Batasan Screen Time pada Anak

By Febi Purnamasari | Published 3rd May 2018

 Orang tua perlu mengetahui rekomendasi dari AAP melalui kebijakan berjudul “Media and Young Minds” soal batasan screen time (Dok. Pixabay)

Gadget dan televisi. Dua hal yang mustahil lepas dari kehidupan manusia di era digital. Tak terkecuali orang tua dan anak mereka. Kedua media elektronik ini seakan sering menjadi ‘penyelamat’ para ibu untuk menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga mereka tanpa gangguan si kecil. Jadi, apakah penggunaan gadget dan televisi dapat ditoleransi? Apalagi, teknologi digital akan menjadi masa depan para bayi.

Tunggu dulu. Orang tua harus mengetahui rekomendasi dari American Academy of Pediatrics melalui kebijakan berjudul “Media and Young Minds” yang diterbitkan Oktober 2016.

Dampak kesehatan dan perkembangan anak

Kebiasaan menggunakan media digital dapat berpengaruh terhadap kesehatan dan perkembangan anak. Mulai dari obesitas, berkurangnya durasi tidur, serta perlambatan kemampuan kognitif, bahasa, juga sosial emosional. Sejumlah penelitian pun membuktikan, penggunaan media digital menyebabkan interaksi antara anak dan orang tua menurun.

Toleransi untuk keperluan video-chatting

AAP meminta orang tua untuk menghindari penggunaan media digital pada anak-anak di bawah 18 bulan kecuali untuk video-chatting (misal, untuk berkomunikasi dengan ayah atau ibu).

Pilih program berkualitas tinggi

Sementara, orang tua dengan anak usia 18-24 bulan yang ingin mengenalkan media digital disarankan untuk memilih program atau aplikasi berkualitas tinggi. Selain itu, orang tua sepatutnya mendampingi anak-anak ketika menggunakan gadget atau menonton televisi karena inilah cara terbaik. Di sinilah peran orang tua dalam membantu buah hati memahami hal-hal yang mereka lihat dan menerapkannya pada lingkungan sekitar.

Penggunaan media digital seorang diri harus dihindari. Selain itu, orang tua perlu mencegah aplikasi dengan konten yang mengganggu (disturbing) dan bernuansa kekerasan.

Jauhkan dari anak di bawah 18 bulan

Hindari program-program dengan tempo cepat karena hanya akan membuat balita kesulitan memahami kontennya. Selain itu, pemrosesan sinar dan gambar yang kerap berganti-ganti dalam televisi belum sempurna pada bayi. Kemampuan balita untuk memperhatikan, mengingat, dan menyimbolkan juga masih belum matang.

Dengan begitu, bayi dan balita tidak dapat belajar dari media digital tradisional sebaik interaksi langsung dengan orang-orang terdekatnya. Mereka juga akan kesulitan mentransfer wawasan dari media digital ke pengalaman tiga dimensi yang dirasakan langsung. Karena itulah, pengenalan media digital seperti televisi pada anak di bawah 18 bulan tak bermakna.

Jangan menjadikannya alat penenang

Hindari pemakaian media digital untuk menenangkan anak yang bosan, misal karena mengantre atau sedang dalam perjalanan. AAP mengkhawatirkan kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap ketidakmampuan anak-anak dalam mengembangkan kontrol emosi mereka.

Buatlah aturan tegas

Khusus untuk anak usia 2-5 tahun, batasi penggunaan media digital satu jam per hari dengan konten berkualitas tinggi disertai pendampingan orang tua. 

Berlakukan juga kebijakan tak ada penggunaan media digital satu jam sebelum tidur. Jauhkan peralatan elektronik dari kamar tidur anak.

Utamakan eksplorasi langsung dan interaksi sosial

Hal lain yang perlu menjadi catatan orang tua, balita di bawah 2 tahun membutuhkan eksplorasi langsung (hands-on exploration) dan interaksi sosial dengan orang-orang terdekat untuk mengembangkan kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial emosionalnya.

Jadi, betapapun sebuah program diklaim dapat mencerdaskan anak, interaksi antarmanusia jauh lebih unggul karena terbukti mampu menstimulasi otak bayi dan balita yang tengah berkembang pesat.

Tapi jika ibu dengan bayi benar-benar harus segera menyelesaikan sebuah tugas dengan fokus, penulis buku What To Expect The First Year, Heidi Murkoff dan Sharon Mazel, menyarankan agar durasi menonton dibatasi 10-15 menit saja dalam sehari. Jenis tayangannya pun harus memiliki cerita yang pendek, ya.

(Febi/ Dok. Pixabay)

Share This: