakan semua emosi yang dimiliki.

“Mengenali dan menerima semua emosi sejak dini, bahkan emosi paling sulit sekalipun, membuat anak menjadi lebih mudah untuk mengatur strategi bagi semua masalahnya,” jelas para penulis.

Namun, Psikolog Okina Fitriani mengungkapkan, banyak orang tua yang mempunyai hambatan menyatakan emosi dengan tepat.

Contohnya, ketika seorang ibu ketakutan melihat sang anak menyeberang jalan tanpa memperhatikan kondisi jalan, reaksinya adalah marah dan membentak. Semestinya, menurut Okina, ibu tersebut mengatakan, “Ibu takut melihat kamu menyeberang karena ibu takut kehilangan kamu, Nak.”

Berdamai dengan inner child yang terluka

Inner child adalah keadaan yang kita miliki saat ini baik pikiran maupun perasaan yang akarnya muncul dari masa kanak-kanak. Menurut Asep Haerul Gani, psikolog yang merupakan pakar inner child, kita bisa menemukan inner child yang terluka seperti ngambek, kecewa, penuh kemarahan, dan dendam. Begitu juga inner child positif seperti riang, gembira, kreatif, dan bijaksana yang bisa membantu kita mengatasi inner child terluka tadi.

Berikut adalah beberapa ciri bahwa Ayah atau Ibu memiliki masalah dengan inner child yang terluka,

  • Kita mengetahui suatu tindakan keliru, namun kita sering kali melakukannya secara otomatis.
  • Adanya perilaku orang tua terhadap anak yang mencetus penyesalan setelahnya. Ketika menyesali perbuatan, biasanya orang tua berikrar dalam hati untuk tidak mengulanginya lagi. Namun, di lain waktu orang tua khilaf melakukannya lagi.

Inner child yang terluka seakan mengambil alih energi dan mensabotase diri kita yang sekarang,” tambah Asep.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk berdamai dengan inner child yang terluka, antara lain

  • lihat ragam inner child kita dengan menuliskan pengalaman positif maupun negatif yang paling diingat seumur hidup dari usia 0 tahun hingga sekarang;
  • perlahan berusaha memaafkan diri sendiri yang terluka di masa lalu maupun orang lain yang pernah menimbulkan luka;
  • jika pola pengasuhan negatif telanjur tertanam dalam benak kita, mulailah belajar skema pengasuhan positif dari orang lain.

Untuk mempelajari lebih jauh tentang inner child dan cara menyembuhkannya, Parents bisa cek juga artikel Mengatasi Inner Child yang Terluka.

(Febi/Dok. Shutterstock)

Share This: